MAKASSAR, BKM — Karut marut masih terus melingkupi menjelang pelaksanaan Pekan Olahraga Provinsi (Porprov) XVII tahun 2022 di Kabupaten Sinjai-Bulukumba, 22-30 Oktober mendatang. Sejumlah pihak menyampaikan kekesalannya atas sikap KONI yang dinilai tidak serius dalam melaksanakan Porprov kali ini.
Sekretaris Umum (Sekum) Pengurus Provinsi (Pengprov) Persatuan Tinggu Amatir Indonesia (Pertina) Sulsel Sri Syahril, merupakan pengurus cabang olahraga yang getol menyoroti persoalan tersebut, khususnya pengalokasian anggaran. Bagaimana tidak, untuk cabor tinju yang akan dipertandingkan di Porprov membutuhkan dana kurang lebih Rp600 juta. Sementara yang didapat hingga saat ini baru Rp64 juta.
”Uangnya sudah saya pakai untuk membeli peralatan, seperti sarung tinju dan penutup kepala serta perangkat lainnya. Anggarannya Rp56,8 juta. Kita juga sementara memobilisasi ring tinju dari Makassar ke Sinjai. Biayanya itu kurang lebih Rp30 juta. Berarti sudah melebihi dari alokasi anggaran yang diberikan,” ungkap Sri, Selasa (18/10).
Menurut Sri yang sejak 12 Oktober lalu berada di Sinjai untuk melakukan persiapan pertandingan cabor tinju, jumlah itu belum termasuk untuk sewa lighting dari Makassar sebesar Rp25 juta. Juga sound system dengan nilai sewa Rp18 juta selama 10 hari pelaksanaan. Belum lagi obat untuk medis serta air mineral bagi atlet yang bertanding.
”Honor untuk perangkat pertandingan belum termasuk. Jumlah mereka cukup banyak. Bisa mencapai 100 orang. Kalau ditotal seluruhnya, dari alat hingga perangkat pertandingan seperti wasit hakim, dewan juri dan petugas lainnya, bisa mencapai Rp600 juta,” terang Sri. .
Ia kemudian merujuk pengalaman menggelar pertandingan tinju di Makassar yang bisa menghabiskan anggaran antara Rp700 juta hingga Rp900 juta.
”Namun, untuk urusan ini kami sebagai pengurus Pertina sudah berkomitmen sama-sama berkorban. Dengan terpaksa saya harus gadaikan sertifikat rumah dan BPKB mobil. Semoga Pak Gubernur dan Ketua KONI mengerti dengan kondisi ini,” tandas Sri.
Sebelumnya, foto Sri sempat viral memperlihatkan dirinya tengah memegang tiang dan tali rafia untuk dibuat menjadi ring tinju Porprov. Anggota Komisi E DPRD Sulsel Andi Anwar Purnomo mengomentari hal itu.
”Saya dari Komisi E dan juga selaku perwakilan representasi masyarakat dari daerah pemilihan Bulukumba-Sinjai sangat prihatin dengan kondisi persiapan penyelenggaraan Porprov di Kabupaten Sinjai dan Bulukumba. Apalagi ada kendala yang munvul,” ujarnya, kemarin.
Andi Anwar mengaku bahwa baru-baru ini dirinya melaksanakan kunjungan dapil, khusus spesifik melihat persiapan pelaksanaan Porprov di Bulukumba dan Sinjai. Di sana ia menemukan banyak kekurangan, baik pada kendala teknis maupun terkait penyelenggaraan.
Oleh karena itu, dirinya menyebut bahwa hal ini seolah yang diselenggarakan sebatas dalam hal pengguguran kewajiban saja untuk melaksanakan event empat tahunan Pemprov Sulsel.
“Saya lihat tahun ini sangat minim perhatian dari Pemprov. Kenapa saya bilang begitu? Kita bisa mengacu perihal anggaran yang disediakan jauh dari penyelenggaraan sebelumnya di Pinrang. Di Pinrang itu lebih tinggi anggaran yang disediakan padahal hanya satu kabupaten pelaksanannya. Sedangkan ini ada dua kabupaten, sementara anggarannya sangat minim,” ungkap putra mantan Bupati Bulukumba Andi Sukri Sappewali ini.
Legislator Fraksi Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) DPRD Sulsel, menuturkan bahwa Porprov 2022 terkesan dipaksakan. Padahal ia melihat dalam hal persiapan pelaksanaan, dua kabupaten yang bertindak selaku tuan rumah, yakni Bulukumba dan Sinjai sudah mengeluarkan kemampuannya semaksimal mungkin. Hanya saja, dukungan anggaran dari Pemprov sangat kurang. Karena itu sebagai anggota dewan dari dapil tuan rumah, dirinya sangat menyayangkan ini dan juga prihatin terhadap yang akan dilaksanakan karena ini event provinsi.
“Saya yakin seluruh kabupaten tidak akan mau jadi tuan rumah lagi event selanjutnya ketika mengetahui bahwa dukungan dari Pemprov sangat minim dari sisi dukungan anggaran,” tandasnya.
Batalkan Saja
Pengamat Olahraga Sulsel Andi Ilhamsyah Mattalatta kepada BKM, Selasa (18/10) mengatakan, bila mencermati kondisi yang berkembang dan bahkan menjadi keluhan dari beberapa Pengprov Cabor, maka seharusnya Pemprov Sulsel, KONI Sulsel, Pemkab Bulukumba dan Sinjai lebih mengedepankan logika berpikir yang cerdas dan menghilangkan gengsi yang semata untuk nama baik daerah masing-maisng.
Banyak pihak juga cukup maklum dengan kondisi keuangan daerah yang kurang memadai untuk dapat menggelontorkan sejumlah dana demi sebuah pelaksanaan Porprov. ”Jauh lebih bermanfaat APBD, dana penyelenggaraan Porprov difokuskan kepada pembinaan prestasi para atlet ketimbang menyelenggarakan Porprov tapi kemudian pascaPorprov, pembinaan tidak berjalan dengan baik. Bukankah untuk menuju ke PON XXI yang ditentukan lolos tidaknya seorang atlet pada Pra PON yang akan berlangsung tahun 2023 mendatang,” ujar Ilhamsyah, kemarin.
Lebih dari itu, tidak ada aturan bahwa seorang atlet harus lolos Porprov untuk bisa berlaga di even multisport PON. ”Kondisi prestasi olahraga Sulsel yang saat ini sangat jauh dari baik, bahkan “cukup” saja tidak, seharusnya membuat Pemprov dan KONI lebih mau membuka diri dan mau duduk bersama dengan Pengprov-pembina/pemerhati olahraga yang punya kompetensi pada pembinaan olahraga, disertai dengan keikhlasan demi nama baik Sulsel,” tandasnya.
Sementara Tekhnical Delegate Pengprov Forksi Sulsel Dirman saat dikonfirmasi BKM, Selasa (18/10) mengatakan masalah yang terjadi saat ini karena semua perlengkapan pertandingan sudah dikirim ke lokasi pertandingan. Dirman mengaku memang tidak ada keharusan bagi atlet harus tampil terlebih dahulu di Porda baru bisa tampil di Pra PON. ”Lebih bagus memang batalkan saja kalau begini kondisinya,” ujar Dirman.
Tekhnical Delegate Pengprov ISSI Sulsel Basri justru mengaku bingung dengan kondisi yang ada. ”Saya juga bingung,” katanya. (rif-wan)
