SEBUAH event berskala nasional dilaksanakan Himpunan Mahasiswa Nutrisi dan Makanan Ternak (Humanika) Universitas Hasanuddin, Fakultas Peternakan. Pekan Ilmiah Humanika Sains Nasional (Pinisi) namanya. Saat ini telah dimulai tahapannya.
KETUA Umum Humanika Unhas Radhyanto bersama Ketua Panitia Pinisi Dwi Ananda Febryan hadir menjadi temu siniar untuk kanal Youtube Berita Kota Makassar. Radhy –sapaan akrab Radhyanto– membahas lembaga Humanika secara umum dan program kerjanya. Sementara Ryan, panggilan karib Dwi Ananda Febryan menjelaskan tentang Pinisi. Keduanya juga membahas tentang peternakan.
Radhy menjelaskan, Humanika Unhas berdiri pada 28 September 1998. Humanika merupakan lembaga keprofesian non struktural dari departemen. ”Di Fakultas Peternakan kan ada satu prodi tapi tiga departemen. Salah satunyanya Departemen Nustrisi. Secara non struktural yang ada di departemen itu adalah nutrisi ternak,” terang Radhy.
Ia mengakui, ada banyak yang bisa dilakukan di Humanika. Apalagi untuk mahasiswa, bisa mengasah softskill dan hardskill. Melakukan sebuah kegiatan yang disusun dalam program kerja.
”Contoh kecilnya kelas nutrisi. Bagaimana mahasiswa bisa mendapat materi di perkuliahan di kelas nutrisi lalu mengantarnya ke pengaplikasiannya. Misalnya bagaimana kita membuat pakan ternak. Apa yang didapat di ranah perkuliahan bisa diaplikasikan. Ada beberapa hal yang tidak didapatkan di perkuliahan, tapi di lembaga kemahasiswaan, khususnya Humanika Unhas bisa mengembangkan softskill dan hardskillnya,” jelas Radhy.
Selaku Ketua Panitia, Ryan menjelaskan tentang pelaksanaan Pinisi ke-5. Lomba ini berfokus pada karya tulis ilmiah (KTI). Di ajang ini mahasiswa akan membuat sebuah paper dengan konsep sesuai tema yang telah ditetapkan.
”Untuk pelaksanaan Pinisi ke-5 tahun ini, tema yang diusung adalah Aktualisasi Potensi Mahasiswa dalam Pembangunan Peternakan di Era Society 5.0 Menuju Indonesia Emas 2045,” ujar Ryan.
Pinisi yang dilaksanakan setiap tahun berlangsung sejak 2015. Pesertanya berasal dari banyak provinsi. Tahun lalu didominasi peserta dari Jawa, seperti UGM, UB, dan IPB. Perguruan tinggi ini yang sering mengikutkan mahasiswanya untuk bertanding di Pinisi tahun-tahun sebelumnya.
Ryan menjelaskan, saat ini Pinisi memasuki tahapan pendaftaran awal, yakni pengumpulan abstrak. Selanjutnya akan dilakukan seleksi menuju tahap selanjutnya.
Karena Pinisi kali ini eventnya sudah offline atau daring, euforianya sangat besar. Karena itu, panitia menargetkan peserta sebanyak 45 tim untuk tapa pengumpulan paper.
Tim yang ikut dalam ajang ini terdiri dari tiga orang. Satu ketua dan dua anggota, serta satu pembina. Setelah itu mereka harus membuat sebuah abstrak ada paper full yang akan diseleksi oleh dewan juri. Usai seleksi, peserta wajib mengumpulkan full paper. Dari situ akan ditentukan yang terbaik dan ditentukan untuk datang ke Makassar guna presentasi final.
Ditanya tentang tujuan pelaksanaan Pinisi, Ryan mengatakan, secara simpel untuk mengembangan hardskill dan softskill para peserta. ”Tapi secara spesifik bagaimana kita sebagai generasi emas, apalagi di Indonesia emas 2025 itu adalah swasembada daging, mencoba untuk mengimplementasikan ilmu peternakan sesuai kondisi saat ini. Sebagai mahasiswa harus memikirkan teknologi terapan yang pas untuk dapat membangunan peternakan di kehidupan berikutnya. Bagaimana mahasiswa menjadi pionir utama dalam pembangunan peternakan,” jelasnya.
Karena itulah, lanjutnya, kenapa LKTI kali ini dibuat secara general. Sebelumnya spesifik di bidang peternakan saja. Kali ini mengambil tema yang sedikit umum, agar apabila ada mahasiswa yang tertarik dengan Pinisi tapi terkendala bidang peternakan, tetap bisa ikut. Karena itu ada sub tema yang dibuat, yaitu Lingkungan dan Energi Terbarukan.
Di bagian lain penjelasannya, Radhy mengungkap bahwa setelah Pinisi akan ada ada program kerja lagi ke internal mahasiswa. Fokusnya ke warga Humanika, yaitu ekspedisi industri. Melalui program ini mahasiswa diajak untuk melihat teknologi industri yang mungkin secara modern, lalu bandingkan dengan teknologi industri sebelumnya.
”Kita akan mengunjungi industri-industri yang terkait peternakan. Tujuannya untuk mengasah softskill mahasiswa. Mahasiswa akan mendapatkan pengalaman baru karena turun langsung ke lapangan menyaksikan dan melakukan kegiatan-kegiatan industri,” terang Radhy.
Dalam pelaksanaan ekspedisi industri ini, mahasiswa bisa belajar tentang sanitasi kandang, memberikan pakan, mengambil rumput hingga menyuntik. Sebab, mahasiswa dengan backgroud peternakan tidak hanya belajar nutrisi dan makanan ternak saja, tapi sebagai Anak Kandang harus belajar lebih luas lagi. (*/rus)
