Site icon Berita Kota Makassar

Kampanye Pengurangan Sampah Plastik di Sekolah

KEBIASAAN baik hendaknya diterapkan ketika masih belia. Termasuk dalam pengelolaan sampah, khususnya sampah plastik. Fildzah dan Naila melakukan hal itu, walau mereka baru duduk di bangku sekolah dasar.

NAMA lengkapnya adalah Fildzah Fadhilah Hamzah. Usianya kini baru 11 tahun. Bersekolah di SD 1 Lamappoloware, Kabupaten Soppeng.
Meski umunya masih muda, sejumlah prestasi telah direngkuhnya. Fildzah adalah penyandang gelar Runner Up 1 Preliminary Duta Lingkungan Kategori Pra Remaja Putri 2022
. Juara Duta Lingkungan Pra Remaja Putri 2022
. Serta Harapan III Putri Pariwisata Kategori Cilik B.
Demikian pula dengan Naila. Pemilik nama lengkap Naila Kamila ini adalah juara I Preliminary Busana Daur Ulang 2022. Runner Up 3 Duta Lingkungan Pra Remaja Kabupaten Soppeng 2022
. Putri pasangan H Farham dan Hj Rosdiana ini juga juara dua di sekolahnya.
Didampingi Andi Husunuddin Hizbi, keduanya menjadi tamu siniar untuk kanal Youtube Berita Kota Makassar. Fildzah dan Naila merupakan alumni dari ajang pemilihan yang dilaksanakan oleh Generasi Millenial Soppeng (GMB) bekerja sama dengan Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Soppeng. Hizbi yang merupakan pegawai di Dinas Lingkungan Hidup Soppeng juga menjadi pembina di GMB.

Dijelaskan Hizbi, pemilihan Duta Lingkungan 2022 merupakan yang pertama kali dilaksanakan di Soppeng. Finalis untuk pra remaja ada 16 orang. Mereka inilah yang kemudian dijadikan sebagai Duta Lingkungan di sekolahnya masing-masing.
Dalam pengakuannya, di awal mengikuti ajang ini Naila sempat deg-degan. Namun mampu mengatasinya dengan mengajak teman-teman finalis lainnya berkolaborasi.
Hal yang sama dialami Fildza. Berkat dorongan dan dukungan orang tua, ia lebih bersemangat mengikuti ajang lomba.

Diakui Hizbi, pemilihan Duta Lingkungan mengusung misi bagaimana mengurangi sampah, terutama sampah plastik yang ada di Kabupaten Soppeng. Karena itu, kepada para finalis, mereka dibekali materi tentang lingkungan. Selain itu, mereka juga mendapat materi tentang etika. Ada pula bekal public speaking serta catwalk. Sebab hasil dari pemilihan ini nantinya akan menjadi bintang iklan Dinas Lingkungan Hidup.
Sebagai rangkaian dari kegiatan tersebut, baru-baru ini dilaksanakan kampanye penggunaan tumbler bagi pelajar sekolah. Baik Naila maupun Fildzah menjadi ikonik di sekolahnya masing-masing. Bersama Paraduta lainnya, mereka diminta melaksanakan kampanye minimal satu kali seminggu di sekolah.
”Untuk kampanye tumbler, saya di sekolah mengajak teman-teman untuk membawa tumbler masing-masing dari rumah. Hasilnya, mereka langsung melakukannya,” ujar Fildzah.

Sementara Naila, ia bersama teman-temannya memanfaatkan botol plastik bekas untuk diisi lalu dijadikan tempat duduk, atau biasa disebut dengan ecobrick.
Diakui Hizbi, sekolah Nayla di SD 161 Karya Soppeng merupakan sekolah Adiwiyata berbasis lingkungan. Sementara sekolah Fildzah di SD 1 Lamappoloware merupakan sekolah Adipura dan Adiwiyata. Sekolah tersebut mengikuti instruksi bupati melalui program Jastrada (Kebijakan Strategis Pengelolaan Sampah Daerah). Program ini ditangani langsung oleh bupati untuk dilaporkan ke Menteri Lingkungan Hidup.
”Jadi pada intinya kita mengejar target pengurangan sampah plastik yang ada di Soppeng secara berkesinambungan. Salah satunya dengan hadirnya Duta Lingkungan. Apalagi saat ini tingkat konsumsi masyarakat Soppeng dengan menggunakan plastik tergolong tinggi. Ini menjadi PR bagi Duta Lingkungan,” terang Hizbi yang juga aktivis bank sampah Soppeng.

Sebagai Duta Lingkungan, Naila kemudian memotivasi masyarakat untuk menjaga lingkungan dengan tidak membuang sampah sembarangan. Demikian pula dengan Fildzah, ia mengajak teman-temannya untuk mendaur ulang sampah yang bisa didaur ulang.
”Sampahmu adalah tanggung jawabmu,” kata Fildzah dan Naila kompak.
Tak hanya kepada anak, orang tua di Soppeng juga diajak untuk peduli pada pengelolaan sampah, Untuk itu, salah satu bagian dari pemilihan Duta Lingkungan adalah peragaan busana daur ulang sampah plastik. Naila yang menjadi juaranya ternyata berkolaborasi dengan orang tua untuk menciptakan busana dari sampah plastik. Hal ini sejalan dengan program Kementerian Lingkungan Hidup untuk memiliah sampah dari sumbrnya, yaitu rumah tangga. (*/rus)

Exit mobile version