MAKASSAR,BKM– Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Makassar mendorong Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Daya Makassar, untuk terus memperkuat sektor sumber daya manusia (SDM) pelayanan kesehatan. Pasalnya, beberapa kali aduan dan masukkan yang menilai pendapatan tenaga kesehatan masih minim.
Menurut Wakil Ketua Komisi D DPRD Kota Makassar yang membidangi Kesejahteraan Rakyat Kasrudi, pembenahan perlu dilakukan Pemerintah Kota Makassar khususnya Dinas Kesehatan untuk memperbaharui kinerja pelayanan kesehatan guna penguatan sumber daya manusia setelah RSUD Daya Makassar direnovasi.
“Bagaimanapun rumah sakit bagusnya dan terus direnovasi kalau tidak ada pembenahan dari dalam kan percuma. Kunci dari permasalahan rumah sakit ini adalah pelayanan, terutama pada manajemen sumberdaya manusianya,” ungkapnya, Rabu (15/2).
Lanjut Legislator Fraksi Gerindra DPRD Makassar ini bahwa RSUD Daya rencananya akan memiliki gedung lima lantai dengan total kamar sesuai Kelas Rawat Inap Standar (KRIS) dari Kemenkes RI yakni sebanyak 250 kamar.
“Apalagi ini bantuan yang diberikan dari pusat harus dimanfaatkan dan dibarengi perubahan pelayanan. Agar masyarakat juga terlayani dengan baik di RSUD Daya. Karena layanan kesehatan yang layak merupakan prioritas utama yang harus dipenuhi oleh Pemerintah,” jelasnya.
Begitupun yang dikatakan, anggota DPRD Makassar, Hamzah Hamid mengaku sudah saatnya pelayanan kesehatan di RSUD Daya terus dibenahi dan harus terus meningkatkan kualitas pelayanan terhadap masyarakat karena urusan kesehatan adalah urusan dasar yang merupakan urusan wajib Pemerintah.
“Kita sangat menaruh atensi terhadap pelayanan kesehatan di Makassar. Pemkot saat ini harus membenahi SDM kesehatan, agar terus diperkuat,”tutur Legislator Fraksi PAN DPRD Makassar ini.
Terlebih lagi saat ini, Kata Hamzah penguatan di bidang kesehatan selalu luput adalah penguatan pelayanan yang dilakukan SDM kesehatan. Baik dari segi kemampuan maupun kesejahteraan tenaga medis.
“Jangan sampai bangunan sudah bagus, sementara tenaga kesehatannya masih ada yang pendapatannya Rp250 ribu per bulan. Serta masih kurang dokter-dokter spesialisnya,” bebernya. (ita)
