Site icon Berita Kota Makassar

Kualitas Produksi Garam Maros Belum Optimal

MAROS, BKM — Produksi garam yang dilakukan para petani garam di Kabupaten Maros diakui belum baik. Begitu juga kualitasnya belum optimal. Tak heran jika daya beli masyarakat atas garam Maros masih sangat rendah.

Hal ini diakui Kepala Dinas Kopurindang Kabupaten Maros, Towadeng. Kepada wartawan di sela kegiatan kunjungan Diskopurindag ke Balai Peneliti Garam Universitas Hasanuddin (Unhas), Jumat (21/10), Towadeng mengatakan, petani garam di Maros masih perlu pembinaan lebih baik lagi.
”Kami sengaja berkunjung ke Balai Peneliti Garam Unhas ini untuk sharing dan berdiskusi agar kualitas dan kuantitas petani garam di Kabupaten Maros dapat meningkat. Kunjungan ini sebagai tindak lanjut dari arahan bapak Bupati Maros Chaidir Syam sebagai langkah mengoptimalkan pengembangan sentra garam di Kabupaten Maros,” jelas Towadeng.

Dikatakan Towadeng, bersama sejumlah stafnya, dirinya berkoordinasi dengan tim peniliti garam Unhas guna meningkatkan kualitas produksi para petani garam di Maros. ”Setelah kunjungan ini, kami akan melakukan pembinaan serta pelatihan kepada para petani garam agar kualitas garam petani kita bisa meningkat meski lahan yang digunakan tidak seluas lahan penggaraman yang ada di Kabupaten Jeneponto,” kata Towadeng.
Sementara itu, Ketua Tim Peneliti Garam Unhas, Dr Indah Rahayu, mengatakan, kualitas garam digolongkan menjadi dua bagian, yakni garam konsumsi dan garam industri. Diakui Indah, pengembangan garam di Maros selama ini adalah pengembangan golongan garam konsumsi dengan memanfaatkan lahan petani tambak yang kekurangan air di musim kemarau.

”Kami berharap untuk ke depannya dengan adanya pendampingan serta kolaborasi kepada petani garam di Maros, maka jumlah produksi garam konsumsi kualitas SNI dapat mencukupi kebutuhan pasar di Maros serta dapat bersaing dengan kabupaten penghasil garam lainnya,” kilah Indah.
Dikatakan, sebagai negara dengan garis pantai yang sangat luas, Indonesia masih termasuk sebagai golongan negara yang masih kekurangan garam. Hal tersebut bukan karena jumlah produksi garam yang dihasilkan sedikit, namun karena jumlah produksi garam yang belum sesuai spesifikasi kebutuhan masyarakat alias masih rendah.
”Kami sangat berterimakasih atas perhatian bupati Maros, bapak Chaidir Syam atas kunjungan ini. Khususnya keseriusan Pemerintah Kabupaten Maros melakukan pengembangan garam yang tentunya diharapkan berkualitas,” tambah Indah. (ari/c)

Exit mobile version