Site icon Berita Kota Makassar

Gubuknya Sempat Rubuh, tak Tersentuh Bantuan Pemerintah

MAKASSAR,BKM.COM–SEBUAH perkampungan kumuh berada di wilayah Kelurahan Pandang, Kecamatan Panakkukang, Kota Makassar. Puluhan keluarga yang rerata bekerja sebagai pemulung dan aktivitas nonformal lainnya tinggal di kawasan yang tak jauh dari kawasan elite Panakkukang. Tepatnya di ORW 02, Lorong 7 Jalan Adhyaksa Baru.

SEORANG nenek bernama Dg Sanging tinggal di tempat ini. Gubuknya sudah reyot. Pertama kali BKM mengunjunginya, kondisi gubuk tersebut sudah tak layak huni. Bahkan beberapa saat setelah tim Youtube BKM meninggalkan lokasi, gubung Dg Sanging rubuh pada malam harinya.
Beruntung, ada seorang perempuan yang disebut Dg Sanging dengan nama Miss, memberinya bantuan sebesar Rp500 ribu. Uang itulah yang dipakainya untuk membeli balok dan seng untuk membangun kembali gubuknya agar bisa ditempati. Proses pengerjaannya dilakukan oleh menantu Dg Sanging.
Walau belum rampung dan sebagian dinding belum dipasangi seng, Dg Sanging terpaksa harus tidur dan bermalam di tempat ini. Seorang cucunya yang sedang sakit demam ada di dalam gubukn tersebut.
”Waktunya rubuh, saya sendirian di dalam. Setelah rubuh tetapka tinggal, karena tidak ada bisa kutempati yang lain,” tutur wanita yang berasal dari Bontoramba, Kabupaten Gowa.
Di gubuknya, Dg Sanging tidak punya tempat untuk memasak. Sejak tidak adanya bahan bakar minyak tanah, ia tak pernah memasang. Karena yang dimiliknya hanya kompor menggunakan minyak tanah. Anak-anaknya yang tinggal berdampingan dengan gubuk Dg Sanging, biasanya memasak untuk ibu mereka.
Dari penuturan Dg Sanging, ia sudah 30 tahun lebih menetap di wilayah. Anak dan cucunya lahir di tempat ini. Suaminya dulu bekerja sebagai tukang sapu di sebuah perusahaan pengembang elite di Panakkukang. Ia sudah meninggal sembilan tahun lalu.
Walau kondisinya sangat memprihatinkan, namun bantuan tak menyentuh Dg Sanging. Ia hanya sekali pernah mendapatkan bantuan beras dua liter dan minyak goreng di bulan Ramadan. Bantuan pemerintah, seperti PKH, dari kelurahan ataupun Puskesmas tidak didapatkannya.
Menurut penuturan seorang anaknya, kader sudah pernah meminta dan mengumpulkan KK Dg Sanging. Hanya saja, ketika tiba giliran pembangian, semua tetangganya menerima bantuan namun Dg Sanging tak mendapatkannya.
Satu kali mendapatkan bantuan, itu pun Dg Sanging harus membayar bentor untuk berkeliling Toddopuli mencari lokasi pembagian. Lebih besar biaya sewa bentor yang dikeluarkan daripada nilai bantuan yang diperoleh.
Karena usianya yang sudah renta, Dg Sanging mendapat makan dan anak dan cucunya. Ada yang bekerja sebagai tukang parkir, ada pula yang jadi badut-badut di jalan. Itupun kostum badut yang dipakainya disewa dari orang lain. (*/rus)

Exit mobile version