MAKASSAR, BKM–Peluang Ketua umum Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Partai Golkar Airlangga Hartarto untuk merapat kekoalisi perubahan dengan calon presiden (Capres) bahkan menjadi wakil dari Anies Rasyid Baswedan sangat kecil.
Hal itu disampaikan pemerhati politik dari PT Nurani Strategic Dr Nurmal Idrus, Senin (5/6).
“Menurut saya agak sulit. Sebagai parpol pendukung pemerintah dimana ketua umumnya adalah anggota kabinet, maka itu sulit dilakukan Golkar. Namun, kita akan melihat perkembangannya ke depan. Dalam politik semua kemungkinan bisa terjadi dan itu termasuk juga rencana Golkar ke depan,”ujar Nurmal Idrus yang pernah tercatat sebagai Ketua KPU Makassar ini.
Pengamat politik dari Unismuh Makassar Dr Luhur A Prianto mengemukakan bila sikap Golkar di Rakernas seperti anti-tesa keputusan Munas dan Rapimnas sebelumnya. Di Rakernas ini, Golkar lebih pragmatis menatap persaingan Pilpres 2024. “Arahnnya termasuk meninjau ulang posisi di KIB. Di forum Rakernas ini juga, Golkar tidak lagi menentukan sikap yang tegas pada salahsatu Capres, tetapi memilih memberi mandat pada Airlangga menentukan Capres, Cawapres dan Koalisi. Padahal Airlangga sudah di tetapkan sebagai Capres melalui forum Munas dan Rapimnas sebelumnya. Golkar seperti menerjemahkan sikap dukungan politik istana yang mendua antara Ganjar atau Prabowo. Golkar pun akan berselancar mengeksplorasi potensi kedua Capres ini,”ujar Luhur kemarin.
Sementara arah perubahan dukungan ke Koalisi Perubahan yang mengusung Anies, juga tetap terbuka. Terutama jika bargaining Golkar di koalisi Ganjar atau Prabowo tidak cukup menguntungkan Partai Golkar. Secara psikologis dan historis, Nasdem dan Golkar bisa lebih mudah membangun komunikasi dan negosiasi ke tahap selanjutnya.
Hal sama disampaikan pengamat politik yang juga peneliti dari PT Lingkaran Survei Indonesia (LSI) Denny JA.
Menurut Denny JA, Golkar dapat membuat Anies memperoleh tiket Capres cukup dengan berkoalisi dengan salah satu partai apa saja, di luar PPP, agar mendapatkan tiket minimum 20 persen kursi DPR.
Golkar justru akan memiliki daya tawar (bargaining) lebih kuat lagi. Golkar dapat menggertak. Jika Airlangga tak menjadi Cawapres Ganjar atau Prabowo, maka Golkar dapat menghidupkan kembali tiket Capres Anies.
Tapi tentu itu bergantung pula pada kenekatan Airlangga. Ia akan berhitung apa yang akan menimpa dirinya dan Golkar jika berani mencalonkan Anies sebagai Capres. Airlangga akan berkaca dari apa yang dialami Surya Paloh.
Sebagaimana diketahi, Golkar baru saja menggelar Rakernas, di Jakarta, Minggu (4/6).
Usai Rakernas, Ketua Golkar Sulsel, Taufan Pawe (TP) menegaskan bila pihaknya tetap solid mendorong dan ingin memberikan dukungan kepada Airlangga sebagai Capres.
“Saya secara pribadi dan Partai Golkar Sulsel terus berkomitmen memberikan dukungan kepada ketua umum Airlangga Hartarto untuk kita usung dan bekerja memenangkan beliau terpilih menjadi presiden Indonesia pada Pemilu 2024 mendatang,”tegas TP.
Wali Kota Parepare dua periode ini turut melaporkan, proses konsolidasi organisasi serta pemenangan telah berjalan dengan baik dan solid. Sehingga, kepala daerah berlatar belakang profesional hukum ini meyakini, Partai Golkar akan menjadi pemenang pada Pemilu 2024 di Sulsel.
“Badan Saksi Nasional (BSN) Partai Golkar se-Sulsel yang telah terbentuk turut menyiapkan 10 orang saksi per TPS, dan dua orang saksi dalam TPS. Hal ini dilakukan demi menjaga suara dan kemenangan Partai Golkar,” kata TP. Rakernas memutuskan dengan memberi mandat penuh kepada Airlangga untuk menentukan siapa Capres, Cawapres, dan koalisi yang akan Golkar pilih pada Pilpres nanti. (rif)
