Site icon Berita Kota Makassar

Hadapi Curah Hujan Tinggi, Danny Instruksi Siaga Bencana

MAKASSAR, BKM — Wali Kota Makassar Mohammad Ramdhan Pomanto bersama Kepala Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Pompengan Jeneberang, Djaya Sukarno melakukan pemantauan di lokasi Waduk Nipah-Nipah Antang. Keduanya berkoordinasi untuk mengatur keluar masuknya air dari kolam regulasi.

Hal itu dilakukan untuk mengetahui kapasitas dan kemampuan kolam tersebut untuk menampung air pada saat curah hujan cukup deras, seperti yang terjadi beberapa hari terakhir.

Saat melakukan peninjauan ke Waduk Nipa-nipa, Sabtu (17/12), Danny menjelaskan, kalau waduk tersebut berfungsi untuk mentransitkan air.
Kendati dalam dua hari ini hujan dengan intensitas ringan terus mengguyur tetapi kondisinya masih terkontrol dan terkendali.
“Alhamdulillah kondisi cukup terkendali, stabil. Karena dari pantauan (aliran sungai) ini dia mengalir. Itu berarti volume air itu masih bisa ditransfer ke laut lewat sungai ini,” ujarnya yang juga mengamati aliran sungai sekitar waduk.

Dia melanjutkan, pihaknya sudah memerintahkan semua perangkat pemerintah termasuk infrastruktur penanganan banjir untuk waspada maksimal dalam menghadapi cuaca buruk yang berkepanjangan. Baik itu curah hujan dengan milimeter besar, sampai dengan lamanya curah hujan.
“Pemkot Makassar mengantisipasi dengan menggerakkan semua perangkat daerah, Dinas Sosial, BPBD, camat, lurah, RT/RW semua disiapkan. Semua kelurahan, kecamatan dan grup siaga banjir itu semua sigap,” tegasnya.
Apalagi, dirinya selang dua hari sebelumnya sudah memposting berdasarkan aplikasi radar cuaca. Olehnya, ia menekankan pemerintah harus selalu memberikan early warning sistem (sistem peringatan dini) kepada warga.
“Persoalan banjir itu persoalan kedua, persoalan pertama ialah apakah kita siap menghadapi banjir atau tidak dengan perangkat kerja semuanya siap dengan kapasitas yang ada. Itu yang selalu saya wanti-wanti,” ucapnya.

Sementara itu, Kepala BBWS Pompengan Jeneberang Djaya Sukarno mengatakan kondisi di kolam regulasi, saat ini antara air sungai dengan spillway-nya masih punya elevasi 1,54 meter dengan curah hujan sejak pagi kenaikan per jamnya 2 cm.
Dengan curah seperti ini, lanjut dia, diprediksi dapat masuk spillway sampai lima hari ke depan. Sementara itu, untuk menyiapkan jika terjadi hujan yang lebat lagi maka timnya siap mengosongkan atau menurunkan permukaan kolam regulasi dengan dua pompa.
“Masing-masing pompa kapasitasnya 2 kubik perdetik. Jadi satu detik empat meter kubik dikeluarkan. Hal itu untuk menyiapkan jika curah hujan menjadi lebih tinggi dan lebih lama sehingga sudah siap menerima puncak banjir yang ada di Sungai Tallo ini,” jelas Djaya.
Secara umum metode pengendalian banjir wilayah hilir dilakukan dengan cara mengatur aliran Sungai Tallo. Kolam Regulasi Nipa-Nipa akan menyimpan air untuk sementara waktu selama terjadi puncak banjir melalui pelimpah (spillway) dan mengalirkannya kembali ke hilir Sungai Tallo melalui pintu pengatur (metode gravitasi) dan pompa.
Kolam itu sendiri ialah sebuah kolam untuk pengaturan air yang mencakup tiga wilayah yang saling berbatasan, yakni Kabupaten Gowa, Kabupaten Maros, dan Kota Makassar. (rhm)

Exit mobile version