PAPUA, BKM — Resesi ekonomi global yang diprediksi akan terjadi di Indonesia pada tahun 2023 ini, mendapat perhatian dari Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Sulawesi Selatan. BI Sulsel optimistis perekonomian di daerah ini bakal aman atau tidak terlalu terdampak dengan ancaman resesi tersebut. Hal itu berdasarkan analisa dan perkiraan BI Sulsel.
Sebaliknya, menurut perkiraan, pertumbuhan ekonomi di Sulawesi Selatan pada 2023 diperkirakan akan tumbuh kuat pada rentang 4,6-5,4 persen.
Sementara inflasi diperkirakan akan kembali pada rentang sasaran nasional, yakni 3 persen+1.
Deputi Kepala Perwakilan BI Sulsel Fadjar Majardi menyampaikan prediksi itu dalam kegiatan Focus Group Discussion (FGD) BI Sulsel dengan sejumlah media di Sulawesi Selatan pada Sabtu malam (14/1), di Aston Hotel & Convention Center, Kota Sorong, Papua Barat.
Lebih lanjut Fadjar Majardi mengungkap sejumlah indikator yang akan mendorong pertumbuhan ekonomi di Sulsel pada 2023.
Di antaranya penguatan sinergi pemerintah baik dari sisi fiskal, moneter maupun perbankan, peningkatan mobilitas yang akan mendorong konsumsi masyarakat lebih tinggi, serta meningkatnya target produksi padi nasional; dan kuatnya permintaan ekspor unggulan Sulsel.
“Pertumbuhan ekonomi tahun 2023 diperkirakan tetap kuat, meski di tengah berbagai risiko dari dalam dan luar negari,” imbuhnya.
Adapun terkait inflasi, BI Sulsel memperkirakan grafik inflasi Sulawesi Selatan pada 2023 akan melandai sehingga dapat mendorong kondusivitas iklim usaha.
Grafik inflasi yang diprdiksi melandai tersebut, menurut Fadjar, dipengaruhi oleh sejumlah indikator pengendalian. Salah satunya program peningkatan produktivitas pertanian lewat program Mandiri Benih.
“Indikator lainnya yakni penguatan sinergi tim pengendalian inflasi daerah. Termasuk kerja sama antardaerah (KAD) terkait kelancaran distribusi untuk memenuhi pasokan bahan pokok masyarakat,” tambahnya.
Selain itu, lanjutnya, kebijakan peningkatan suku bunga acuan dan komitmen pemerintah untuk mencapai target produksi komuditas utama masyarakat akan menjadi indikator dalam pengendalian inflasi di Sulsel pada 2023.
Optimisme senada disampaikan Kepala Perwakilan BI Sulsel Causa Iman Karana. Menurutnya, ancaman resesi yang diisukan bakal terjadi di Indonesia pada 2023 tidak akan terlalu berdampak terhadap perekonomian di Sulawesi Selatan.
Sebab, kata Causa, Sulsel memiliki keunggulan dibanding sejumlah daerah lainnya. Keunggulan itulah, menurutnya, yang akan menjadi indikator pendukung pertumbuhan ekonomi di Sulsel.
“Sulsel merupakan wilayah lumbung pangan nasional. Peningkatan produksi bahan pangan di Sulsel berpeluang terus didorong untuk memenuhi kebutuhan nasional yang terus meningkat,” ungkap Causa Imam Karana dalam kegiatan FGD tersebut.
Optimisme perekonomian Sulsel 2023, menurut Causa, juga didukung oleh indikator lainnya. Semisal pertumbuhan infrastruktur seperti proyek jalur kereta api Makassar-Parepare, dan pembukaan kawasan industri (KIMA), KI Bantaeng, dan KIPAS Parepare.
“Intinya Sulsel punya empat potensi keunggulan untuk memperkuat pertumbuhan ekonominya di 2023 yakni infrastuktur, pariwisata, pertambangan dan pertanian,” terangnya. (jun)
