MAKASSAR, BKM — Peristiwa meninggalnya mahasiswa Teknik Arsitektur Universitas Hasanuddin, Virendy Marjefy (18) sudah beberapa hari berlalu. Walau begitu, kepastian tentang penyebab kematiannya saat mengikuti Pendidikan Dasar (Diksar) Mapala di Kabupaten Maros, masih simpang siur.
Selasa (17/1), James Wehantouw, ayah almarhum Virel –panggilan akrab Virendy– mengungkap adanya petunjuk yang diperolehnya dan bisa diduga sebagai penyebab meninggalnya anak ketiga dari empat bersaudara itu.
”Viren itu anaknya pendiam. Kalau anak seperti itu kan biasanya suka curhat lewat HP atau diary. Tapi untuk HP almarhum belum bisa kami buka karena ada passwordnya. Yang baru-baru kami temukan adalah alkitab yang biasa dibaca dan dibawa korban. Termasuk saat dia mengikuti Diksar,” ungkap James.
Informasi yang diperoleh James dari rekan almarhum saat mengikuti Diksar, di malam hari di dalam tenda Viren biasa membuka dan membaca alkitab. ”Nah, di dalam alkitab milik Viren yang kita dapatkan, ada beberapa ayat yang dia lingkari. Mungkin ayat-ayat itu sebagai ungkapan curhat apa yang dialaminya ketika mengikuti Diksar,” terang James lagi.
James yang juga seorang wartawan senior di Makassar ini, mengakui bahwa keluarga penasaran dengan keterangan sahabat perempuan putranya tersebut. Begitu alkitabnya dibuka, ditemukan ada tanda panah berwana kuning dan ungu. Viren juga melingkari beberapa ayat pada bagian yang yang ada tali pembatasnya. ”Sepertinya ayat-ayat yang dilingkari itu menggembarkan apa yang dialaminya,” tambah James.
Rencananya, menurut James, petunjuk baru tersebut akan disampaikan ke penyidik Polres Maros yang menangani kasus kematian adanya. Sebab hingga kemarin, pihak keluarga belum dimintai keterangannya oleh polisi.
James mengaku ada banyak kejanggalan yang terjadi dalam peristiwa kematian anaknya. Salah satunya, ketika drop pertama yang menjaga Viren hanyalah teman-temannya. Nanti pada saat drop kedua baru diambil alih oleh panitia.
”Yang lebih mengherankan, korban meninggal pada jam sembilan malam. Sementara teman-temannya baru tahu besok siangnya. Keluarga juga baru dihubungi setengah sembilan pagi keesokan harinya. Itupun tidak disampaikan kalau Viren sudah meninggal. Hanya dikatakan korban ada di UGD Rumah Sakit Gretelina,” papar James.
Pihak keluarga tidak bersedia untuk dilakukan autopsi terhadap jenazah Viren. Meski begitu, sudah ada visum luar yang dilakukan oleh pihak rumah sakit, dan itu hanya bisa diambil oleh petugas kepolisian.
Untuk pengungkapan penyebab kematian anaknya, James mengambil contoh peristiwa yang hampir sama dan terjadi di Kabupaten Bone tahun lalu. Diksar Mapala yang dilaksanakan di sana menyebabkan satu orang peserta meninggal. Walau bukan di lokasi meninggalnya tapi di rumah sakit, polisi berhasil mengungkapnya. Sebanyak 16 orang ditetapkan sebagai tersangka.
”Penyidik waktu itu meminta keterangan lima orang teman korban. Mereka ada lebam-lebam dan divisum. Tidak dilakukan autopsi terhadap korban. Hasilnya, 16 orang jadi tersangka,” jelas James.
Selain itu, Diksar Mapala Unhas diketahui tidak mengantongi kepolisian dan pemerintah setempat. Sementara ketika mengajukan izin ke pihak rektorat, panitia diminta untuk mematuhi sejumlah poin penting. Salah satunya harus izin serta berkoordinasi dengan pemerintah dan kepolisian setepat.
”Waktu kami bertemu di pekuburan, Kapolsek Tompobulu menyampaikan, kalaupun panitia mengajukan izin, pihaknya tidak akan mengizinkan pelaksanaan Diksar tersebut. Alasannya, cuaca sedang ekstrem. Dalam kondisi seperti biasa saja, medan di lokasi itu cukup berat. Kalau seizin kepolisian pasti akan dilakukan pengawalan,” ungkap James lagi.
Fakta lain yang diungkap James, saat para peserta melanjutkan perjalanan, semua gawai milik mereka disita. Hal ini diindikasikan untuk menghindari pengambilan dokumentasi jika ada perlakuan yang tak seharusnya diterima oleh mereka.
Karena itu, menurut James, untuk kepentingan orang banyak, kasus yang menimpa anaknya harus diusut tuntas. Hukum harus ditegakkan agar peristiwa serupa tidak kembali terulang.
Yang sangat disayangkan James dan keluarga, hingga saat ini belum ada satu pun pihak panitia Diksar yang datang menemui keluarga. Yang pernah datang hanyalah pengurus Mapala.
Begitu pula dengan pihak rektorat. ”Katanya hari ini (kemarin) ada yang mau datang. Tapi sampai sekarang belum ada. Waktu pelepasan jenazah memang ada dari pihak rektorat yang datang. Tapi itu untuk memberikan kata sambutan. Tidak ada pembicaraan apapun,” tandasnya.
Selain itu, ada indikasi pihak panitia menyembunyikan sesuatu atas peristiwa yang menimpa Viren. Sebab informasi yang diperoleh keluarga, setelah Viren dilaporkan meninggal, peserta dan panitia tetap melanjutkan perjalanan hingga ke Malino. Sementara faktanya, hari itu mereka berkumpul di sekretariat Mapala Unhas.
”Ada eman Viren yang menyampaikan ke saya tentang hal itu. Karena dia kami minta untuk mengambil pakaian Viren di sekretariat, dan panitia bersama peserta ada di tempat itu. Bukan lanjut ke Malino,” beber James.
Di tubuh Viren, menurut James, terdapa tanda-tanda lebam. Oleh keluarga, lebam itu telah didokumentasikan dalam bentuk foto dan video. (*/rus)
