MAKASSAR, BKM — Pemerintah Kota Makassar akan melakukan budidaya maggot di setiap lorong wisata (longwis). Maggot atau belatung/ulat yang berwarna hitam merupakan larva dari lalat.
Kepala Dinas Lingkungan Hidup Makassar, Aryati Puspasari Abadi mengatakan maggot ini punya potensi ekonomi yang menjanjikan. Namun karena larva maggot ini mengonsumsi sampah organik, maka lorong wisata yang ingin budi daya harus mengoptimalkan bank sampah masing-masing. Sebab, bank sampah ini yang nantinya akan mengelola pangannya.
Aryati mendata ada 100 lebih lorong wisata yang memiliki bank sampah. Meskipun prioritas utama saat ini pada 15 longwis dahulu.
“Karena pembentukan bank sampah itu berasal dari inisiasi masyarakat. Kemudian nanti ditetapkan melalui SK lurah, lalu kami bina,” ujarnya.
Aryati menjelaskan selama ini bank sampah hanya menerima sampah anorganik. Sedangkan fokus tahun ini adalah mendorong penanganan sampah organik.
“Sampah yang diproduksi setiap hari paling banyak jumlahnya berasal dari sampah organik. Nilainya kurang lebih 55-56 persen dari sampah yang ada,” imbuh Aryati.
Aryati juga menjelaskan betapa bahayanya ketika sampah tersebut dibuang ke TPA tanpa diolah. Selain menyebabkan bau, juga akan menimbulkan gas metan, bahkan hingga efek gas rumah kaca.
Ia juga menjelaskan DLH masif mensosialisasikan olahan sampah organik. Salah satunya ialah pembudidayaan larva maggot di bank sampah.
“Jadi idealnya setiap rumah tangga di lorong itu kemudian disalurkan ke bank sampah, lalu sudah ada budidaya maggot, maka itulah yang menghabiskan sampah organik,” jelas Aryati.
Menurutnya, maggot akan memberikan dampak domino. Selain berkhasiat sebagai kompos, ia juga menimbulkan sirkulasi materi dari hasil ternak, sebagai pakan penunjang.
“Maggot juga memiliki nilai ekonomi tinggi karena menghasilkan minyak esensial. Kita juga kerja sama dengan Korea Selatan, berupa ekspor maggot dengan harga yang sangat kompetitif untuk dijadikan bahan kosmetik,” urainya.
DLH mengaku siap menyuplai maggot, baik dalam bentuk larva maupun telur. Itu juga disesuaikan dengan bank sampah masing-masing longwis.
“Tapi kalau misalnya mereka hanya mau di larvanya saja untuk menghabiskan sampah organik, kita juga harus menyesuaikan kondisi di lapangan,” terang Aryati.
Aryati mengaku dokumen pembebasan lahan telah dibuat oleh pihaknya. Hal tersebut dalam rangka memperluas jaringan budidaya maggot yang telah ada. “Karena kewajiban kami untuk menyiapkan dari awal sudah ada, sisa menunggu persetujuan anggaran dari TAPD seperti apa,” terangnya.
Sejauh ini sudah ada perusahaan dari luar negeri yang tertarik untuk membeli maggot yang akan dibudidayakan, yakni Entomo. Perusahaan ini berasal dari Korea Selatan yang bergerak di bidang pengolahan sampah dan merupakan mitra Pemkot Makassar untuk budidaya maggot di BSP Pacerakkang.
Pengusaha CEO Entomo Ki Hwan Park malah pertama bertemu langsung dengan Wakil Wali Kota Makassar Fatmawati Rusdi untuk membicarakan hal tersebut. “Budidaya maggot ini saya lihat progresnya sangat bagus, dan saya berharap busa berkembang di bank sampah yang lain,” kata Fatma.
Fatmawati menyampaikan salah satu kendala yang dihadapi pemerintah kota dalam pengembangan budidaya maggot adalah keterbatasan peralatan. Karena itu dia berharap sebagai mitra pemerintah kota, Entomo bisa menghibahkan peralatan untuk budidaya maggot di bank sampah lain yang ada di Makassar.
“Di Untia sudah melakukan budidaya maggot tapi masih konvensional. Saya berharap ini bisa dikembangkan. Kita mau diskusi dulu bagaimana bisa mendapatkan hibah ini,” tandasnya. (rhm)
