MAKASSAR, BKM — Kasus membuang bayi yang diperkirakan hasil hubungan gelap di Kota Makassar kian memprihatinkan. Bahkan pada Senin (21/11), tercatat ada dua penemuan bayi malang tak berdosa di tempat berbeda. Mereka sudah dalam keadaan tak bernyawa.
Penemuan batu pertama pada pukul 09.25 Wita. Lokasinya di Kompleks Perikanan, Jalan Balang Baru, Kecamatan Tamalate. Sesosok tubuh mungil berjenis kelamin laki-laki ditemukan oleh warga setempat.
Yang kedua pada pukul 12.30 Wita. Kali ini berlokasi di pinggir kanal Rappokalling Timur, Kelurahan Rappokalling, Kecamatan Tallo.
Di Kompleks Perikanan, ada beberapa saksi di TKP yang menemukan bayi. Pertama seorang perempuan bernama Mariati (62). Ia merupakan ketua RT, warga Jalan Tanggul Patompo. Kemudian saksi Mansyur (41), petugas kebersiham yang berdomisili di Jalan Balang Baru. Selanjutnya, M Tio Wahyudi (20), tinggal di Kompleks Perikanan, Jalan Balang Baru, serta M Nuralim (20) yang juga warga Kompleks Perikanan.
Dalam keterangannya kepada petugas, Mariati menjelaskan bahwa saat itu dirinya sementara menyapu halaman. Ia melihat gundukan tanah yang menyerupai kuburan. Di atasnya terdapat lilin yang sudah dibakar, bunga pandan serta batu.
Karena merasa curiga, selanjutnya Mariati memanggil Mansyur. Ia meminta Mansyur mengecek gundukan tanah tersebut dan menyuruhnya untuk menggali. Seketika itu ditemukan sarung kotak-kotak warna biru, bungkusan plastik warna hijau, serta potongan papan tripleks.
Di dalam tanah juga terdapat kain kafan warna putih, yang dijadikan pembungkus mayat bayi manusia. Namun, kain tersebut belum dibuka. Saksi kemudian menghubungi lurah dan Binmas Kelurahan Balang Baru, KacamatanTamalate.
Sementara saksi Mansyur menjelaskan, dirinyasedang melakukan pekerjaan mengambil sampah di TKP. Ia kemudian dipanggil oleh Mariati dan diminta untuk mengecek gundukan tanah yang dicurigai. Selanjutnya atas permintaan Mariati untuk menggali, dirinya mengambil sekop kemudian menggali gundukan tersebut.
Sedangkan saksi Tio, menjelaskan ketika itu dirinya melintas di TKP dan melihat banyak orang berkumpul. Tepatnya di depan lapangan bulutangkis Kompleks Perikanan.
Saksi M Nur Alim menjelaskan bahwa saat pulang dari tempat kerjanya dan melintas di TKP, ia melihat ada orang tidur diteras lapangan bulutangkis Kompleks Perikanan. Ada pula dua sepeda motor merek Honda CRF( trail) warna merah hitam dan Yamaha Vino warna putih.
Kasi Humas Polrestabes Makassar AKP Lando membenarkan penemuan mayat bayi tersebut. ”Kasusnya ditangani Polsek Tamalate dan masih dalam penyelidikan mencari pelaku yang mengubur bayinya,” ujarnya.
Untuk bayi yang ditemukan di kanal Rappokalling Timur berjenis kelamin perempuan. Diperkirakan berusia tujuh bulan. Jasadnya berada di tengah-tengah tumpukan sampah di pinggir kalan.
Seorang saksi bernama Dg Maudu (55), sehari-hari bekerja sebagai nelayan dan berdomisili di Jalan Juanda, Kelurahan Walawalaya, Kecamatan Tallo. Kepada aparat Polsek Tallo ia mengatakan, pada pukul 08.00 Wita sedang berjalan kaki di pinggir kanal. Ketika itu terlihat ada benda yang mirip boneka warna coklat di tengah tumpukan sampah. Namun ia tetap melanjutkan perjalannya.
Pada pukul 12.30 Wita, Dg Maudu kemudian menyampaikan kepada warga sekitar bahwa itu bukan boneka tapi mayat karena ada aroma busuk. Hal itu lalu dilaporkan ke pihak berwajib.
