TIDAK ada seorang menginginkan dirinya lahir dalam keadaan cacat. Juga, tidak ada seorang ibu ingin atau membayangkan sekalipun melahirkan anak yang cacat. Semua ingin berproses sempurna dan baik-baik saja.
Tapi jika sudah Tuhan yang berkehendak, maka tidak ada seorang bisa menolaknya. Manusia hanya bisa pasrah dan meminimalisir keadaannya.
Ada yang memilih mengisolasikan anaknya dari pergaulan dengan anak lainnya. Ada juga yang tetap membiarkan anaknya bergaul meski dalam situasi anaknya mendapat cibiran dari anak lainnya. Sehingga pada akhirnya membuat si anak jadi rendah diri.
Dan itulah yang dialami Rahmad Maulizar. Pemuda asal Meulaboh, Aceh Barat, Provinsi Aceh ini harus mengalami rasa rendah diri selama bertahun-tahun lantaran bibir sumbing yang dideritanya sejak kecil.
Rasa rendah diri itu membuat Rahmad Maulizar merasa canggung bersosialisasi dengan masyarakat sekitarnya. Namun orangtuanya selalu memberi semangat. Hingga akhirnya Rahmad Maulizar mulai menemukan jati dirinya. Secara perlahan, dia mulai membuka diri untuk bergaul dengan lingkungannya.
”Terus terang menderita bibir sumbing itu sangat tidak enak. Membuat kita jadi rendah diri. Kita juga susah untuk bergaul. Sehingga untuk mencapai keberhasilan juga susah,” ujar Rahmad Maulizar penerima penghargaan Semangat Astra Terpadu Untuk (SATU) Indonesia Awards 2021 yang dipersembahkan PT Astra International Tbk, sesaat setelah dinobatkan sebagai salah satu penerima SATU Indonesia Awards bersama sembilan pemuda lainnya dari berbagai daerah di Indonesia.
Rahmad menerima penghargaan untuk bidang kesehatan. Dia dinobatkan sebagai ‘Pemberi Senyum dan Harapan Baru untuk Anak Sumbing’.
Rahmad dengan penuh semangat menceritakan bagaimana sampai dirinya begitu termotivasi untuk memberi semangat kepada mereka yang juga menderita bibir sumbing seperti dirinya. Sehingga mereka bisa move on dan bangkit dari rasa rendah diri.
”Saya sebelumnya berterimakasih dan bersyukur kepada kedua orangtua saya yang selalu mendoakan saya. Juga kepada teman-teman yang telah mendukung dan mendorong saya untuk tetap eksis.Saya juga menyampaikan terimakasih kepada Yayasan Smile Train Indonesia yang tetap konsisten dalam membantu anak-anak penderita bibir sumbing untuk tetap senantiasa mendapatkan senyum baru dan harapan hidup barunya,” tutur Rahmad.
Dukungan yang diterimanya dipandang sebagai pelecut semangat untuk selalu menyebarkan kebaikan dan motivasi kepada anak-anak agar mereka tidak canggung dan rendah diri lagi.
Semangatnya ini mendorong Rahmad
mendedikasikan diri sebagai seorang relawan. Rahmad sudah mulai melakukan aktivitas sebagai relawan bibir sumbing sejak sebelas tahun lalu. Tepatnya ditahun 2011.
Rahmad menuturkan bagaimana getirnya menjadi seorang penderita bibir sumbing. Apalagi jika itu dialami ketika masih usia kanak-kanak.
Untuk bisa mendapatkan kondisi bibir nyaris sempurna seperti semula. Juga sudah bisa berbicara dengan jelas dan dimengerti orang lain, bukanlah perkara mudah bagi seorang Rahmad.
Dia harus menjalani operasi sebanyak lima kali. Operasi terakhir dilakukan melalui bantuan Yayasan Smile Train Indonesia. Dan gratis. Dari keberhasilan operasi yang dilakukannya ini, sehingga Rahmad mendedikasikan dirinya menjadi salah seorang relawan membantu dan mengajak anak-anak di kampung halamannya, Aceh, untuk tidak takut menjalani operasi bibir sumbing.
