MAKASAR, BKM — Makassar gagal meraih Adipura untuk tahun 2022 lalu. Jangankan piala, sertifikat atau plakat Adipura pun lepas.
Wali Kota Makassar Mohammad Ramdhan Pomanto pun kecewa dengan kenyataan tersebut. Namun dia mengaku sudah memprediksi jika daerah yang dipimpinnya saat ini sangat berat untuk meraih penghargaan tersebut. Ia pun mengungkap biang dari kegagalan tersebut.
“Saya tidak kagetji kita tidak dapat Adipura. Bagaimana kita mau raih Adipura, itu taman tidak terawat. Paling kotor. Belum lagi TPA open dumping. Ternak sapi juga masuk TPA,” ungkap Danny saat ditemui di kediaman pribadinya, Rabu (1/3).
Diapun menyoroti kinerja Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) yang belum lama ini diganti. Orang nomor satu Makassar itu mengatakan, kinerjanya sejak menjadi Kadis DLH memang paling rendah.
“Makanya kenapa saya ganti kadisnya. Kan saya bilang kinerja paling rendah. Bagaimana mau dapat Adipura,” jelasnya.
Berkaca pada kegagalan ini, Danny pun menginstruksikan seluruh pemangku kepentingan terkait untuk bersama-sama memenuhi indikator penilaian agar Makassar bisa meraih Adipura tahun ini.
“Bagaimana kita menata taman dengan baik, TPA Tamangapa juga diperbaiki. Pokoknya semua indikator penilaian harus dipenuhi. Insyaallah kita bisa raih Adipura tahun ini,” tambah Danny.
Dikonfirmasi terpisah, Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinas Lingkungan Hidup Makassar Ferdy Mochtar, mengakui ada beberapa indikator yang tidak bisa dipenuhi sehingga Makassar gagal meraih Adipura. Salah satunya adalah kondisi TPA Antang. Di sana cukup banyak ternak sapi yang masuk dan mencari makanan.
“Jadi diharapkan kesadaran bersama antara masyarakat, RT/RW dan kelurahan untuk menertibkan ternak yang masuk ke TPA,” ungkap Ferdy saat ditemui di ruang kerjanya, kemarin.
Secara logika, kata mantan Sekretaris Dinas Ketahanan Pangan Makassar itu, dari aspek lingkungan dan kesehatan hewan, sapi-sapi yang makan sampah tidak layak untuk dikonsumsi. Kemungkinan dagingnya mengandung zat berbahaya dari sampah yang dimakannya.
“Keberadaan hewan ternak di TPA harus segera ditertibkan. Tidak ada toleransi. Kita akan kerja sama RT/RW dan kelurahan, termasuk menggandeng Babinkamtibmas supaya tidak ada lagi ternak berkeliaran,” tambahnya.
Persoalan lain yang ditemukan, di TPA Tamangapa tidak ada unit pengolahan kompos. “Ini harus kita kembalikan karena masuk dalam kriteria Adipura, meskipun di beberapa titik ada bank sampah yang sangat aktif,” tambahnya.
Dia pun berkomitmen untuk berusaha memenuhi indikator Adipura dari sisi lingkungan hidup dengan jalan membuat posko di DLH. Selanjutnya, kinerja untuk mencapai target Adipura akan dievaluasi per triwulan.
“Akan dilakukan secara tersistem. Mulai dari penangan sampah dari masyarakat lewat bank sampah, kita tingkatkan kerja bank sampah, intensifkan pengelolaan maggot untuk manfaatkan sampah basah. Karena disamping sebagai pupuk kompos yang nutrisinya sangat bagus untuk tanaman, maggot juga bagus untuk pakan ternak, ikan, dan lainnya,” tutur Ferdy.
Khusus untuk penataan taman kota, DLH akan lebih intens melakukan koordinasi dengan kecamatan. Termasuk dalam memenuhi ruang terbuka hijau di Makassar. (rhm)
