Site icon Berita Kota Makassar

Disiapkan Hujan Buatan di Puncak Musim Kemarau

MAKASSAR, BKM — Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Wilayah IV Makassar memperkirakan kemarau tahun ini akan lebih ekstrem dibanding tahun-tahun sebelumnya. Suhu udara bisa mencapai 35 derajat lebih. Puncak musim kemarau diperkirakan akan berlangsung Juni hingga Agustus mendatang.
Mengantisipasi cuaca ekstrem selama kemarau, Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Makassar Ahmad Hendra Hakamuddin menerangkan, ada sejumlah langkah yang sudah dipersiapkan.

Untuk jangka pendek, BPBD sudah berkoordinasi dengan Dinas Pemadam Kebakaran (Damkar) dan PDAM menyuplai kebutuhan air bagi masyarakat yang membutuhkan. Khususnya di wilayah-wilayah yang kerap kekurangan air bersih saat kemarau.
“Sesuai hasil koordinasi Damkar akan disiapkan lima unit mobil tangki. Airnya khusus didistribusikan untuk penggunaan MCK. Sementara PDAM menyiapkan 15 mobil untuk kebutuhan konsumsi,” ungkap Ahmad Hendra saat ditemui di Anjungan Pantai Losari, Rabu (26/4).
Lebih jauh dikemukakan, berdasarkan prediksi BMKG terkait cuaca kering di bawah normal yang puncaknya berlangsung antara Juni hingga Agustus, PDAM juga akan menyiapkan pompa di waduk Nipah-nipah, mengantisipasi sumber air baku di Lekopaccing mengalami kekeringan.
Pihaknya bersama Damkar dan PDAM juga sudah mengidentifikasi kecamatan-kecamatan yang berpotensi mengalami kekeringan, selanjutnya dipetakan untuk distribusi air bersih.

Persiapan jangka menengah, lanjut Hendra, pihaknya akan berkoordinasi dengan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) dan BPBD Provinsi Sulsel untuk melakukan teknologi modifikasi cuaca (TMC). TMC yang akan dilakukan adalah membuat hujan buatan jika memang kondisinya sangat dibutuhkan.
“Ini juga perlu kita lakukan mengingat keberhasilan kita kemarin pada saat musim hujan bisa dilakukan di Kota Makassar. Kita juga akan melihat potensinya apakah bisa dilakukan pada kekeringan ini, seperti hujan buatan. Kemarin kan kita hindari hujannya, sekarang kita akan mengikat awan supaya hujan. Nanti kita akan sama dengan BMKG dan BNPB melalui BPBD provinsi,” tambahnya.
Untuk hujan buatan ini, tambah Ahmad Hendra, harus diusulkan ke pusat karena biasanya antre jika ingin mengaplikasikan di salah satu wilayah.
Menyikapi cuaca panas yang cukup menyengat dan mulai terasa, Hendra mengimbau warga, jika beraktivitas di luar rumah sebaiknya mengenakan baju lengan panjang, gunakan topi dan sunblock. Dia juga mengimbau masyarakat untuk tidak terlalu khawatir terjadinya gelombang panas seperti di India.
Wali Kota Makassar Mohammad Ramdhan Pomanto meminta warga mengurangi aktivitas di luar rumah saat siang hari jika memang tidak terlalu penting. Danny mengaku sudah menginstruksikan PDAM untuk melindungi sumber-sumber air baku untuk diolah menjadi air bersih. Selain itu, mempersiapkan sumur-sumur bor sebagai sumber air baku cadangan.

“Iu salah satu mitigasi kita. Karena ini kita akan mengalami panas dengan derajat yang cukup tinggi dan berkepanjangan,” ungkap Danny, kemarin.
Jika dibutuhkan, lanjut orang nomor satu Makassar itu, akan dilakukan proses hujan buatan. “Itu nanti kita koordinasikan dengan pihak BMKG, kita berharap seperti itu,” ungkapnya.

Diapun mewanti-wanti ke seluruh warga untuk senantiasa waspada terhadap potensi kebakaran yang cenderung meningkat saat musim kemarau.
Khusus untuk personel pemadam kebakaran, diimbau untuk mempersiapkan diri dengan baik menghadapi potensi kebakaran. Bahkan, kalau memang dibutuhkan, caresteer yang saat ini ada empat ditambah satu.
“Kita kan punya caresteer ada empat. Kalau perlu kita tambah satu meskipun belum ada gedungnya. Tapi grupnya kita bikin untuk menyebar dan mempercepat aksesbilitas jika terjadi kebakaran di wilayah Makassar,” imbuhnya.
Sementara itu, Kepala BMKG Wilayah IV Makassar Hanafi Hamzah, menerangkan
terkait dengan berita yang beredar di masyarakat tentang gelombang panas akhir-akhir ini, menurut WMO (World Meteorological Organization), gelombang panas atau dikenal dengan “heatwave” merupakan fenomena kondisi udara panas yang berkepanjangan selama lima hari atau lebih secara berturut-turut, di mana suhu maksimum harian lebih tinggi dari suhu maksimum rata-rata hingga 5°C (9°F) atau lebih.
“Fenomena gelombang panas ini biasanya terjadi di wilayah lintang menengah-tinggi seperti wilayah Eropa dan Amerika,” ungkap Hanafi.
Secara dinamika atmosfer hal tersebut dapat terjadi karena adanya udara panas yang terperangkap di suatu wilayah disebabkan adanya anomali dinamika atmosfer yang mengakibatkan aliran udara tidak bergerak dalam skala yang luas, seperti ada sistem tekanan tinggi dalam skala yang luas dan terjadi cukup lama.

Secara geografis wilayah Indonesia berada di sekitar wilayah ekuatorial, sehingga memiliki karakteristik dinamika atmosfer yang berbeda dengan wilayah lintang menengah-tinggi. Selain itu, wilayah Indonesia juga memiliki variabilitas perubahan cuaca yang cepat.
Dengan perbedaan karakteristik dinamika atmosfer tersebut, maka dapat dikatakan bahwa di wilayah Indonesia tidak terjadi fenomena yang dikenal dengan gelombang panas atau heatwave.

Yang terjadi di wilayah Indonesia adalah kondisi suhu panas harian yang umumnya disebabkan oleh kondisi cuaca cerah pada siang hari dan relatif lebih signifikan pada saat posisi semu matahari berada di sekitar ekuatorial.
Pada pertengahan Mei ini, posisi semu matahari sudah berada di Belahan Bumi Utara (BBU) di sekitar 19°LU, kondisi tersebut mengindikasikan bahwa di wilayah Indonesia selatan ekuator akan menjelang periode angin timuran yang identik dengan musim kemarau.
Berdasarkan hasil pengamatan BMKG, suhu maksimum tanggal 16 Mei 2021 tercatat berkisar antara 33.0-35.2 °C dengan suhu maksimun 35.2 °C terjadi di Surabaya.

Kondisi suhu maksimum dengan kisaran tersebut masih berada kondisi normal, dimana perubahan suhu maksimum harian masih dapat terjadi dalam skala waktu harian bergantung pada kondisi cuaca atau tingkat perawanan di suatu wilayah.
Saat ini sebagian besar wilayah Indonesia akan memasuki awal musim kemarau, di mana tingkat perawanan akan cukup rendah pada siang hari, sehingga masyarakat diimbau dan diharapkan tetap mengantisipasi kondisi cuaca yang cukup panas atau kondisi terik pada siang hari dengan meningkatkan daya tahan tubuh dan menjaga kesehatan diri, keluarga, serta lingkungan. (rhm)

Exit mobile version