PALOPO, BKM–Politisi Partai Gerindra yang juga bakal calon anggota legislatif (Bacaleg) untuk DPR RI Hj Aisyah Tiar Arsyad, berziarah ke makam dua pahlawan Sulawesi Selatan asal tanah Luwu, yakni Opu Daeng Risadju di Palopo, Rabu (5/7).
Sebelumnya, Aisyah Tiar yang maju melalui daerah pemilihan (Dapil) Sulsel III yang meliputi Kabupaten Sidrap, Pinrang, Enrekang, Tana Toraja, Toraja Utara, Luwu, Luwu Timur, Luwu Utara dan Kota Palopo ini berziarah ke makam Datuk Patimang di Malangke, Senin (3/7).
“Opu Daeng Risadju adalah sosok teladan bagi seluruh perempuan di Indonesia. Sikap pantang menyerahnya dalam memperjuangkan kemerdekaan Indonesia melalui partai politik wajib kita tiru. Dedikasinya dan perjuangannya untuk kepentingan masyarakat, terutama perempuan, patut diacungi jempol,” kata Aisyah usai berziarah.
Dia menjelaskan, Opu Daeng Risadju adalah contoh nyata dari keberanian dan semangat perempuan dalam berkontribusi secara aktif dalam pembangunan negara. Melalui upayanya, ia telah membantu mendorong kesadaran gender dan keadilan sosial di masyarakat. Opu Daeng Risadju telah berperan dalam memperjuangkan hak-hak perempuan, serta meningkatkan partisipasi politik dan ekonomi masyarakat.
“Kita butuh lebih banyak perempuan seperti Opu Daeng Risadju di arena politik, yang memiliki visi, komitmen, dan semangat untuk mengatasi berbagai isu yang dihadapi oleh masyarakat kita. Karena itu saya mencalonkan diri di Pemilu 2024 mendatang. Sebab dengan kehadiran dan kontribusi perempuan, kita dapat membangun masyarakat yang lebih inklusif, adil, dan berkelanjutan.
Opu Daeng Risadju bernama asli Famajjah adalah pejuang perempuan asal Sulawesi Selatan yang menjadi Pahlawan Nasional Indonesia karena turut memperjuangkan kemerdekaan Indonesia melalui Partai Syarikat Islam Indonesia (PSII) sebagai ketua. Ia merupakan wanita pertama yang memimpin organisasi politik di Indonesia. Karena pengaruhnya, Belanda kemudian menangkap Opu Daeng Risadju dengan tuduhan menghasut serta menyebarkan kebencian di lapisan masyarakat terhadap pemerintah Hindia Belanda.
Aisyah juga berziarah ke makam kakek buyutnya, yakni Datuk Patimang. Ulama besar bernama asli Datuk Sulaiman dan bergelar Khatib Sulung ini menyebarkan agama Islam ke Kerajaan Luwu pada tahun 1593. Datuk Patimang adalah saudara dari Datuk ri Bandang yang bernama asli Abdul Makmur dengan gelar Khatib Tunggal dan Datuk ri Tiro yang bernama asli Nurdin Ariyani dengan gelar Khatib Bungsu. Mereka adalah wali yang membawa dan menyebarkan ajaran Islam di Sulawesi Selatan.
Melihat kondisi infrastruktur kompleks makam Datuk Patimang sebagai cagar budaya nasional yang kurang terurus, Aisyah merasa terenyuh dan berkomitmen memperjuangkan peningkatan anggaran pelestarian cagar budaya di Senayan apabila terpilih di Pemilu 2024 mendatang.
“Dengan ditingkatnya cagar budaya ini, tentunya akan menjadi salah satu peningkatan pendidikan juga buat anak-anak penerus bangsa. Mereka harus tahu siapa leluhurnya. Mereka harus tahu bagiamana perjuangannya. Jangan sampai cagar budaya ini ditinggalkan begitu saja. Dan saya rasa banyak makna jika cagar budaya ini dilestarikan, banyak yang bisa dipelajari oleh anak-anak nanti ke depan,” tandas Aisyah.
Menurutnya, cagar budaya kompleks Makam Datuk Patimang sepatutnya dikembangkan sebagai tujuan wisata reliji di Sulsel, sebagaimana makam Walisongo di Pulau Jawa. Karena itu infrastuktur pendukung yang memadai sangat diperlukan. Hal tersebut juga akan berdampak pada kesejahteraan masyarakat sekitar kompleks makam, utamanya bisnis UMKM, sehingga makam ini hidup dan lebih dikenal di level nasional. (rif)
