MAKASSAR, BKM — Sabtu malam (15/7) pukul 20.00 Wita, di Anjungan Pantai Losari tengah berlangsung pelantikan pengurus Majelis Pimpinan Wilayah (MPW) Pemuda Pancasila (PP) Sulsel. Banyak orang yang hadir. Termasuk unsur Forum Komunikasi Pimpinan Daerah (Forkopimda) Sulsel.
Prosesi memasuki penyerahan pataka PP. Dilakukan oleh Kepala Bidang (Kabid) Organisasi Majelis Pimpinan Nasional (MPW) PP Pusat Gunung R Hutapea. Seorang pria berseragam khas PP membawa pataka ke arah Gunung Hutapea yang berdiri tepat di depan Ketua MPW PP Sulsel Diza Rasyid Ali.
”Saya serahkan panji-panji kebesaran Pemuda Pancasila kepada Saudara Ketua Majelis Pimpinan Wilayah Pemuda Pancasila Provinsi Sulawesi Selatan masa bakti 2022-2027 untuk dikibarkan di seluruh pelosok Sulawesi Selatan melalui program-program unggulan. Saya serahkan,” begitu ucapan yang disampaikan Gunung Hutapea, sambil menyerahkan pataka kepada Diza Ali.
”Saya terima,” begitu kata Diza Ali yang menerima panji kebesaran organisasi. Bersamaan dengan itu pula Gunung Hutapea terjatuh ke lantai. Mereka yang berada di sekitarnya langsung memberikan pertolongan.
Senior Pemuda Pancasila itu langsung dilarikan ke Rumah Sakit Stella Maris yang berada tidak jauh dari lokasi pelantikan. Namun Tuhan berkehendak lain. Tak lama berselang Gunung Hutapea dinyatakan meninggal dunia. Selanjutnya dibawa ke ruang jenazah untuk menunggu pemberangkatanya ke Jakarta. Keesokan harinya, Minggu (16/7) pagi, jenazah almarhum diterbangkan dengan menggunakan pesawat Batik Air.
Kepergian untuk selama-selamanya Gunung Hutapea meninggalkan kesedihan mendalam bagi organisasi PP, khususnya di Sulsel. Sekretaris Umum MPW PP Sulsel Tri Sulkarnain Ahmad yang dihubungi, kemarin mengatakan seluruh keluarga besar Pemuda Pancasil merasa sangat kehilangan.
“Kepergian almarhum sangat mengejutkan. Apalagi beliau meninggal pas menjalankan tugas. Kami sangat merasa kehilangan dengan kepergian almarhum,” ujar Tri.
Lebih jauh dikemukakan, sebelum terjatuh saat memegang bendera pataka, kondisi almarhum terlihat sehat. Tidak ada keluhan sama sekali. Malah sebelum acara berlangsung, masih sempat mengatur setting acara.
“Iya, tidak ada (keluhan). Beliau berangkat dari Malang menuju Makassar. Sampai di lokasi acara, masih sehat. Masih sempat mengatur setting acara. Kemungkinan almarhum kelelahan. Tapi tidak ada mengeluh,” tuturnya.
Tri Sulkarnain mengatakan, selama hidupnya Gunung Hutapea mengabdikan diri untuk membesarkan PP. Ia begitu paripurna di organisasi ini. Almarhum menjadi pengurus mulai dari bawah hingga menjadi pucuk pimpinan di Pemuda Pancasila.
Banyak kader PP yang menjadikan sosok almarhum sebagai mentor. Bukan hanya di PP, namun di organisasi pemuda KNPI pun, ia kerap memberikan masukan hingga di tingkat pusat.
“Beliau itu bisa dibilang hidup matinya di PP. Semua tingkatan pengurus pernah beliau jalani, dari bawah. Banyak kader PP yang menganggap beliau mentor. Bukan hanya di PP, di KNPI pun beliau banyak memberi masukan di tingkatan pusat,” tandas Tri Sulkarnain.
Kepergian almarhum yang tidak terduga itu menjadi topik pembicaraan di media sosial Instagram milik pengacara kondang Hotman Paris Hutapea. Dalam medsosnya, Hotmanparisofficial, dia menuliskan,” Gunung Hutapea meninggal saat acara PP di Makassar, jatuh saat acara. Apa benar kejadian ini? Gunung Hutapea (Pengurus Pemuda Pancasila) adalah teman sekampung Hotman di Toba dan sekumpulan adat di Jakarta. Hai para dokter, apakah ini karena jantung?”
Seorang netizen dengan akun Robinderderdhillon menjelaskan, “ijin opung, saya dokter. Mayoritas cardiac arrest. Diagnosa coronary artery disease, yang disebabkan oleh penyumbatan pembuluh darah jantung.” (rhm)
