IMEJ yang tertanam di benak awam selama ini adalah mereka yang menjadi warga binaan di Rumah Tahanan (Rutan) merupakan orang jahat dan melakukan tindak kriminal. Siapa sangka, ternyata ada sebagian di antara mereka yang ‘dijebak’ hingga masuk bui, bahkan oleh teman baiknya sendiri.
CINDY Caroline, Misly Megautari Putri, dan Surya Algazali Akbar merupakan mahasiswa dari Fakultas Psikologi Universitas Negeri Makassar (UNM). Belum lama ini mereka melaksanakan Kuliah Kerja Profesi (KKP) di Rumah Tahanan (Rutan) Kelas I Makassar.
Ketiga mahasiswa ini berkuliah di semester VII namun beda kelas. Masuk ke Rutan, mereka membawa dua program bagi warga binaan. Masing-masing music theraphy dan morning positif. Pengalaman mereka bertiga ketika melaksanakan program tersebut dibahas dalam siniar untuk kanal Youtube Berita Kota Makassar.
Di awal wawancara, ketiganya lebih dulu ditanya tentang alasan memilih berkuliah di Fakultas Psikologi UNM. Menurut Cindy, ia memang sudah tertarik sejak duduk di bangku SMP. Ia ingin mengetahui ilmu yang mempelajari bagaimana orang bisa memahami orang lain dan juga diri sendiri.
Sementara Surya, mengaku dekat dengan orang-orang berlatar belakang prikologi ketika duduk di bangku SMA. Seperti wali kelas dan pembinanya di sebuah komunitas.
Sedangkan Misly, lebih tertarik psikologi karena dari pengalaman diri sendiri. Ia tergolong introvert. Untuk cerita ke orang-orang pasti susah dan berusah memendamnya sendiri. Dia maunya orang lain yang mengerti.
”Karena itu, saya sengaja mengambil psikologi agar orang yang seperti itu bisa terbantu. Ada beberapa kasus, mereka memilih self heart karena tidak tahu mau cerita ke mana. Akhirnya semua emosinya kembali ke diri sendiri,” tuturnya.
Tentang pelaksanaan KKP di Rutan, Surya menjelaskan lokasi tersebut sengaja dipilih karena mereka fokusnya psikologi. Orang yang diintervensi dalam pelaksanaan program merupakan warga binaan dari berbagai macam masalah hingga akhirnya masuk rutan. Yang ingin diketahui adalah dampak psikologis yang dialami setelah menjadi warga binaan.
”Awalnya sih takut. Di pikiran kita seperti di film, di dalam itu situsinya menakutkan. Tapi setelah masuk di dalam, banyak orang-orang yang bisa memberi pembelajaran tentang hidup. Apalagi untuk program kami masuk ke warga binaan kasus narkoba. Mereka terbuka dan bersedia menceritakan penyebab sampai masuk rutan. Bahkan ada yang memberikan wejangan dan nasihat kepada kami, jangan terlibat narkoba. Kalau ketemu teman jangan sembarangan menerima kalau ditawari sesuatu,” terang Cindy.
Untuk dua program yang dilaksanakan, terapi musik ditangani Cindy dan morning positif oleh Misly. Menurut Cindy, terapi yang diberikan terhadap warga binaan dilakukan dengan menggunakan musik. Mereka yang jumlahnya 19 orang ketika itu, diperdengarkan alunan musik. Tujuannya agar warga binaan merasa rileks dan emosinya bisa reda.
”Ini juga bisa dilakukan di rumah. Selain murah, juga efisien dan efektif. Bahkan kalau ada masalah, bisa dilakukan setiap malam,” ujar Cindy.
Untuk morning positif, Misly menyebut lebih ke self afirmation. Bagaimana kita memberikan kekuatan kepada diri kita sendiri. Sebab tidak ada orang yang bisa memberi kekuatan selain diri kita sendiri. Bagaimana pun dorongan dari orang lain kalau dari diri kita sendiri sulit berubah akan sulit terwujud.
”Self afirmasi efektifnya dilakukan di pagi hari. Kalau saya biasa melakukannya di depan cermin. Memberikan semangat kepada diri sendiri dengan mengucapkan, kami berhak bahagia hari ini. Kamu bisa menjalani hari ini dengan lebih baik,” jelas Misly.
