MAKASSAR,BKM.COM–SEORANG mahasiswa Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar (UINAM) telah menorehkan sejumlah prestasi tingkat nasional. Bersama timnya, ia sudah berkali-kali memenangkan lomba debat. Bahkan pada bidang di luar jurusan yang kini ditekuninya di bangku kuliah.
NAMANYA Ilham. Saat ini menempuh perkuliahan di Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan Masyarakat angkata 2021. Sederet prestasi telah disandangnya sejak dari bangku SMA hingga sekarang. Bahkan ada titel the best speaker atau pendebat terbaik tingkat nasional.
Ilham adalah Wakil I Duta Genre Sulsel 2020
. Ia juga juara tiga Lomba Debat Bioleaf Nasional 2021
. Juara tiga Lomba Debat Gema Pancasila Sulawesi Selatan
. The Best Speaker Debat Gema Pancasila. Juara dua Debat Politik Eltic
. Juara tiga Lomba Debat akutansi Universitas Fajar
.
Dia juga juara dua tingkat nasional pada Lomba Debat Ocean Psikologi UNM. Pada ajang itu, Ilham juga meraih penghargaan The Best Speaker. Ilham tercatat pula sebagai peraih Award The Most Out Standing Delegate as Delegate Brunei Darussalam dalam MUN ACIRS MUN. Peraih Award Verbal Commendation MUN Nasional. Peraih Penghargaan Mahasiswa Berprestasi Nonakademik Kesehatan Masyarakat UIN Alauddin Makassar 2021
.
Raihan prestasi itu diperoleh Ilham tidak dengan mudah. Perjalanan panjang telah dilaluinya dari kampung halamannya di Deakaju, Kadingeh
, Kabupaten Enrekang.
Menjadi tamu siniar untuk kanal Youtube Berita Kota Makassar, Ilham berkisah tentang masa kecilnya hingga menjadi mahasiswa. Termasuk ketertarikannya terjun ke dunia debat.
”Saya tertarik ikut lomba debat karena menyadari potensi dalam diri ada public speaking. Saya sering menonton di Youtube dan ketemu dengan satu konten. Ternyata ada sebuah debat bergengsi MK. Sepertinya seru kalau diikuti dan dilakukan,” ujarnya.
Diakuinya, ketika duduk di bangku SMA ada keterbatasan untuk mendapatkan informasi tentang lomba semacam itu, walau sekolahnya lumayan terkenal. Hingga suatu waktu ada sebuah perlombaan debat yang dibuka oleh MGMP (Musyawarah Guru Mata Pelajaran) Bahasa Inggris. Menjadi lomba debat pertama yang diikutinya, Ilham bersama tiga temannya yang mewakili sekolah berhasil keluar sebagai juara satu. Sementara Ilham terpilih sebagai The Best Speaker alias pendebat terbaik.
Walau mengaku belajar secara otodidak dengan menonton Youtube, Ilham tak memungkiri ada support dari guru pembimbingnya. Terutama guru bahasa Inggris dan bahasa Indonesia. Mereka terlibat memandu sekaligus mengontrol pengucapan dan susunan argumentasi yang tepat bagi Ilham.
Di tahun 2020, ketika pandemi mulai melanda dan aktivitas dilakukan secara daring, Ilham mengikuti lomba pidato Genre (Generasi Berencana). Predikat juara satu tingkat Kabupaten Enrekang berhasil disandangnya. ”Ternyata seru juga Genre untuk didalami,” katanya.
Ia lalu mencoba mendaftar untuk jadi Duta Genre. Dari tingkat kecamatan Ilham mendaftar untuk bertarung pada ajang tingkat kabupaten. Lagi-lagi juara satu disabetnya.
Terpilih mewakili Kabupaten Enrekang, ia lalu dipercaya naik ke tingkat provinsi. Persaingannya begitu ketat. Karenanya, Ilhman sempat ada insecure. Ia tak percaya diri dengan fisiknya yang pendek serta gemuk. Ketika itu bobot badan Ilham 70 kg. Kini berhasil diturunkannya menjadi 63 kg.
Selain faktor fisik, Ilham juga insecure di bidang pengetahuan. Karena baru beberapa bulan mendalami tentang Genre usai menang lomba pidato. Namun, ia menegaskan bahwa jika tidak percaya pada diri sendiri tentu yang kecewa adalah diri sendiri. Akhirnya ia pun berbulat tekad dan menyatakan bisa mengikuti lomba tersebut. Ditambah lagi prinsipnya yang selalu siap 101 persen setiap hendak mengikuti lomba.
‘”Waktu itu saya SMA kelas III. Sementara yang ikut lomba ada mahasiswa dari UNM, UIN, Unhas dan beberapa universitas ternama. Walaupun ada yang seumuran dengan saya, mereka sudah mendalami Genre dari tahun-tahun sebelumnya. Ada juga yang sudah berpengalaman di duta lain, seperti Duta Literasi, Dunia ANak. Sementara saya belum punya apa,” terangnya.
Pertama kali ikut pemilihan duta, diakui Ilham bukan semata untuk pageant. Melainkan bagaimana caranya mendedikasikan diri bagi remaja yang ada di daerahnya. Setelah melalui persaingan ketat, ia pun berhasil meraih predikat juara dua tingkat provinsi kategori putra.
Tentang latar belakang orang tua, Ilham menyebut ayahnya sudah berpulang ketika dirinya masih berusia dua tahun. Sementara ibunya sama sekali tidak pernah mengenyam bangku sekolah. Kakak-kakaknya berhenti setelah lulus SMA. Hanya Ilham sendiri yang lanjut sampai di bangku perguruan tinggi.
”Keluarga menjadi support system bagi saya untuk selalu melakukan yang lebih. Tujuan saya lanjut kuliah, bagaimana bisa mengangkat derajat keluarga ke tingkat yang lebih baik lagi. Karena itu, yang menjadi motivasi motivasi terbesar adalah keluarga dan diri saya sendiri,” tandasnya.
Ilham juga berkisah tentang kehidupannya ketika masih kecil. Ketika hendak menempuh pendidikan di bangku SMP, ia harus meninggalkan kampung halaman dan ibunya. SMP di daerahnya berjarak 12 km dari tempat tinggalnya. Dia pun memilih untuk hidup mandiri.
Ketika duduk di kelas satu Ilham tinggal menumpang. Setelah naik kelas dua ia memilih untuk tinggal di tempat kos-kosan.
”Walau hidup kami susah, ibu selalu memberi support yang luar biasa. Ketika berangkat dari kampung ke kecamatan saya hanya dikasih uang Rp120 ribu. Itu saya pakai hampir tiga bulan dengan tidak jajan,” ungkapnya.
Uang jajan yang diberikan ibunya, oleh Ilham ditabung untuk dipakai usaha. Apalagi sejak di bangku SD dirinya sudah keliling berjualan semangka. Ketika itu, satu buah semangak dipotong berbentuk segitiga. Hal yang sama kemudian dilakukannya ketika masuk SMP.
”Saya memang ada passion untuk jualan. Pernah jualan kerudung yang ukuran agak besar dengan harga murah. Target jualannya adalah guru. Pernah juga jualan kosmetik. Pernah kerja sama dengan pemilik usaha sablon. Saya pesan baju, dia yang sablonkan bajunya. Keuntungannya ke saya,” imbuhnya.
Sebenarnya, menurut Ilham, orang tua melarangnya untuk berjualan. Karena ibunya masih bisa memberikan uang jika butuh. Namun, bagi Ilham uang bukan yang jadi masalah, melainkan bagaimana mengembangkan diri dan melatih diri dari sekarang. (*/rus)