Pada pukul 12.35 Wita Kanit Reskrim Polsek Tallo Iptu Armin bersama piket datang ke TKP menindaklanjuti laporan warga. Polisi datang ke lokasi pada pukul 13.15 Wita.
Tim Inafis Polrestabes yang tiba langsung melalukan olah TKP. Sekitar 13.35 Wita Tim inafis dibantu warga mengambil mayat bayi tersebut kemudian dibawa ke Rumah Sakit Bhayangkara.
Kasi Humas Polrestabes Makassar AKP Lando, mengatakan kemungkinan besar mayat bayi yang ditemukan tersebut dibunuh oleh orang tuaya karena hasil hubungan gelap, kemdian dibuang dikanal Rappokkaling Timur. Saat ini anggota Polsek Tallo dan Polrestabes Makassar masih melakukan penyilidikan di lapangan.
Mudah Booking Penginapa
Kepala Unit Pelaksana Teknis Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (UPT DP3A), Muslimin menjelaskan banyak faktor yang menyebabkan terjadinya peristiwa pembuangan bayi di tengah masyarakat.
Salah satu di antaranya adalah fenomena kehamilan yang tidak direncanakan (hamil di luar nikah) akibat pergaulan bebas. Karena tidak siap menghadapi kehamilan, setelah sang bayi dilahirkan, maka dibuanglah untuk menutupi aib atau malu.
Menurut lelaki yang akrab disapa Mimin ini, terkadang pelaku pembuangan bayi, jika ditemukan ternyata bukan warga Makassar.
“Jadi tantangannya karena memang faktanya tidak semua pelaku warga Makassar. Mereka tidak mengantongi KTP Makassar,” ungkap Mimin saat dihubungi BKM, Senin (21/11).
Lebih jauh dikemukakan, maraknya pergaulan bebas yang terjadi di masyarakat, khususnya terhadap anak-anak yang belum paham risiko kehamilan di luar nikah akibat dorongan apa yang mereka baca, lihat, nonton. “Akses ke sana sangat mudah sehingga bisa menjadi referensi untuk melakukan tindakan itu,” jelasnya.
Dia menilai, sekarang tidak ada filter, informasi sangat mudah diperoleh untuk melakukan tindakan pergaulan bebas.
Selanjutnya, kata dia, faktor lingkungan juga menjadi salah satu penyebabnya. Masyarakat tidak cukup peka terhadap aktivitas dan tindakan amoral.
Yang lebih menarik lagi, saat ini sangat mudah untuk mengakses layanan penginapan murah. Semua ada di genggaman. Orang dengan mudah bisa booking kamar melalui aplikasi yang ada di ponsel.
Dia mengaku sering turun melakukan sosialisasi dan pembinaan di sekolah. Ternyata faktanya, aplikasi booking penginapan yang murah sudah familiar di antara mereka dan itu dijadikan candaan.
Dia mengatakan sering turun ke sekolah dan fakta menarik itu dianggap candaan tentang platform media yang menyiapkan layanan checkin murah. Kalau pesan melalui aplikasi cukup privasi dan mudah sekali. Tinggal dipilih mana yang kosong dan murah sehingga gampang sekali melakukan seks bebas di sana.
“Tidak jarang kami temukan anak-anak SMP bebas dapat layanan. Kalau tidak dibarengi aktivitas seksual yang sehat itulah risiko kehamilan yang muncul. Anak kan tidak tahu risiko kehamilan sehingga dianggap biasa,” tutur Mimin.
Jangan kaget jika tiba-tiba ditemukan anak-anak yang melahirkan di toilet sekolah. Atau ada bayi ditemukan di masjid, di sekolah, atau tempat sampah.
Sejauh ini, kata Mimin, sudah ada lima laporan masuk ke UPT Perlindungan Perempuan dan Anak (P2A) terkait kasus pembuangan bayi. “Pernah ada satu hari sampai dua laporan masuk. Itu disekitar Tamalate. Ada juga di sekitar Pabaeng-baeng. Hari ini ada dua lagi,” tandasnya. (rhm)
