MAROS, BKM — Dalam rangka menyambut Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas), Dinas Pendidikan dan kebudayaan (Disdikbud) Maros akan menggelar lomba bahasa daerah tingkat Sekolah Dasar (SD) dan Sekolah Menengah Pertama (SMP) se-Kabupaten Maros.
Ketua Musyawarah Kerja Kepala Sekolah (MKKS) SMP Maros, Syamsuddin, ketika dihubungi wartawan, Selasa (23/5) di gedung Baruga B kantor bupati Maros, mengatakan, kegiatan lomba bahasa daerah yang digelar Disdikbud Maros dalam rangka menyambut Hardiknas adalah upaya untuk melestarikan budaya daerah secara dini kepada anak anak kita yang sudah duduk dibangku sekolah dasar dan sekolah menengah pertama.
”Kegiatan yang dilaksanakan selama 2 hari di aula kantor Dinas Pendidikan akan diikuti para pelajar di tingkat SD dan SMP,” ujar Syamsuddin.
Syamsuddin menambahkan, lomba bahasa daerah yang akan dipertandingkan adalah puisi putra putri, pidato putra putri, dan dongeng putra putri.
Lomba bahasa daerah ini akan diikuti utusan masing-masing sekolah. ”Hampir seluruh sekolah sudah mempersiapkan siswa untuk mengikut lomba bahasa daerah ini,” sebut mantan kepala SMP Negeri 18 Lau.
Syamsuddin mengatakan, penyelenggaraan lomba bahasa daerah ini sebagai bagian melestarikan warisan budaya lokal khususnya bahasa bugis.
”Bahasa memiliki peranan sangat penting dalam kehidupan manusia. Karena dapat dijadikan sebagai instrumen komunikasi. Dan bahasa menunjukkan identitas suatu daerah dan bangsa,” katanya.
Terpisah, Kepala Seksi (Kasi) Pembinaan SMP Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Maros, Andi Takdir, mengatakan, kegiatan lomba bahasa daerah untuk pelajar sekolah dasar dan menengah bertujuan melestarikan bahasa daerahnya.
Sebab saat ini, sudah banyak anak-anak tidak paham bahasa daerahnya sendiri. Anak anak mengetahui ada bahasa daerahnya. Karena bahasa yang dipakai setiap hari adalah bahasa Indonesia.
Sehingga ia tidak memahami bahasa leluhur orangtuanya. Dengan adanya kegiatan ini, tentu anak-anak yang duduk di bangku sekolah perlu melestarikan budaya bahasa daerahnya agar mereka bisa paham atau mengerti bahasa daerahnya sendiri.
”Melestarikan budaya bahasa daerah secara dini kepada peserta didik menjadi tantangan besar bagi para generasi muda saat ini,” kata Takdir. (ari/c)
