MAKASSAR, BKM–Perhelatan politik tidak lama lagi akan digelar tepatnya 14 Februari 2024 mendatang. Meski di pihak lain ada saja yang melakukan judicial review (JR) terhadap Undang-udang pemilu serta adanya wacana penundaan pemilu oleh pihak tertentu dikhawatirkan merusak demokrasi.
Apalagi upaya JR yang terkesan memaksakan untuk berlakunya sistem tertutup ketimbang sistem terbuka.
Kedua sistem ini sama-sama memiliki titik lemah, sistem tertutup hanya akan menguntungkan partai lama yang besar, tetapi sistem terbuka juga membuat cost politik lebih mahal.
Wakil Ketua yang juga Juru Bicara DPW Partai Ummat Sulsel, Dr. H Syahruddin Yasen menilai jika sistem terbuka masih lebih baik dibanding sistem tertutup, karena bisa mencegah tumbuh kembangnya politik kekuasaan yang otoriter.
“Oleh karena itu, kehadiran Partai Ummat untuk menantang upaya menuju sistem pemilu tertutup. Artinya bagi kami Partai Ummat tidak menginginkan Mahkamah Kontitusi menerima JR’ dan kami harus menentangnya,”, tutur Syahruddin Yasen, Senin (20/2).
Syahruddin Yasen yang juga Ketua DPW Asosiasi Dosen dan Guru Indonesia (ADGI) Sulsel ini menambahkan, Partai Ummat sedang dan akan berjuang melawan kezaliman dan menegakkan keadilan, dengan cara berusaha keras dan strategis untuk menang dengan cara-cara yang elegan, dan tidak menghalalkan segala cara. ” Partai Ummat menargetkan satu kursi setiap daerah pemilihan (Dapil). Termasuk saya yang akan bertarung menuju DPRD Kota Makassar melalui Dapil V yang meliputi Kecamatan Mamajang, Mariso dan Tamalate. Insya Allah bisa, dengan indikator titik simpul- simpul warga yang saya sudah bina sejak lama’.”jelas pria kelahiran Bima, 17 Juni 1967 ini.
Sejumlah simpul terus digalang hingga turun ke masyarakat gress root, melakukan komunikasi dengan mengurus majelis taklim, penjual asongan dan kaki lima, “Juga penanganan anak jalanan melalui rumah singgah,”jelas Ketua Yayasan YASPINDO yang juga mengasuh Panti Asuhan dan pondok pesantren Syekh Subakir Makassar serta pendidikan TK, SD Al Khoiriyah ini.
Ditambahkan bila terkait idealisme Partai Ummat mengusung Politik identitas. “Politik identitas artinya politik yang transparan tidak abu-abu, poltiik yang rahmatan Lil alamin. Partai politik yang tidak memiliki identitas, akan kehilangan jati diri, sekaligus sulit meraih reputasi psikolog masyarakat, terkecuali bagi mereka memang tidak paham Islam secara benar”, tandasnya. (rif)

