Site icon Berita Kota Makassar

Riska Penjual Serbet Alas Panci di Pasar Pabaeng-baeng

Nasib dan garis tangan semuanya telah diatur oleh sang Maha Pencipta. Cobaan dan kesuksesan juga selalu saja saling beriringan, tinggal apakah manusia mampu menjalaninya atau tidak. Seperti halnya nasib yang dialami Riska bocah penjual serbet atau alas panci berupa kain.

EDITOR: WARTA SHALLY HIDAYAT

Riska sejak kecil harus dituntut untuk bisa mendapatkan uang dengan cara berusaha, semua impiannya sebagai anak sebayanya yang hanya menghabiskan waktu bersekolah dan bermain itu tergadaikan dengan serbet yang ada di tangannya.
Saat ditemui penulis di pasar tradisional Pasar Pabaeng-baeng, Riska tampak serius menawarkan serbetnya kepada ibu-ibu yang melintas dan singgah membeli kebutuhannya di pasar itu. Usianya yang masih 10 tahun itu,membanting tulang demi memenuhi
kebutuhan hidup sehari-hari.

Alas panci yang ia jual itu adalah milik tantenya yang berdomisili di Jalan Andi Tonro. Tanpa menggunakan alas kaki ia berjalan menelusuri jalan demi jalan, panas kepanasan hujan kehujanan.
“Alas panci saya jual Rp10.000/ 6 lembar. Jika laku saya hanya dapat uang jajan Rp2.000 saja. Itupun kalau ada yang laku. Kadang dalam sehari tidak ada yang laku sama sekali. Kalaupun laku paling banyak saya dapat Rp30 ribu,” ujar Riska sambil membelai rambutnya yang tampak sedikit kuning.

Saat ini Riska putus sekolah. Ia hanya sekolah sampai kelas 6 SD. Sejak ayahnya meninggal dunia Riska tinggal bersama neneknya di Jalan Rajawali dan disekolahkan hingga kelas 6 SD. Namun sang nenek juga telah meninggal, kini Riska tinggal bersama tantenya di Jalan Andi Tonro. Karena itu Riska putus sekolah sebab tantenya juga tidak mampu membiayai keperluannya dan ia hanya bisa membantu tantenya berjualan alas panci tersebut, demi memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari.
Ditanya soal ibunya, Riska mengaku ibunya juga bekerja serabutan dan belum juga bisa memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari.”Ibu saya kerja memungut sampah. Pendapatannya juga tidak dapat memenuhi kebutuhan hidup apalagi harus membiayai saya bersekolah,”jelas Riska.
Riska hanya berharap keberuntungan hidupnya akan ia bisa nikmati nantinya, sebab kata Riska rezeki semuanya datang dari Allah selama hambanya berusaha.(pkl1)

Exit mobile version