”Dulunya saya juga mantan pasien penderita bibir sumbing. Saya sendiri juga merasakan bagaimana getirnya menjadi seorang penderita bibir sumbing. Bagaimana kita bisa meraih keberhasilan kalau kita sendiri merasa tidak nyaman dengan penampilan wajah kita. Maka salah satu kunci suksesnya adalah percaya diri,” tutur Rahmad.
Dari apa yang dirasakan selama bertahun-tahun menjadi seorang penderita bibir sumbing hingga akhirnya membangkitkan semangat kepada dirinya untuk melakukan operasi bibir sumbing. Tentunya dengan harapan agar dirinya bisa merasa nyaman dan percaya diri saat bertemu dengan orang lain.
”Kehadiran Yayasan Smile Train Indonesia di Aceh, betul-betul telah memberikan dampak cukup besar kepada anak-anak Aceh yang menderita bibir sumbing. Karena dari hasil operasi bibir sumbing yang dilakukan, telah membuat penampilan anak-anak Aceh mantan penderita bibir sumbing jadi berubah lebih baik dan lebih percaya diri,” terang Rahmad.
Rahmad pun mengajak kepada anak-anak muda di seluruh tanah air untuk bisa memberi manfaat kepada orang banyak.
”Semangat untuk saling bantu janganlah pudar. Semangat untuk saling bantu kepada anak-anak, tetangga atau lingkungan kita yang membutuhkan bantuan kita,” pesan Rahmad.
Jadikan Diri Sebagai Contoh
Dengan tampilan apa adanya, Rahmad mendatangi perkampungan-perkampungan penduduk mengajak para penderita bibir sumbing maupun keluarganya untuk berkenan mengikuti operasi bibir sumbing di Rumah Sakit Malahayati, Banda Aceh.
Rahmad menyampaikan kalau operasinya tidak dipungut biaya alias gratis. Namun itu pun kadang tidak membuat keluarga penderita langsung tertarik. Namun Rahmad tidak patah semangat. Dia terus memotivasi mereka. Bahkan, dia tidak sungkan-sungkan menjadikan dirinya contoh sebagai mantan penderita bibir sumbing.
”Apakah bapak atau ibu tidak ingin anaknya hidup normal dan lepas dari rasa rendah diri. Saya sudah merasakannya hidup dalam perasaan tidak percaya diri lantaran bibir sumbing. Namun, setelah saya menjalani operasi, percaya diri saya kembali bangkit,” begitulah kata-kata yang sering dilontarkan Rahmad saat menyambangi rumah keluarga penderita bibir sumbing.
Penderita bibir sumbing di Aceh sendiri, seperti dilontarkan Rahmad kepada sebuah stasiun televisi di Aceh, setiap pekannya ada dua sampai tiga orang anak terlahir dalam keadaan bibir sumbing.
Sungguh sangat mengiris hati. Seorang anak yang baru lahir sudah harus menanggung beban begitu berat. Menderita bibir sumbing. Bisa dibayangkan betapa susahnya si anak saat menyusu ke ibunya. Atau pun ketika disuapi makanan oleh ibunya. Anak akan mudah tersedak dan susah bernafas.
Dan ketika seseorang menderita bibir sumbing, maka bukan saja bibirnya yang bermasalah. Juga lelangitnya. Karenanya, anak akan susah bicara dengan sempurna.
Jika seorang ibu melahirkan anak yang bibirnya sumbing, tidak perlu risau dan jadi rendah diri hingga mengucilkan anaknya dari lingkungannya. Karena bibir sumbing bukanlah aib.
Apalagi, untuk mengoperasi seorang anak yang mengalami bibir sumbing sejak lahir, sudah bisa dilakukan ketika anak sudah berusia tiga bulan dengan berat badan lima kilogram. Sedang untuk operasi lelangit atau celah langit sudah bisa dilakukan saat anak berusia sembilan bulan dengan berat badan 10 kilogram.
Jadi seorang anak yang terlahir dengan bibir sumbing, maka seorang ibu harus secepatnya mengambil inisiatif mengoperasi anaknya. Karena ketika dibiarkan berlarut-larut, secara tidak langsung akan memengaruhi 1.000 hari usia keemasan anak.
Menolak Karena Biaya Lain
Lantas mengapa banyak keluarga penderita bibir sumbing menolak anggota keluarganya dilakukan operasi. Ternyata bukan semata karena memikirkan biaya untuk operasinya itu sendiri. Tapi mereka juga memikirkan biaya-biaya lain yang mungkin timbul.
