SATU lagi bukti bahwa dunia peagent bisa menjadi jalan untuk merintis karir. Hal itu dirasakan oleh Rahma Yani. Ia yang awalnya terjun di dunia entertaint, kini menjadi seorang karyawati di sebuah bank pemerintah. Sesekali masih terima job untuk dunia hiburan.
YANI, begitu sapaan akrab cewek berhijab kelahiran Makassar, 27 Januari 1997 ini. Hobi menyanyi, dengar musik dan hangout ini bekerja sebagai teller bank. Ia alumni Universitas Bosowa (Unibos) Makassar.
Prestasinya dari dunia peagent, yakni The Best Photogenic Duta Wisata Gowa 2017. Intelegenci Puteri Ramadhan 2017, dan terakhir sebagai Miss Grand Indonesia Sulawesi Selatan 2018. Ia juga pernah menjadi prsenter sebuah televisi swasta di Sulsel.
Hadir menjadi tamu siniar untuk kanal Youtube Berita Kota Makassar, Yani yang beralamat di Jalan Sabutung Baru, Makassar ini menuturkan kisah awal mula terjun di dunia model. ”Awalnya ikut fashion show di tahun 2016. Masih lomba-lomba biasa. Kadang dapat juara, biasa juga tidak dapat. Tapi dari situ saya dapat banyak teman. Banyak rekomendasi kegiatan juga,” ujarnya.
Di tahun 2018, yakni mengikuti pemilihan Miss Grand Indonesia. Ia mengaku hanya coba-coba ketika ikut ajang ini. ”Waktu itu saya sementara jalan sama teman. Dia salah satu finalis Miss Indonesia mewakili Gorontalo. Informasinya, Miss Indonesia akan membuat acara sendiri bernama Miss Grand Indonesia. Mereka memisahkan diri dan punya lisensi sendiri. Teman saya itu kemudian merekomendasikan saya untuk ikut,” terangnya.
Awalnya, Yani mengaku sempat ragu dan dilema. Perasaan insecure melingkupi dirinya. Ia berpikir bahwa kualitas perwakilan dari daerah lain pasti punya kelebihan.
”Setelah dipikir matang-matang, saya anggap ini kesempatan yang tidak bisa disia-siakan. Tidak semua orang bisa mendapatkannya. Akhirnya coba-coba untuk ikut,” imbuhnya.
Ia berkisah, ketika pertama meminta izin ke orang tua, awalnya tidak didiberikan. Namun, ia berusaha menjelaskannya dengan baik-baik. ”Saya sampaikan, ini kesempatan yang tidak semua orang bisa dapatkan. Dengan mengikuti pemilihan ini, saya bisa dikenal orang. Akhirnya ibu luluh dan mengerti apa yang saya lakukan,” jelasnya.
Mewakili Sulsel di tingkat nasional, Yani mengikuti pemilihan Miss Grand Indonesia di Jakarta. Di sana ia bertemu dengan orang-orang baru dan bersosialisasi dengan mereka. Terutama dengan perwakilan dari masing-masing provinsi.
”Bisa bertemu dengan orang yang biasa hanya dilihat di televisi dan orang-orang penting lainnya. Saya merasa kehidupanku telah berubah,” katanya.
Kisah lucu dan tak akan pernah dilupakan Yani terjadi pada rangkaian acara ini. Ketika itu ada sesi foto shoot di Medan. Seluruh finalis dibawa ke sana. Tujuannya untuk mengangkat dan mempromosikan wisata Danau Toba. Yani dan para finalis lainnya berada di Medan selama tiga hari.
”Saya sempat mengunjungi beberapa destinasi wisata di sana pakai selempang. Ada turis dari luar negeri yang kebetulan berkunjung. Dia minta berfoto dengan saya. Ini saya rasa lucu, karena sebelumnya kan kita yang biasa ajak turis untuk berfoto. Sekarang sebaliknya,” ungkap Yani sambil tertawa lepas.
Ketika menjalani karantina selama dua minggu pada sebuah hotel di Jakarta, Yani satu kamar dengan perwakilan Sulawesi Tengah. Keakraban di antara keduanya pun cepat terjalin. Yani merasa nyambung. Apalagi, teman barunya itu memintanya untuk tidak logat dalam berkomunikasi.
”Dia bilang ke saya, bicaranya seperti biasa saja. Tidak usah logat. Jadi kita bicara seperti kebiasaan sehari-hari saja,” ungkapnya.
Yani mengaku bersyukur bisa mengenal dunia model dan peagent hingga meraih prestasi. Sebab, dari sini ia dikenal banyak orang dan menjadi pintu baginya dalam meniti karir di bidang lain, yaitu dunia perbankan yang ditekuninya saat ini. (*/rus)
