MAKASSAR, BKM — Wakil Ketua Masyarakat Transportasi Indonesia (MTI), Bambang Haryo Soekartono, melakukan kunjungan di Pelabuhan Makassar New Port, Sabtu (10/12). Pada kunjungan itu, Bambang Haryo melihat efektivitas dari Makassar New Port yang dibangun dengan anggaran Rp1,3 triliun.
Pelabuhan ini mempunyai kapasitas 800.000 TEUs dan saat ini dalam satu tahun sudah digunakan untuk menampung sekitar 300.000 TEUs. ”Pelabuhan Makassar New Port sudah berfungsi dengan baik, dan masih harus terus dikembangkan secara bertahap hingga daya tampung kontainer di terminal mencapai 2 juta TEUs, dengan anggaran tambahan hanya sebesar Rp2.6 triliun,” ujar anggota DPR RI periode 2014-2019.
Bambang Haryo membandingkan Makassar New Port dengan Pelabuhan Patimban yang ada di Kabupaten Subang, Jawa Barat, yang mempunyai anggaran total Rp50 triliun. Dimana, hingga saat ini sudah mendekati 50 persen yang digelontorkan.
Menurut Bambang Haryo Soekartono yang akrab disapa BHS, sangat disayangkan terminal dari pelabuhan dengan luas 300 hektare ini masih belum difungsikan sebagai terminal peti kemas. Karena fasilitas cranenya tidak ada. Sedangkan di pelabuhan Makassar New Port dilengkapi 8 crane yang sudah berfungsi.
”Masyarakat di Jawa Barat belum bisa memanfaatkan Pelabuhan Patimban. Padahal, potensinya sangat baik. Karena rencana pembangunan berkapasitas hingga 7 juta TEUs setahun. Namun terkendala, karena belum memiliki tower crane,” kata Bambang yang juga akrab disapa BHS.
Mestinya, kata Bambang Haryo, pemerintah pusat mencontoh apa yang dilakukan Pelindo IV Makassar terkait pengembangan terminal di Pelabuhan Patimban agar berfungsi dan dimanfaatkan dengan baik. Apalagi sampai saat ini dikatakan oleh petugas, menteri perhubungan belum pernah berkunjung ke Makassar New Port. Maka diharapkan anggaran pembangunan dari pelabuhan Patimban dapat dirasakan langsung masyarakat Jawa Barat khususnya pengguna jasa peti kemas.
Dewan Pakar DPP Partai Gerindra ini juga mengapresiasi PT Pelindo IV yang bisa membuat Makassar New Port dengan biaya minim, namun produktivitas luar biasa. Didukung kedalaman perairan di pelabuhan itu mencapai 16 meter. Bahkan, di fase 3 dan 4 dapat mencapai 20-25 meter kedalamnya.
”Sehingga kapal yang berkapasitas besar seperti 4.000-5.000 TEUs sudah bisa berlabuh di Makassar New Port. Berbeda dengan Pelabuhan Patimban yang kedalamnya tidak sampai 10 meter. Hhanya bisa masuk kapal yang tidak lebih dari 1.000 TEUs. Sehingga target 7 juta TEUs sulit tercapai,” jelas Bambang Haryo.
BHS mengatakan, jika Makassar adalah pelabuhan hub penghubung untuk Indonesia timur dan barat, sedangkan Pelabuhan Patimban hanya sebagai pendamping pelabuhan Tanjung Priok jika mengalami overload.
”Pelabuhan Makassar New Port ini bahkan bisa dimanfaatkan untuk menampung pelayaran internasional yang menghubungkan transportasi dari Asia timur dengan Australia. Bisa jadi pelabuhan transit tingkat Internasional karena posisinya ada di Alki 2. Sehingga memungkinkan untuk bersaing dengan pelabuhan-pelabuhan luar lainnya, seperti misalnya saat ini yang memanfaatkan pasar internasional itu adalah Filiphina yang sudah menampung 7.5 juta TEUs dalam satu tahun. Dan diharapkan New Makassar Port bisa mengambil alih peran dari pelabuhan Filipina tersebut,” jelasnya. (mir)
