SETIAP orang pasti menginginkan masa tua hidup bahagia dengan menikmati fasilitas yang lengkap di rumahnya dan tidak lagi harus bersusah payah terus bekerja. Namun impian tersebut tidak berpihak pada seorang kakek bernama Syamsuddin Daeng Nai.
EDITOR: WARTA SHALLY HIDAYAT
Seorang pria paruh baya berumur 71 tahun ini tengah membereskan tumpukan koran-koran yang berceceran,Di usianya yang senja, ia harus tetap berjuang demi mencari nafkah untuk istri dengan berjualan koran.
Dengan bermodalkan sepeda, Syamsuddin berkeliling Jalan Veteran setiap pagi berjualan koran.
Saat dunia semakin cepat dengan perkembangan teknologi, media online dan media sosial terus betebaran. Hal ini membuat koran cetak semakin tergerus bahkan perusahaan media cetak sudah banyak yang tutup.
Hanya saja, kondisi itu tak membuat Dg Nai sapaan akrabnya pupus akan harapan-harapannya. Menurutnya, menjual koran masih menjadi profesi yang menjanjikan meskipun mulai sepi. Ia menikmati setiap hasil penjualan koran untuk kebutuhan sehari-hari.
Kepada penulis, Dg Nai mengaku, demi mempertahankan hidupnya, ia mencoba cara untuk mendapatkan penghasilan. Akhirnya ia bertemu dengan salah seorang agen koran dan diajak berjualan.
Tanpa pikir panjang Dg Nai langsung menerima tawaran tersebut. Menjual koran menjadi pilihannya untuk bertahan dalam kerasnya hidup di Kota Makassar.
Ia menceritakan kalau dulu di era 80-90-an pekerjaan menjual koran adalah suatu hal yang menjanjikan. Kala itu, koran masih sebagai media informasi arus utama di masyarakat. Bahkan berapapun disiapkan semuanya ludes terjual. Bahkan sekalipun sudah habis, tak jarang banyak orang yang menanyakan stok koran.
Tapi saat ini, kata Dg Nai sambil memperbaiki ban sepedanya, berjualan koran harus tetap bersabar. Kalau datang rezeki biasanya koran yang dibawanya habis terjual.Apalagi sampai saat ini menjual koran adalah penghasilan satu-satunya.
“Masih semangat alhamdulillah masih diberi kesehatan, masih diberi rezeki, karena mau apalagi kalau gak jualan koran. Meski saat ini, kebanyakan pembaca koran beralih ke media online untuk memenuhi kebutuhan informasinya. Hal itu juga, turut mempengaruhi penjual koran,”ujarnya.
Setiap hari Daeng Nai menjual koran dengan harga Rp5.000 per eksemplarnya. Upah yang ia dapatkan dari satu koran itu adalah seribu rupiah. Itupun dalam sehari terkadang tidak habis.
“Biasanya saya diberi upah Rp30 ribu kalau semua koran-koran ini habis, tapi kalau tidak habis berdoa saja. Saya juga tidak mau mengemis ke orang-orang karena saya masih punya harga diri,”ungkapnya.
Saat ini Daeng Nai tinggal bersama istri dan dua orang anaknya di Jalan Sungai Saddang. Anak pertamanya bekerja sebagai ojek online dan anak keduanya saat ini masih sedang duduk di kelas 1 SMP. Nasib anak pertamanya kurang beruntung tidak lama setelah menikah ia berpisah dengan istrinya. Saat ini ia bekerja sebagai ojek online demi membantu menunjang perekonomiannya. Motor yang digunakannya itupun masih dalam cicilan.(pkl1-pkl2)
