MAKASSAR,BKM.COM–TERKADANG manusia rela menghabiskan uang dalam jumlah banyak untuk mengobati penyakit fisik. Sebaliknya, hanya sedikit yang berusaha mengobati penyakit yang ada di dalam hatinya, seperti iri, dengki, sombong, cemburu dan lainnya. Padahal, ada cara yang sangat efektif dan mujarab untuk menyembuhkannya.
RAMADAN menjadi salah satu hal mendasar dan hadiah sebagai simbol curahan kasih sayang Allah Swt yang tidak batasnya kepada umat manusia. Allah menginginkan keselamatan dengan adanya Ramadan ini. Dengan berpuasa di bulan Ramadan akan memperbaiki sel-sel yang rusak setelah banyak bekerja di 11 bulan sebelumnya.
”Karena itu, kalau dosa-dosa kita tidak diampuni di bulan Ramadan ini, di bulan mana lagi kita akan memohon ampunan atas segala dosa-dosa kita,” kata Ustaz H Juliadi Solong dalam tauziah Ramadanya di kanal Youtube Berita Kota Makassar.
Pengurus Pimpinan Pusat (PP) Ikatan Dai Muda Indonesia (IDMI) ini menerangkan, para sufi mengibaratkan Ramadan itu dengan 12 anak dari Kabi Yakub As. Salah satu di antara mereka, yakni Nabi Yusuf As dibuang ke sumur oleh saudara-saudaranya. Namun dalam perjalanan waktu dan atas izin Allah, Nabi Yusuf selamat hingga akhirnya menempati posisi-posisi strategis. Saudaranya yang telah berbuat dosa kepada Nabi Yusuf kemudian meminta dimohonkan ampun kepada Allah. Yusuf mengampuninya, lalu mendoakan dan memohon kepada Allah Swt.
Di bagian lain penjelasannya, Ustaz Juliadi mengatakan, kenapa Al-Qur’an diturunkan di bulan Ramadan? Kenapa bukan di bulan Syawal, Muharram atau bulan-bulan lainnya. ”Itu karena Al-Qur’an adalah penjelasan segala sesuatu, maka dia harus turun di bulan mulia, yaitu Ramadan,” tandasnya.
Disebutkan Ustaz Juliadi, Al-Qur’an adalah kitab yang berisi nasihat dan pelajaran. Menjadi penyembuh penyakit-penyakit non fisik. ”Namun terkadang, oleh orang tua kita dulu, biasa menggunakan ayat-ayat Al-Qur’an untuk mengobati penyakit fisik. Misalnya, cukup membacakan Al-Fatihah lalu ditiupkan ke dalam air, penyakit fisik bisa disembuhkan,” tuturnya.
Namun, lanjut Ustaz Juliadi, yang paling banyak bisa diobati dengan Al-Qur’an adalah penyakit hati. Dengan Al-Qur’an seseorang bisa melihat fakta yang sebenar-benarnya. Termasuk membersihkan dan menyembuhkan.
”Allah selalu mengajarkan kepada kita cara berempati kepada orang lain. Kadang ada saudara kita yang membutuhkan uang ketika dia sakit, yang kita bawakan adalah ucapan kasih sayang, seperti kata sabar. Padahal semestinya, sakitnya itu dulu yang disembuhkan baru ada kasih sayang. Kita mau memberi kasih sayang kepada orang yang kelaparan tidak cocok. Laparnya dulu harus diatasi dengan membawa makanan baru memberikan cinta kasih,” jelasnya.
Penyakit hari yang sudah menjadi kondumsi sehari-hari, bahkan terkadang manusia merasa tidak memiliki penyakit hari itu, dijelaskan oleh Ustaz Juliadi. ”Apakah penyakit hati ini sesuatu yang hadir dari awal penciptaan manusia? Tidak. Yang inheren adalah manusia diciptakan dengan fitrah. Jiwa kita bersih sebersih-bersihnya. Kapan penyakit hati hadir dalam diri manusia? Ketika kita banyak berinteraksi di ranah-ranah publik,” ungkapnya.
Lalu bagaimana menyembuhkanya? ”Harus diketahui penyakit hati dalam perspektif Al-Qur’an, apakah dia bisa memuliakan kita sebagai manusia. Atau sesuatu yang mendorong manusia hilang dari fitrahnya. Ini masalahnya. Semua penyakit hati, seperti tamak, iri, dengki, dan sombong bisa dihilangkan dengan banyak bersentuhan Al-Qur’an,” ujarnya. (*/rus)
