MAKASSAR, BKM — Pemerintah Kota Makassar dan Balai Prasarana Pemukiman Makassar menggelar pertemuan untuk membicarakan progres pembangunan Instalasi Pengelolaan Air Limbah (IPAL), Kamis (20/10) di Balai Kota Makassar, Jalan Ahmad Yani.
Pertemuan tersebut dimanfaatkan Wali Kota Moh Ramdhan Pomanto untuk menyampaikan uneg-uneg warga yang merasa kurang nyaman berkendara selama proyek IPAL dikerjakan. Danny menilai proses pengerjaan IPAL di lapangan sangat semrawut. Air buangan hasil galian tanah merembet ke mana-mana.
Selain itu, arus lalu lintas jadi semrawut sehingga menimbulkan kemacetan di titik-titik tempat proyek tersebut berlangsung. “Saya berharap pihak balai bisa memperbaiki sistem konstruksi yang lebih bersih, lebih bagus. Ada petugas yang bertugas memperlancar lalu lintas. Jangan airnya dibuang sembarangan,” ujar Danny.
Selain itu, dia juga mengingatkan kepada balai agar merecovery jalan yang sudah digali sesuai kondisi semula. Jangan sampai ditinggalkan begitu saja sehingga terkesan kumuh.
“Saya minta kasih satu contoh jalan. Setelah diperbaiki jalannya bagaimana nanti jadinya. Baru kita sampaikan ke masyarakat, jalannya kembali mulus sehingga kita tidak usah khawatir,” tambah Danny.
Dia mengaku cukup banyak diserang lewat medsos terkait pengerjaan IPAL. Apalagi saat ini sudah mulai masuk tahun politik.
“Persoalannya kita masih tahun politik. Jangankan yang buruk, yang baik saja dikasih buruk. Maka tekanan bertambah kuat,” ungkap Danny.
Dia meminta pelaksana IPAL, termasuk balai untuk rajin-rajin memantau medsos guna melihat respons masyarakat terhadap pengerjaan proyek ini.
Pada dasarnya, lanjut Danny, pihaknya sangat mendukung hadirnya proyek IPAL di Losari. Apalagi ini merupakan salah satu program strategis nasional.
Namun, bagi seluruh pihak yang terlibat dalam pengerjaan proyek ini, juga harus mempertimbangkan aspek respon masyarakat.
Dia mengaku sempat ditelepon oleh dua jenderal yang komplain kenapa kondisi jalan di Makassar jadi seperti itu. “Nanti saya jelaskan. Sebenarnya itu bukan proyek Pemkot Makassar, namun langsung pusat. Jadi minta tolong diseriusi ini keluhan,” tegasnya.
Sesuai dengan komitmen schedule yang sudah ada, diharapkan proyek ini sudah bisa rampung sesuai jadwal, yakni pada Februari 2023 mendatang. “Deadline bulan Februari 2023. Jadi paling tidak jalan yang sudah dikerja untuk IPAL bisa diperbaiki sekarang,” tandas Danny.
Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) Sanitasi Satuan Kerja Pelaksanaan Prasarana Permukiman Wilayah II Sulsel Setia Dhinor menjelaskan, untuk pengerjaan IPAL ditarget selesai pada Februari 2023 mendatang. Sementara untuk pemasangan jaringannya sesuai jadwal yakni pada Juni 2023. “Secara keseluruhan akan selesai pada bulan Juni 2023,” ucapnya.
Satuan Kerja Pelaksanaan Prasarana Permukiman Wilayah II Sulsel harus mengembalikan kondisi jalan seperti semula. “Kalau recovery kita target bulan Maret, karena akan terus kita evaluasi sebelum menyerahkan pengelolaan kepada Pemkot Makassar,” ujarnya.
Proses perbaikan, kata Setia Dhinor, sudah dilakukan di beberapa titik, khususnya di wilayah anjungan Pantai Losari. Jalan-jalan rusak tersebut akan diperbaiki secara pelan-pelan, termasuk di Jalan Ratulangi sebagai jalan provinsi.
“Mungkin di November kita sudah bisa recovery di Jalan Ratulangi dan Lanto Dg Pasewang karena di sana sudah mau selesai,” paparnya.
Kepala Balai Pra Sarana Pemukiman Sulsel Ahmad Ashiri, menjelaskan kegiatan Metropolitan Sanitation Management Investmen Project (MSMP) Kota Makassar ini terbagi dalam lima paket kegiatan. Tiga paket di antaranya dilaksanakan menggunakan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN). Sementara dua lainnya dibiayai oleh LOAN yang bersumber dari Asean Development Bank (ADB).
