Site icon Berita Kota Makassar

”Jangan Beri Contoh Anak-anak dengan Galang Dana di Jalanan”

MAKASSAR,BKM.COM–Sebagai sebuah kota besar, Makassar menghadapi beragam permasalahan yang cukup kompleks. Salah satunya adalah persoalan anak jalanan. Kepedulian terhadap mereka kemudian muncul. Maka, lahirlah Komunitas Anak Peduli Anak Jalanan atau yang biasa disingkat KPAJ.

RIJAL Amin Syarief selaku ketua umum KPAJ Makassar periode 2022-2023, mengatakan komunitas yang dipimpinnya saat ini menjadi tempat bergabungnya anak-anak muda kota ini yang peduli terhadap anak jalanan.

”Kehadirannya bertujuan untuk menjadi sahabat anak jalanan, memberikan kehidupan yang lebih baik lagi untuk anak jalanan,” ujar Rijal dalam siniar untuk kanal Youtube Berita Kota Makassar.

Pria yang juga bekerja sebagai staf di bagian corporate communication salah satu perusahaan di Makassar ini, menyebut KPAJ sudah 10 tahun hadir.

Volunteer atau relawan yang tergabung di dalamnya kurang lebih 300-400 orang. Mereka merupakan anak muda dengan latar belakang yang berbeda. Ada pelajar, mahasiswa, dosen, dokter, guru, praktisi, dan masih banyak lagi
profesi lainnya.

Adapun persyaratan untuk bergabung di KPAJ, menurut Rijal, usia minimal 17 tahun, mempunyai visi dan misi yang sama, yaitu peduli terhadap anak jalanan dan ingin memberikan kehidupan yang lebih baik untuk mereka. Selanjutnya, mengikuti proses atau tahap rekrutmen sampai selesai.

Diakuinya, menjadi seorang relawan pasti akan mendapat relasi yang sangat luas. Karena ada banyak pelajaran yang bisa diperoleh, baik dari mahasiswa, pelajar, dosen, dokter dan sebagainya. Di antara mereka akan terjadi sharing
dan hal-hal baik lainnya.

Rijal yang lahir di Ujung Pandang, 22 Mei 1998 ini menyebut, yang menjadi binaan KPAJ kurang lebih 170 orang anak jalanan di Makassar. Area binaan terbagi pada enam lokasi. Masing-masing di Kecamatan Manggala, Kerung-kerung, Jalan Kerung-kerung, Jalan Adhyaksa Baru (belakang gereja Toraja), Rebenan Unhas, BTP, serta Telkomas.

”Awalnya, KPAJ membuka rumah belajar atau rumah singgah untuk membina adik-adik dengan menggunakan modul pembelajaran yang digarap langsung oleh pembina non formal education. Saking menariknya, para orang tua menyarankan anaknya mengikuti komunitas tersebut,” jelas Rijal.

Manfaat yang diperoleh anak-anak setelah menjadi binaan KPAJ, di antaranya perubahan perilaku, pola pikir, serta pembinaan orang tua. Selain pendidikan, KPAJ juga berusaha mengubah mindset bahwa mencari uang tidak hanya di jalanan.

Menurut Rijal, KPAJ merupakan komunitas independen, tidak dinaungi oleh yayasan, lembaga maupun pemerintahan. Tapi tidak menutup kemungkinan hal itu bisa dilakukan. Karena di usia yang ke-10 ini sudah banyak berkalaborasi dengan lembaga pemerintahan, Dinas Sosial, maupun kelompok mahasiswa.

Metode penggalangan dana oleh KPAJ dilakukan menjalankan kampanye bagi kepentingan anak-anak. Seperti kampanye celengan, dengan harapan ada yang bisa menjadi donatur, walau sifatnya tidak tetap.

”KPAJ juga tidak merekomendasikan untuk berdonasi di jalanan, karena mindset yang paling ditanamkan adalah kita tidak boleh memberikan contoh kepada anak-anak yang ada di jalanan, bahwa lebih baik mencari uang di jalan. Tidak boleh seperti itu,” terang alumni Universitas Fajar ini.

Selain itu, ada pula kegiatan menjual atribut-atribut untuk KPAJ, baik di kalangan internal maupun eksternal.
Saat ini sudah empat tahun Rijal menjadi relawan KPAJ. Pembuat karya seni digital ini, di tahun pertama ikut komunitas lintas pelosok ilmu dan juga sosial pendidikan.

“Pesan saya, terutama untuk mahasiswa, sejauh pandangan saya sekarang untuk penggalangan dananya masih ada yang turun di jalan menjual air minum di lampu merah. Sebaiknya teman-teman mahasiswa menjadi kontrol sosial, agent of change. Sebaiknya menggunakan inovasi-inovasi lain untuk penggalangan dana. Jangan sampai itu menjadi contoh untuk anak-anak. Jangan memberikan contoh yang kurang baik kepada anak-anak yang ada di jalanan,” tandasnya. (*-pkl1/rus)

Exit mobile version