MAKASSAR,BKM.COM–Umur bukan halangan untuk meraih gelar akademik tertinggi di perguruan tinggi. Hal itu dibuktikan Hikmayani Iskandar. Di usianya yang masih muda, yakni 26 tahun, ia telah menyandang titel doktor. Hikmayani pun menjadi doktor termuda di Fakultas Peternakan Universitas Hasanuddin.
”PEREMPUAN itu harus maju dan berkembang. Bukan hanya laki-laki. Perempuan harus jadi independen,” ujar Hikmayani ketika menjadi tamu siniar di studio Berita Kota Makassar Lantai Tiga Gedung Graha Pena.
Hikmayani punya alasan sehingga memantapkan hati untuk sekolah tinggi-tinggi. Pertama, karena itu memang cita-citanya. ”Pokoknya, setelah selesai S1 harus lanjut S2 lagi. Kemudian S3,” tuturnya.
Dirinya sempat ke Jepang untuk urusan beasiswa. Melalui PMDSU yang merupakan program akselerasi mahasiswa doktor sarjana unggul dan persiapan doktor muda.
Bagi Hikmayani, bapaknya yang seorang guru, menjadi teladannya. Prinsip sang ayah, bagaimana pun kondisinya anak-anak harus bersekolah. Tidak heran jika di keluarganya, semua saudaranya menjadikan pendidikan nomor satu.
Ketika duduk di bangku kuliah, Hikmayani juga dikenal aktif di sejumlah organisasi kemahasiswaan. Di antaranya UKM Tenis Meja, Forum Studi Ilmiah, Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM), serta sekretaris di himpunan.
”Sebagai seorang mahasiswa sebaiknya aktif berorganisasi. Karena apa yang kita dapat di organisasi itu tidak kita peroleh di bangku perkuliahan. Kita perlu organisasi juga sebagai tempat belajar,” terangnya.
Diakui Hikmayani, organisasi penting. Namun, ia mengingatkan untuk tidak mengabaikan urusan akademik. Keduanya harus berjalan beriringan.
Keikutsertaannya dalam program PMDSU bermula dari Jakarta. Ketika itu melihat informasi terkait beasiswa PMDSU, hingga akhirnya berhasil mendapatkannya.
Selama mengikuti program PMDSU, Hikmayani sudah dua kali mendapatkan kolaborasi riset. Pertama di di Jepang. Kemudian terbuka lagi program PKPI untuk publikasikan internasional dan mendapatkan supervisor dari media. Dengan mengikuti kegiatan tersebut, Hikmayani dibiayai sepenuhnya oleh PMDSU.
Menyandang sebagai doktor muda, menjadi kebanggaan tersendiri bagi Hikmayani dan orang tua. Namun, pencapaian itu tidak diraih begitu saja. Ketika duduk di bangku SMA ia sudah membekali diri dengan kemampuan bahasa Jepang. Kemudian belajar secara otodidak. Sementara untuk bahasa Inggris, ia sudah dilatih oleh orang tuanya. Bahasa internasional tersebut merupakan yang hal wajib dipelajari.
Dengan ilmu yang diperoleh dan gelar doktornya saat ini, Hikmayani ingin ke depannya bisa menerapkannya pada bidang penelitian. Atau mungkin di Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia.
Kembali ke awal hendak kuliah S1, Hikmayani berkisah bahwa sebenarnya Fakultas Peternakan merupakan pilihan ketiga. ‘”Awalnya kan daftar di Kedokteran, tapi tidak lulus. Alhamdulillah, lulusnya di Fakultas Peternakan,” terangnya.
Prinsip yang dipegang Hikmayani, apapun yang kita alami pasti selalu ada kemudahan yang dirasakan. Ia lalu menyebut kesulitan yang dilewatinya selama mengikuti program PMDSU, namun mampu diatasinya. (*-pkl1/rus)
