MAKASSAR,BKM.COM–LULUSAN keperawatan biasanya memilih untuk menjadi perawat. Bekerja di fasilitas kesehatan. Namun, tidak demikian dengan Muh Fadli. Pria yang akrab disapa Evan ini menjatuhkan pilihannya pada profesi penulis. Kok bisa?
”SAYA lulusan keperawatan. Tapi jarang orang yang tahu kalau saya lulusan perawat. Saya ingin membuktikan bahwa kita itu tidak selalu melihat dari apa yang terlihat. Bahwa ada banyak hal yang perlu kita ketahui tanpa harus melihat background luarnya. Saya gondrong seperti ini orang bilang saya adalah berandalan,” tutur Evan ketika menjadi tamu di studio siniar Berita Kota Makassar.
Ia lalu berkisah awal mula mengenal tulisan. Ketika selesai kuliah di tahun 2018, Evan sempat berpikir akan menjadi apa dirinya.
”Saya kemudian mendapat hidaya bahwa saya itu bisa menulis. Memang, jika melihat background pendidikan saya adalah keperawatan, tapi ada sesuatu hal yang tidak membuat saya bekerja di sana. Di situlah kemudian saya beranjak dari dunia kesehatan ke dunia tulisan. Biasanya, sebelum menulis saya terlebih dahulu melakukan riset,” terangnya.
Menurutnya, apapun latar belakang seseorang semua bisa menulis. Misalnya saja menulis di Instagram atau status di media sosial, hal itu sudah termasuk menulis tanpa disadari. ”Ketika orang lain mengatakan saya penulis, di situlah saya telah menebarkan virus bahwa semua orang itu bisa menulis,” tambahnya.
Evan lahir 25 September 1997. Tinggal di Jalan Pattingalloang, Desa Bontosunggu, Kecamatan Bajeng, Kabupaten Gowa. Ia merupakan sulung dari dua bersaudara. Lulusan D3 keperawatan. Ibunya bernama Hamdana Dg Pajja yang sehari-harinya berjualan di warung kecil. Bapaknya, Syarifuddin Dg Bunga, seorang sopir truk yang memiliki impian besar untuk melihat anak-anaknya sukses.
Diakui Evan, awalnya ia tidak mendapat dukungan dari kedua orang tua pada jalur yang dipilihnya. Sebab mereka menginginkan anaknya menjadi seorang PNS.
Walau begitu, Evan tetap berproses dalam berkarya menulis buku. Suatu ketika, setelah buku yang ditulisnya rampung ia mencari penerbit. Tak disangka-sangka, ternyata penerbit yang didapatnya adalah temannya sendiri.
Di tahun 2019 Evan menulis buku Kutitip Cintaku Pada Tuhan, serta Semesta Bercerita. Yang membuatnya surprise, ketika buku Semesta Bercerita, ia melihat ibunya membaca buku tersebut. Bahkan sampai menangis. ”Dari situlah saya berjanji akan terus menulis,” katanya, tanpa bisa menyembunyikan rasa haru.
Di buku pertama yang dihasilkannya, terdapat kumpulan cerpen. Selanjutnya, di part terakhir ada satu momen yang menceritakan tentang neneknya yang sudah meninggal. Ia menceritakan bagaikana perasaan orang tuanya ketika sang nenek pergi untuk selama-lamanya.
saya ceritakan bagaimana perasaan orang tua saya saat nenek saya meninggal.
Sebuah pengalaman juga dikisahkan Evan. Ia melakukan perjalanan dari Makassar ke Surabaya. Selanjutnya melakukan riset di Yogyakarta lalu kemudian sampai di Merak, Banten menggunakan motor. Setelah itu ke Sumatera dan berlanjut ke Medan.
Perjalanan ia targetkan selama setengah tahun. Berangkat awal Januari dan pulang di bulan Juni. Namun ada sesuatu hal. Evan mesti kembali sebelum sampai ke batas waktu yang telah ditentukannya. Buku ketiganya berjudul Ruang dan Waktu akhirnya diterbitkan di Bogor.
Dalam melakukan riset untuk buku yang hendak ditulisnya, Evan mempunyai tiga poin utama, yaitu manusia, semesta, dan Sang Pencipta.
“Sebelum menulis kita harus mengetahui non teknisnya, yang harus kita kembalikan ke diri kita sendiri. Mulai dari kepekaan kita kepada lingkungan, kepada sekitaran kita seperti apa. Itu semua bisa menjadi imajinasi kita dalam menulis,” terangnya.
Dari tiga buku yang telah dihasilkannya, Evan menyebut buku ketiga yang paling berkesan. Sebab, untk menulisnya ia melakukan riset selama satu tahun. Termasuk di gunung Bawakaraeng, dalam konteks membuka mistisnya terkait keindahan yang ada di sana.
Menurut Evan, ia menulis buku bukan mencari nafkah. Melainkan dirinya ingin membuat sejarah dalam kehidupan pribadinya. Sehingga orang mengenal dirinya dari buku yang dia hasilkan. Dia pun punya target ‘gila’, yaitu harus menulis 1.000 buku.
”Ketika ingin menulis kita harus melampaui batas ketakutan yang ada. Karena itu, pesan saya kepada teman-teman yang ingin menulis, tetaplah menulis, mau seperti apa tulisannya dan bagaimanapun tulisannya. Bahwa setiap buku itu punya pembacanya masing-masing. Kembali lagi, ketika ingin menulis lampaui batas seperti itu untuk bisa menyelam lebih dalam untuk mengetahui seperti apa itu kehidupan. Jangan lupa, tetaplah menjadi sederhana karena sederhana itu menyenangkan,” ucap Evan. (*-pkl1/rus)