Mereka ada yang di dalam rutan, menurut Milsy, biasanya membutuhkan dukungan. Namun, keluarga dan teman-teman yang ada di luar juga punya masalah masing-masing. ”Karena itu saya mengajak mereka bahwa kita bisa atasi masalah yang ada dari dalam diri kita sendiri. Untuk itu perlu memberikan semangat kepada diri sendiri,” imbuhnya.
Dari situlah kemudian kata-kata posifit diberikan kepada mereka sambil diiringi dengan musik. Ketika itu kalimat motiovasi pun diberikan. ‘”Saya berbicara kepada warga binaan bahwa setelah keluar dari sini, kalian akan menjadi orang-orang berharga. Dengan begitu mereka akan berubah,” terang Misly lagi, yang menyebut hal itu sebagai pemberian doktrin positif agar di masa depan menjadi lebih baik lagi.
Dengan apa yang dilakukan itu, sebagian dari warga binaan tersebut ada yang menangis. Mereka juga antusias mengikuti program ini karena diberikan games agar tidak monoton.
Selain terapi, menurut Surya, juga ada sesi wawancara yang dilaksanakan tiga sesi. Di pekan pertama mengulasi tentang permasalahan yang dialami warga binaan, perasaan yang dirasakan sebelum dan ketika berada di dalam rutan. Dilakukan pula coaching supaya mereka punya solusi menghadapi masalahnya.
”Intinya lebih mengarahkan, bukan memberi solusi. karena mereka punya jalannya masing-masing,” ujar Surya.
Dari sesi wawancara yang dilakukan, Cindy mendapati adanya warga binaan yang menggunakan narkoba karena pengaruh lingkungan dan ajakan teman. Meski sudah dilarang oleh keluarga ia tetap melakukannya.
”Selama menjalani konseling mereka tertarik untuk berbicara. Selama ini mereka tidak tahu kepada siapa bisa menyampaikan apa yang dirasakannya. Ending dari konseling ini, ketika jam besuk tiba, ada dari mereka yang meminta keluarga dan orang tua membawa buku dan pulpen. Buku itu dijadikan diari untuk mencatat apa yang dilakukan setiap hari di dalam rutan. Selain dengan konseling, mereka menyalurkan perasaannya di buku diari itu,” ungkap Cindy.
Oleh Surya, hal menarik didapatinya dari seorang warga binaan yang menjalani konseling. Ia sudah dekat dengan narkoba ketika masih duduk di bangku SMP. Awalnya hanya menjual dan mengedarkan, belum sampai pada tahap memakai.
Namun, setelah duduk di bangku SMA ia terpengaruh oleh teman-temannya. Jadilah dia pengedar sekaligus pengguna dengan ganti-ganti jenis narkoba yang dikonsumsi, hingga akhirnya ketagihan.
”Faktor ekonomi menjadi salah satu pemicunya. Orang tuanya juga tahu kalau anaknya seperti itu. Di sinilah pentingnya peranan orang tua dalam pengasuhan anak,” ungkap Surya.
Sementara Misly mendapati kisah yang lebih menarik. Seorang warga binaan yang ditemuinya dijatuhi hukuman kurang lebih empat tahun akibat ”dijebak” oleh temannya sendiri.
”Dia punya sahabat dari kecil yang sangat dipercayainya. Suatu hari sahabatnya itu meminta untuk diambilkan paket di tempat pengiriman barang. Dia pun memenuhi permintaan itu. Setelah mengambil paket, ia bertanya ke temannya mau dibawa ke mana. Temannya itu mengarahkan ke suatu tempat. Sesampainya di lokasi yang dituju ia bertemu dengan polisi dan menyerahkan barang itu. Ternyata paket tersebut berisi narkoba dalam jumlah besar,” terang Misly.
Menurut pengakuannya kepada Misly, warga binaan itu termasuk pekerja keras ketika berada di luar rutan. Akibatnya, ia sempat stres diawal menjalani hukumannya, bahkan nyaris bunuh diri.
”Apa yang Anda sesali ketika masuk di sini,” tanya Misly. ”Terlalu percaya pada orang, padahal itu teman baik saya sejak kecil,” ujarnya menirukan ucapan warga binaan tersebut.
Namun, ia mendapat hikmah dari proses hukum yang dijalaninya saat ini. Dirinya bisa lebih dekat dengan Yang di Atas. Karena ketika berada di luar rutan, ia jauh dari Tuhan dan sangat jarang salat. (*/rus)
