Site icon Berita Kota Makassar

Nenek Rannu Penjual Manisan Mangga dan Kedondong di Jalan Bawakaraeng

SORE kemarin cuaca di kota Makassar kurang bersahabat, langit hanya diselimuti awan hitam bertanda akan hujan. Tepat di Jalan Bawakaraeng terlihat seorang nenek renta sedang bersemangat menjajakan jualannya yakni es, gula-gula, juga manisan mangga dan kedondong. Ia adalah nenek Rannu berusia 70 tahun.

EDITOR: WARTA SHALLY HIDAYAT

Perempuan yang sudah lebih setengah abad ini tampak berjualan tepat di samping Sekolah Dasar (SD) Bawakaraeng. Harapan untuk membawa pulang rezeki membuatnya tak lelah. Ia hanya duduk di jembatan sebuah rumah toko (ruko) yang tertutup.
Mengenakan penutup kepala putih, ia begitu lincah menata barang yang dibawanya dari rumah.Ia menunggu orang-orang dan anak sekolah yang lewat untuk membeli jualannya. Meskipun hingga sore hanya sedikit saja jualannya yang laku. Banyak orang melihat tetapi tidak menghiraukan es yang dijual oleh Nenek Rannu.

Langkah dan niat nenek Rannu saat hendak berjualan selalu diiringi dengan doa dan harapan.
Kepada penulis nenek Rannu tak berhenti berharap, karena rezeki tidak akan jauh selagi manusia terus berusaha.“Rezeki itu darimana saja, siapa yang tahu. Nenek hanya bisa usaha ini buat makan bersama anak dan cucu nenek,” ujarnya sambil mengibas-ibaskan kain untuk menghalau lalat yang hendak hinggap di jualannya.

Sebelum berjualan es dan manisan mangga serta kedondong, nenek Rannu sudah lama berjualan daun siri (leko’) di Pasar Terong, akan tetapi jualannya tak banyak yang beli atau bahkan tidak ada sama sekali yang membelinya. “Karena daun siri biasanya hanya diperlukan saat ada acara tertentu seperti acara pengantin,” jelas nenek Rannu yang berdomisili di Tello ini.
Setiap hari Nenek Rannu diantar oleh cucunya ke tempat jualannya di samping SD Bawakaraeng dan dijemput pada sore hari sekitar jam 17.00 Wita saat tidak ada lagi anak sekolahan. Karena yang biasa beli jualannya anak sekolah.
Harga es gula-gula yang nenek Rannu jual itu Rp2.000 saja pergelasnya. Biasanya nenek Rannu hanya mendapat pembelian Rp30-50 ribu saja perhari.
Nenek Rannu tinggal bersama anak dan cucunya tiga orang di Tello. Suami nenek Rannu sudah lama meninggal sehingga ia tinggal bersama anak dan cucunya. Anaknya juga berjualan mainan.

“Makanya saya tidak mau berhenti bekerja karena kasihan juga sama anak, dan saya juga sudah lama berjualan jadi tidak enak kalau saya hanya tinggal di rumah saja. Makanya saya tetap jualan, hitung-hitung bisa membantu memenuhi kebutuhan,”ucap nenek Rannu.
Ditanya soal suka dukanya selama berjualan, nenek Rannu mengaku sukanya jika jualannya laris manis. Sementara dukanya jika ada satpol PP yang melarangnya berjualan di sudut jalan, termasuk jika ada yang memberinya uang sobek.(pkl1-pkl2)

Exit mobile version