MAKASSAR, BKM — Pemerintah Kota (Pemkot) Makassar di bawah kepemimpinan Wali Kota Mohammad Ramdhan Pomanto berupaya mendongkrak Pendapatan Asli Daerah (PAD) hingga mencapai Rp2 triliun. Untuk mencapai angka yang ditargetkan tersebut, inovasi untuk mencari sumber pendapatan baru terus dilakukan.
Salah satunya dari pengelolaan air limbah tinja. Hampir dipastikan, Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Kota Makassar akan diberi kepercayaan untuk mengelola limbah kotoran manusia tersebut hingga menghasilkan cuan. Hal itu mengacu pada Peraturan Daerah (Perda) Nomor 7 tahun 2019 tentang PDAM Kota Makassar. Bahwa tugas PDAM adalah mengelola air bersih maupun air limbah. Potensi pendapatan dari limbah kotoran manusia tersebut tidak main-main karena bisa mencapai puluhan miliar.
Seperti diketahui, melalui proyek Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR), saat ini sementara dibangun jaringan perpipaan untuk Instalasi Pengelolaan Air Limbah (IPAL) Losari. Nantinya, IPAL tersebut akan diserahkan ke Pemkot Makassar untuk dikelola. Cakupan layanan IPAL Losari sendiri ada di empat kecamatan, yakni kecamatan Mamajang, Ujung Pandang, Mariso, dan Tamalate.
Menurut Direktur Air Limbah PDAM Kota Makassar Aiman Adnan, kapasitas IPAL Losari bisa mencapai 16 ribu kubik per hari dengan total sambungan 14 ribu. Kurang lebih 8.400 di antaranya domestik dan 5.600 komersil.
Tahun ini, PDAM menarget 1000 sambungan bisa terpasang hingga akhir 2023. Dari hasil hitung-hitungannya, melalui pengelolaan IPAL Losari, pendapatan yang bisa dibukukan sekitar Rp500 juta.
“Untuk IPAL Losari kita target bisa dapat Rp500 juta per tahun. Memang masih dapat subsidi. Begitu MoU-nya ketika mau dibangun, pemerintah harus subsidi dulu,” ucap Aiman Adnan yang ditemui di ruang kerjanya, Jalan Ratulangi, Senin (27/2)
Selain empat kecamatan di atas, PDAM juga akan melakukan ekspansi usaha untuk Layanan Lumpur Tinja Terjadwal (L2T2) di Kota Makassar. Potensi pendapatan dari penyedotan tinja bisa mencapai Rp26 miliar per tahun.
Aiman mengaku sudah mengkalkulasi potensinya. Bahkan telah dipaparkan saat rapat koordinasi (rakor) pendapatan di Bali beberapa waktu lalu.
Penanganan tinja tersebut akan disedot tiap dua tahun sekali. Estimasi pembayaran untuk satu kali penyedotan sebesar Rp325 ribu.
Namun, masyarakat atau pelanggan akan diberi kemudahan. Mereka bisa menyicil pembayarannya tiap bulan, kira-kira Rp13.500 per bulan yang akan dibayarkan.
“Nanti tagihannya kita satukan di rekening yang sama, air bersih dan air tinja. Kita bisa dapat pendapatan Rp26 miliar dari air limbah,” sebutnya.
Kesiapan PDAM untuk menggarap potensi pendapatan tersebut sudah matang. Pihaknya bahkan sudah memiliki sistem pembayaran. Sisa menunggu regulasinya yang sekarang ini dalam proses penyusunan naskah akademik.
Kemudian untuk SDM-nya, PDAM sudah lama mempersiapkan tenaga-tenaga andal dengan aktif mengikutkan mereka program pelatihan. “SDM kita sekarang tiap minggu dilatih sesuai keilmuannya. Sudah dilatih job training. Mereka dilatih khusus persiapan pengelolan IPAL,” sebutnya.
Pendapatan air limbah tidak mentok pada penyedotan tinja saja. Air hasil olahan air limbah pun bisa jadi uang. Belum lagi kotoran padat yang bisa dikelola menjadi pupuk. Dia mengaku, Dinas Ketahanan Pangan Provinsi Sulsel sudah melirik air buangan tersebut untuk dimanfaatkan.
Wali Kota Makassar Mohammad Ramdhan Pomanto berharap pengelolaan air limbah tersebut nantinya bisa dimaksimalkan karena punya potensi yang menjanjikan untuk menyokong peningkatan PAD. “Itu memang menjadi potensi PAD yang cukup menjanjikan. Dengan catatan dikelola secara maksimal dan profesional,” kata Danny.
Khusus untuk IPAL Losari, merupakan proyek strategis nasional. Setelah pembangunan infrastruktur jaringan perpipaan, akan diserahkan ke Pemkot Makassar untuk pengelolaannya. Pembangunan IPAL ini tidak hanya berhenti di empat kecamatan saja. Namun akan dilanjutnya ke kecamatan lain.
Nantinya, warga Makassar, khususnya di empat kecamatan dimana IPAL terbangun tidak perlu lagi membuang limbah tinja ke septic tank. Limbah itu akan dibuang dan dialirkan melalui jaringan pipa yang telah dipasang. Selanjutnya, dialirkan hingga ke tempat pengelolaan air limbah yang ada di kawasan Tanjung Bunga. Warga akan dikenakan retribusi tergantung berapa banyak limbah yang telah dibuang.
Jadi, nanti ada meteran khusus yang mengukur berapa kubik pembuangan tinja yang dikeluarkan rumah tangga. Itulah yang menjadi acuan berapa retribusi yang akan dibayar sesuai dengan hasil hitung-hitungan ideal dari pengelola IPAL. (rhm)
Mengolah Limbah Tinja
Dapat Cuan
-Perda Nomor 7 tahun 2019 tentang PDAM Kota Makassar nmengatur bahwa tugas PDAM adalah mengelola air bersih maupun air limbah.
-Saat ini sementara dibangun jaringan perpipaan untuk IPAL Losari. Nantinya akan diserahkan ke Pemkot Makassar untuk dikelola.
-Cakupan layanan IPAL Losari di empat kecamatan, yakni Mamajang, Ujung Pandang, Mariso, dan Tamalate.
-Kapasitas IPAL Losari bisa mencapai 16 ribu kubik per hari dengan total sambungan 14 ribu. Sekitar 8.400 di antaranya domestik dan 5.600 komersil.
-Tahun ini, PDAM menarget 1000 sambungan bisa terpasang hingga akhir 2023.
-Melalui pengelolaan IPAL Losari, pendapatan yang bisa dibukukan sekitar Rp500 juta.
-Selain empat kecamatan, PDAM juga akan melakukan ekspansi usaha untuk Layanan Lumpur Tinja Terjadwal (L2T2) di. Potensi pendapatan dari penyedotan tinja bisa mencapai Rp26 miliar per tahun.
-Estimasi pembayaran untuk satu kali penyedotan sebesar Rp325 ribu.
-Masyarakat atau pelanggan akan diberi kemudahan dengan menyicil pembayaran tiap bulan, kira-kira Rp13.500 per bulan.
-Tagihannya disatukan di rekening yang sama, air bersih dan air tinja.
