PEMERHATI politik yang juga Direktur Eksekutif PT Indeks Politica Indonesia (IPI) Suwadi Idris Amir menambahkan bila yang memiliki peluang untuk duduk yakni Aliyah Mustika.
Suwadi beralasan karena Aliyah ditopang kerja-kerja politik suaminya, Ilham Arif Sirajuddin (IAS).
“IAS saat ini serius bergerak untuk Pilgub sulsel 2024. Artinya, ada mesin politik yang bisa membantu ibu Aliyah. Apalagi jika mampu mendapatkan dukungan mesin politik Golkar maka tentu sangat menguntung Aliyah,” katanya.
Suwadi mengatakan, adapun Lily Amelia disebut merupakan perwakilan non muslim di mana ada beberapa non muslim mendaftar sebagai calon anggota DPD. “Ibu Lily masih terbuka potensinya mewakili kubu non muslim. Namun pesaingnya ada beberapa juga,” imbuhnya.
Dalam daftar bakal calon anggota DPD yang dirilis Komisi Pemilihan Umum (KPU) Sulsel, terdapat lima perempuan. Mereka adalah politisi serta dari lembaga sosial kemasyarakatan.
Kelimanya yakni petahana Lily Amelia Salurapa, Aliyah Mustika Ilham, Ariella Hana Sinjaya, Sri Rahayu Usmi, dan Diza Rasyid Ali. Selain Lily, empat bakal calon lain diprediksi akan menjadi pembeda pada persaingan antar srikandi ini.
Hadirnya Aliyah akan memanaskah kontestasi. Tokoh filantropi Arielle, Sri Rahayu, dan Diza juga tak bisa dipandang sebelah mata. Ketiganya memiliki basis massa yang sangat kuat di akar rumput. Ariella Hana Sinjaya menyatakan mendapat dorongan kuat untuk menjadi senator. Dirinya mengklaim tak hanya mewakili komunitas tertentu, melainkan juga semua golongan di Sulsel. “Syukur alhamdullilah, puji Tuhan, saya berhasil menggerakan berbagai stakeholder untuk bergotong royong dalam pencalonan saya sebagai DPD. Jadi, bukan golongan tentu saja,” kata Hana, Rabu (11/1).
Hana menyetor 3.225 KTP yang tersebar di 24 daerah ke KPU Sulsel. Bahkan ia menyakini masih ada KTP tersisa akan disetor bila kelak hasil verifikasi administrasi dinyatakan butuh perbaikan.
Wakil Bendahara Umum Paguyuban Sosial Marga Tionghoa Indonesia (PSMTI) itu mengaku ingin memperjuangkan aspirasi daerah dan kebutuhan daerah. “Banyak permasalahan yang perlu saya perjuangkan. Solusi permasalahan hanya bisa ada di tingkat Nasional karena kewenangan ada di tangan pemerintah pusat,” kata Hana.
Ketua MPW Pemuda Pancasila Sulsel Diza Rasyid Ali telah menyerahkan sebanyak 4.591 KTP pemilih sebagai syarat dukungan minimal. “Kami telah menyetor 4.591 KTP tersebar 24 daerah. Ini atas kerja sama tim dan pengurus MPW PP Sulsel,” kata Diza.
Menurut dia, dukungan itu datang dari seluruh pengurus Majelis Pimpinan Cabang dan Badan/Lembaga Pemuda Pancasila se-Sulsel. Seluruh MPC dan Badan/Lembaga Pemuda Pancasila yang ada di Sulsel telah menyatakan siap mendukung dirinya untuk maju sebagai calon anggota DPD RI pada pemilu serentak yang akan digelar pada 2024.
Tentu saja, kata Diza, dengan modal dukungan dari ormas dan juga masyarakat umum akan menjadi motivasi ke depan. Maka, kata dia, pihaknya akan mengakomodasi aspirasi dan kepentigan masyarakat untuk segera diperjuangkan.
“Ke depan aspirasi masyarakat itu akan kami perjuangankan. Sekarang yang selalu menjadi persoalan adalah pendidikan, kesehatan, ekonomi dan pembangunan. Semua isu itu perlu dikawal di tingkat pusat,” imbuh Diza.
Adapun kandidat petahana, Lily Amelia Salurapa menyatakan menyerahkan dukungan sebanyak 3.172 KTP dengan sebaran 24 kabupaten/kota. “Tapi, kami masih punya cadangan 10 ribu KTP,” beber Lily.
Meski berstatus petahana, jalan Lily untuk periode kedua akan berhadapan dengan pendeta Musa Salusu yang juga dari daerah Toraja. Bahkan pendeta Musa saat itu menyetor KTP paling banyak. Dia menyetor 7.940 KTP dengan sebaran 21 kabupaten/kota.
Pendeta Musa merupakan mantan Ketua Sinode Gereja Toraja dua periode. Sekarang, ia menjabat Ketua Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Tana Toraja sejak 2009.
Kendati demikian Lily mengatakan dengan banyaknya calon itu bukan masalah. Bahkan ia optimis kembali terpilih. “Kami anggap bukan pesaing, tapi teman perjuangan. Kan yang menentukan yang di atas (Tuhan). Justru bagus jika banyak,” imbuh dia. (jun/rif).

