Site icon Berita Kota Makassar

Penyebab Stunting Kekurangan Gizi Berlangsung Lama

MAKALE, BKM — Tim Percepatan Penurunan Stunting (TPPS) Tana Toraja bergerak melakukan aksi penanggulangan dan pencegahan. Sesuai hasil survei Status Gizi Indonesia, posisi Tana Toraja tinggi stunting mencapai 29,2 persen tahun 2021.

Demikian pula Data E.PPGBM (Elektronik, Pencatatan dan Pelaporan Gizi Berbasis Masyarakat) tahun 2022 angka stunting masih 16,25 persen.
Plt Kadis Kesehatan Tana Toraja, dr Rudhy Andi Lolo, Selasa (13/9) mengatakan
data tersebut menunjukkan Tana Toraja masih tinggi angka stunting sehingga melakukan penecgahan perlu kolaborasi multi sektoral.
Menurut Rudhy, stunting adalah gagal tumbuh akibat kekurangan gizi berlangsung lama, setelah bayi umur dua tahun baru kelihatan. TPPS Tana Toraja sudah melakukan pencegahan secara sporadis.

Meski demikian tidak tepat juga jika tinggi badan jadi ukuran stunting, sebab perilaku masyarakat hidup dipegunungan postur tubuh pendek tapi sehat fisik dan jasmani.
Diakui Rudhy, target WHO angka stunting dibawah 20 persen, namun Tana Toraja masih bertengger di posisi tinggi, sehingga perlu kerja ekstra TPPS melakukan pencegahan hingga kepelosok wujudkan target WHO tahun 2024 stunting 14 persen.
Tana Toraja memaksimalkan tekan stunting yang spesifik, telah dilakukan intervensi semua Organisasi Perangkat Daerah (OPD) secara keseluruhan. Bahkan sudah keluar Peraturan Bupati (Perbub) bagi Lembang (Desa) dan Kekurahan siapkan anggaran khusus penanggulangan dan pencegahan stunting, sebut Rudhy.
Rudhy tidak menampik luar biasa peran TP PKK Tana Toraja sebagai penggerak dan pendorong wujudkan penanggulangan stunting didaerah ini, meskipun serba keterbatasan. Namun kepiawaian ketua TP PKK Yariana Somalinghi, dan Wakilnya Erni Yetti Riman lakukan strategi jitu sehingga program tetap jalan baik pencegahan stunting, maupun wujudkan kabupaten sehat.

”Kita berharap dua program stunting dan kabupaten sehat Tana Toraja setelah dievaluasi endingnya sesuai harapan, ”ujar Rudhy.
Sebelumnya, Jelsi Natalia Marampa dari Kemenkes RI sambangi Tana Toraja lantaran angka prevalensi stunting 29.2 persen. Angka ini masih tinggi menurut WHO.
Jelsi Natalia juga serahkan alat antropometri kepada Dinas Kesehatan Tana Toraja, bahkan kunjungi Lembang Marinding, sebab sekitar 50 balita kategori stunting disana. Pernyebab tingginya angka stunting lantaran pemahaman masyarakat masih kurang pentingnya gizi seimbang bagi tumbuh kembang balita. (gus/C)

Exit mobile version