Semisal biaya transportasi dan akomodasi yang harus dipersiapkan untuk menuju ke tempat operasi dan selama dalam proses pemulihan paska operasi. Belum lagi biaya untuk keluarga yang ditinggalkan di rumah. Terutama mereka yang berdiam di pelosok.
Karena ketika mereka membawa salah seorang anggota keluarganya untuk operasi, maka ada anggota keluarga lain yang ditinggalkan di rumah. Juga, salah seorang dari orangtua penderita tentu harus rela tidak bekerja meski hanya satu atau dua hari.
Apalagi jika mereka tergolong pekerja bukan penerima upah atau pekerja serabutan. Artinya, dia hanya bisa mendapatkan uang kalau dia datang bekerja.
Sehingga banyak di antara mereka memilih pasrah menerima kenyataan anaknya tidak dioperasi di saat usia masih dini. Mereka sepertinya menyampingkan peluang anggota keluarganya bisa memiliki bibir nyaris sempurna sama seperti orang yang tidak pernah mengalami bibir sumbing, kalau operasi dilakukan ketika anaknya masih berusia balita.
Namun bukan Rahmad namanya kalau langsung patah semangat ketika menerima penolakan. Pengalaman selama lebih dari sepuluh tahun sebagai pekerja sosial di yayasan untuk membantu para penderita bibir sumbing di Aceh, telah mengajarkan banyak hal terhadap lelaki kelahiran tahun 1993 ini.
Kerja keras dan kerja ikhlas yang dilakoni bapak dari seorang anak ini tidaklah sia-sia. Tidak kurang dari lima ribuan anak di Aceh kembali bisa tersenyum ceria dan lepas setelah menjalani operasi.
Adanya dukungan dari sejumlah pihak untuk berkolaborasi, seperti dari pemerintah daerah di Aceh, TNI, Polri, organisasi kemasyarakatan, termasuk dari Universitas Teuku Umar tempat Rahmad meraih gelar sarjana pada program studi ilmu administrasi negara, membuat pelaksanaan operasi bibir sumbing berjalan lancar.
Berbuah Manis
Komitmen yang dibangun Rahmad menjadi seorang pekerja sosial untuk para penderita bibir sumbing selama bertahun-tahun, khususnya yang ada di Aceh, tidak saja menarik perhatian dari panitia SATU Indonesia Awards tahun 2021.
Aktivitas Rahmad Maulizar menjadi pekerja sosial yang harus mendatangi dari satu desa ke desa lainnya di Aceh, juga tidak luput dari pemberitaan media, baik di lokalan Aceh maupun media luar Aceh dan nasional.
Apalagi, kedatangan Rahmad di setiap desa maupun perkampungan untuk melakukan pendataan penderita bibir sumbing sekaligus juga mengajak mereka agar mau dioperasi, senantiasa disambut masyarakat setempat dengan perasaan senang.
Bagi mereka, Rahmad adalah sosok pahlawan kemanusiaan yang telah membawa kebahagiaan tidak saja bagi mereka yang telah terbebas dari bibir sumbing. Tapi juga bagi keluarga mantan penderita bibir sumbing.
Kekurangan yang pernah dulu dirasakan Rahmad Maulizar selama bertahun-tahun, kini telah berubah menjadi sebuah kelebihan. Rasa rendah diri yang sempat bergelayut di hatinya, kini sirna dan terkubur dalam-dalam.
Keikhlasan dan loyalitas Rahmad dalam melakukan aktivitas sosialnya telah mengajarkan bahwa kekurangan yang dimiliki bukan untuk disesali, apalagi ditangisi.
Justru kekurangan bisa menjadi modal besar untuk berbuat lebih baik dan bermanfaat, tidak saja kepada diri sendiri dan keluarga, juga kepada masyarat banyak.
Kebaikan dan kerja ikhlas yang ditabur selama bertahun-tahun, kini berbuah manis. Ribuan anak di Aceh, kini telah bisa tersenyum lepas dan ceria.
Apa yang dilakukan Rahmad Maulizar sejalan dengan Semangat Astra Terpadu Untuk Indonesia. (amiruddin nur)
