Site icon Berita Kota Makassar

Gubernur Minta Perketat Penjagaan di Sekolah

Sejumlah siswa mengikuti upacara Bendera di SDN 01 Pagi, Labak Bulus, Jakarta, Senin (27/7). Hari ini para siswa mulai kembali beraktivitas mengikuti pelajaran di sekolah untuk tahun ajaran 2015-2016 usai libur panjang Hari Raya Idul Fitri. ANTARA FOTO/Reno Esnir/Rei/pd/15.

MAKASSAR, BKM — Gubernur Sulawesi Selatan, Andi Sudirman Sulaiman menginstruksikan seluruh stakeholder terkait untuk memperketat penjagaan bagi siswa di area sekolah.

“Kita mengintruksikan seluruh Dinas Pendidikan, utamanya kepala sekolah untuk memperketat pengawasan di lingkungan sekolah bagi para siswa,” ungkapnya, Kamis (12/1).
Hal itu dilakukan untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan. Apalagi baru-baru terjadi kasus penculikan anak.

“Perketat penjagaan sekolah dan memastikan anak sekolah tiba di rumah masing-masing. Pastikan anak-anak dijemput oleh keluarga saat pulang sekolah,” pintanya.
Ia pun meminta para orang tua untuk ikut berperan aktif dalam mengawasi anak-anaknya.
“Termasuk mengawasi jemputan anak sekolah serta di lingkungan sekitar,” pungkasnya.
Terpisah, Kepala Bidang Perlindungan Anak Dinas Pemberdayan Perempuan dan Perlindungan Anak (DP3A) Makassar, Sulfiani Karim menjelaskan terkait bahaya gadget bagi anak.
Sulfiani menjelaskan, DP3A Makassar terus menerus melakukan sosialisasi baik degan perempuan, ibu-ibu hingga komunitas.

“Kami kemana-mana sampaikan bahwa gadget selain manfaatnya banyak, negatifnya juga banyak,” katanya.
Memang bisa dikatakan bahwa anak sekarang tanpa gadget mereka kurang wawasan karena kurang mendapat informasi terbaru atau update.
Disisi lain negatifnya juga banyak, melalui handphone, anak bisa akses pornografi dengan mudah.
“Dengan hanya genggam hp mereka bisa lihat situs porno, booking online, hingga berhubungan dengan orang yang tidak dikenal,” ungkapnya.
Fenomena sekarang ini, orang tua acap kali membekali anak dengan handphone, bahkan saat masih bayi anak sudah dibiasakan dengan handphone.
Tujuannya agar orangtua bisa lancar menjalani pekerjaan, padahal ia tidak sadar kalau itu merupakan pola asuh yang salah.

“Maka ketika anak tidak diberi hp mereka akan mengamuk, padahal idealnya anak baru bisa diberi hp saat umur 5 tahun, itupun ada jam tertentu,” jelasnya.
Karenanya, para orang tua diharapkan tidak memberi gadget sebelum anak berusia lima tahun.
Orang tua harus pintar mengalihkan perhatian anak dengan cara mengajak bermain yang lain sesuai perkembangan usianya.
Seharusnya kata Sulfiani, anak diberikan pengasuhan yang positif dengan memberikan kasih sayang, dekapan, menghargai anak, ditanya keinginannya.(rhm-jun)

Exit mobile version