Total jaringan perpipaan yang dikerjakan sekitar 38.068 meter atau 38 km lebih. Sejauh ini, progres kegiatan sudah berada pada kisaran 80-an persen. Diharapkan pada 2024 mendatang, proyek ini bisa diresmikan langsung oleh Presiden RI Joko Widodo. (rhm)
Pengelolaan Diserahkan
ke PDAM dan BLUD
PROYEK IPAL Losari ditargetkan rampung pada Februari 2023 mendatang. Kendati sudah rampung, pihak Balai Besar Prasarana Pemukiman Wilayah Sulsel tidak melepas proyek ini begitu saja.
Berbeda dengan proyek lain, IPAL ini butuh pemeliharaan dan pengelolaan lebih lanjut. Nantinya, instalasi tersebut butuh manajemen tersendiri untuk mengelola limbah dari rumah tangga.
Limbah yang biasanya ditampung di septik tank akan dialirkan melalui sistem pipanisasi IPAL hingga ke lokasi pengelolaannya di kawasan Tanjung Bunga.
Kepala Balai Prasarana Pemukima Wilayah Sulsel Ahmad Ashiri, mengatakan selama setahun pascaproyek ini rampung, akan ada pendampingan yang diberikan kepada Pemkot Makassar agar infrastruktur ini bisa berjalan baik.
Terserah nantinya Pemkot Makassar akan mempercayakan pengelolaan IPAL ini ke UPTD ataupun Badan Layanan Umum Daerah (BLUD) ataupun perseroda yang mampu.
“Jadi kita nanti akan lakukan alih teknologi selama setahun mendampingi cara pengelolaan IPAL ini ke manajemen yang dipercaya Pemkot untuk itu,” jelasnya.
Wali Kota Makassar Danny Pomanto mengatakan, pengelolaan IPAL Losari akan dipercayakan ke PDAM dan Badan Layanan Umum Daerah (BLUD).
PDAM mengelola jaringannya karena sudah ada pengalaman, sementara BLUD menjadi perencana acara atau pabriknya. “Tadi (kemarin) dijelaskan ada beberapa kota yang terapkan. Medan pakai PDAM tapi peralatannya tak secanggih kita. Terus, Yogya pakai UPT, juga peralatannya tak secanggih kita. Teknologi kita sama dengan Jakarta. Dia pakai BUMD,” terangnya.
Dikonfirmasi terpisah, Perusahan Daerah Air Minum (PDAM) Kota Makassar menyatakan siap mengelola IPAL Losari. PDAM Makassar sedang melakukan persiapan untuk menyambut amanah tersebut jika telah diserahkan ke Pemkot.
Direktur Air Limbah PDAM Makassar Ayman Adnan mengatakan, PDAM sekarang ini fokus pada perampungan infrastruktur. Kemudian penyiapan Sumber Daya Manusia (SDM). Sejauh ini sudah ada 63 orang yang siap untuk dilatih.
“Mereka akan dilatih untuk menjadi tenaga operasional dalam mengelola IPAL Losari. 63 orang tersebut sesuai dengan permintaan atau sesuai dengan kualifikasi,” ucap Ayman.
Kualifikasi yang dibutuhkan oleh pihak balai sudah siapkan, karena PDAM memiliki tenaga mempuni dan jumlah yang mempuni untuk memenuhi kualifikasi tersebut. Di samping itu, PDAM juga sudah menyusun tim penetapan air limbah, sehingga mereka siap melakukan penyesuaian.
“Itu sudah berjalan dua minggu ini, dan terus bekerja. Sekarang sudah ada beberapa opsi untuk kita tawarkan ke pemerintah kota terkait tarif,” paparnya.
Pada dasarnya, PDAM siap diberi amanah untuk mengelola IPAL Losari. PDAM akan berusaha semaksimal mungkin agar tidak terjadi kerugian dalam proses pengelolaan IPAL, melainkan menjadi sumber pendapatan baru.
“Kami lagi susun formasi lengkap supaya ketika IPAL Losari diserahkan pengelolaannya ke PDAM, perusahaan tidak merugi,” tandasnya.
“Itu sementara kita buat formasinya. Termasuk opsi subsidi dari APBN, sambil perlahan-lahan berdiri dan betul-betul IPAL ini tidak hanya menjadi masalah, tetapi juga menjadi sumber pendapatan baru,” sambungnya. (rhm)
