BANTAENG, BKM — Warga perumahan BTN Pa’jukukang, Desa Pa’jukukang, Kecamatan Pa’jukukang mengeluhkan bau yang menyengat dan mengganggu kesehatan dari area Pabrik PT Huadi.
“Terus terang, saya sakit kepala mencium bau tersebut. Kami juga tidak tahu apakah ini bauh limbah atau yang dari corfong,” ujar Deni, seorang IRT.
Menurutnya, setiap aroma tak sedap dari area pabrik seisi rumahnya gelisah karena kesehatannya terganggu.
“Pokoknya, kami sekeluarga sangat terganggu dan tidak tenang berada di rumah”, tandasnya.
Warga lainnnya, Asbar Wahyudi mengaku bau tak sedap meresahkan warga di sekitar BTN bersumber dari pabrik pengolahan bijih nikel milik PT Huadi Nickel Alloy.
“Sumber bau berasal dari Huadi”, katanya, Selasa (6/9).
Dipaparkan Wahyudi, walau jarak antara pemukiman warga BTN Pa’jukukang dengan pabrik pengolahan bijih nickel kurang tiga kilometer, tapi aroma tidak sedap tetap tercium saat terbawa angin.
“Kompleks perumahan berada di sebelah barat perusahaan. Baunya terbawa angin hingga pemukiman,” paparnya.
Sumber lain mengatakan, warga Bambalie, Desa Baruga, sekitar pabrik khususnya yang berprofesi sebagai pembuat batu merah, juga mengaku terganggu dengan bau tersebut. Bahkan, mereka berhenti beraktifitas ketika mencium bau yang menyengat itu.
Aktifis lingkungan Wahana Peduli Alam dan Lingkungan (WapalaP) Indonesia Bantaeng, Udin, mengatakan bukan hanya tercium sekitar BTN Pa’jukukang bau menyengat dari pabrik Huadi tercium hingga Pantai Lamalaka. “Saya sendiri pernah merasakan dampak bau tersebut ketika saya sedang beristirahat di pantai sana”, ujarnya.
Staf Humas PT Huadi Andi Resky Latippa tidak merespon ketika dikonfirmasi BKM terkait kelouhan warga BTN Pa’jukukan dan aktivis Wapala mengeluhkan bau yang bersumber dari area pabrik PT Huadi.
Kabag Hukum Setda Bantaeng, Muhammad Azwar mengatakan, sudah dirapatkan bersama Perseroda terkait dampak lingkungan PT Huadi Nickel Alloy. Adapun hasilnya jelas Azwar belum keluar.
“Kami belum terima hasil rapat dengan Perseroda”, tukasnya. (wam/C)
