PENOLAKAN terhadap sistim proporsional tertutup juga disampaikan politisi dan pengusaha muda A, Fadel Muhammad Tauphan Ansar.
Fadel Muhammad menyampaikan pendapatnya sebelum Mahkamah Konstitusi (MK) memutuskan apakah pemilu menggunakan proporsional tertutup atau terbuka.
Fadel Muhammad Tauphan yang juga Ketua HIPMI Kota Makassar ini, menilai bila dalam sistem pemilihan proporsional tertutup, calon anggota legislatif (Caleg) akan cenderung mempertanggungjawabkan aspirasi partai politik daripada aspirasi konstituennya secara langsung.
“Caleg terpilih tentu akan lebih fokus pada kepentingan Parpol yang menempatkannya dalam daftar calon daripada memperhatikan kebutuhan dan aspirasi rakyat yang mereka wakili. Hal ini dapat mengurangi akuntabilitas wakil rakyat terhadap pemilih,” tandasnya.
Selain itu, sistem tersebut juga akan berefek pada rendahnya partisipasi publik dalam proses politik. Sistem proporsional tertutup cenderung mengabaikan preferensi pemilih secara langsung dan lebih menekankan pada kepentingan partai politik. Dalam konteks ini, Fadel percaya bahwa memperkenalkan sistem pemilihan proporsional terbuka dapat memberikan ruang yang lebih besar bagi partisipasi aktif pemilih dan menguatkan hubungan antara wakil rakyat dan konstituennya.
“Pemilih tentu merasa kurang terlibat karena mereka tidak memiliki pengaruh langsung dalam menentukan calon individu yang mereka pilih. Ini dapat mengurangi kepercayaan masyarakat terhadap sistem politik dan mengurangi minat mereka untuk berpartisipasi secara aktif dalam proses politik. Disamping itu, pemilih juga tidak dapat melihat dan mengevaluasi secara langsung kualifikasi dan rekam jejak calon individu yang mereka pilih,”jelas Fadel Muhammad yang juga Caleg DPRD Sulsel Dapil Makassar ini.
Dalam menyuarakan penolakan terhadap sistem pemilihan proporsional tertutup, para Caleg muda ini juga mengajak masyarakat untuk berpartisipasi aktif dalam mendiskusikan perubahan sistem pemilihan yang lebih baik. Mereka menyadari pentingnya melibatkan publik dalam proses pengambilan keputusan yang memengaruhi masa depan negara.
Dukungan terhadap penolakan sistem pemilihan proporsional tertutup ini juga mulai muncul dari berbagai pihak, termasuk kelompok masyarakat sipil, aktivis politik, dan pemilih. Mereka berharap bahwa perubahan ini dapat menjadi langkah awal menuju sistem pemilihan yang lebih demokratis dan representatif. (rif)

