Site icon Berita Kota Makassar

Rumuskan Program, Aisyah Serap Aspirasi Petani

SIDRAP, BKM–Politisi Partai Gerindra yang kini tercatat sebagai bakal calon anggota legislatif (Bacaleg) DPR RI yang maju melalui daerah pemilihan (Dapil) Sulsel III meliputi Kabupaten Sidrap, Pinrang, Enrekang, Tana Toraja, Toraja Utara dan Luwu Raya Hj Aisyah Tiar Arsyad intens turun menyapa masyarakat guna menyerap aspirasi demi merumuskan program perjuangan yang sesuai dengan kebutuhan konstituen.

Menurut Aisyah, program perjuangan seorang legislator sepatutnya sesuai dengan kebutuhan masyarakat. Program perjuangan yang berkaitan dengan legislasi, budgeting, dan pengawasan wajib dirumuskan berdasarkan aspirasi konstituen. Bukan dirumuskan sendiri secara serampangan tanpa mendengarkan keluhan masyarakat.
“Hari ini kami menyusuri Kabupaten Sidrap, selain untuk mengkonsolidasikan tim pemenangan juga untuk menyerap aspirasi masyarakat,”ujar Aisyah usai melakukan konsolidasi tim pemenangan di Kelurahan Panreng, Kecamatan Baranti, Kabupaten Sidrap, Sabtu (16/9) malam.

Dan kini, Minggu (17/9) pagi, Aisyah berdiskusi dengan kelompok tani Karya Bersama guna menyerap aspirasi petani padi organik ini.
Dalam diskusi tersebut, Aisyah menyempatkan melihat langsung pabrik pupuk organik yang dikelola kelompok tani tersebut.
Para petani organik tersebut mengeluhkan ribetnya regulasi terkait izin merek padi organik. Pengurusan izin untuk menjual beras dengan merek Beras Organik masih belum kelar sampai hari ini. Padahal padi yang dihasilkan adalah padi organik, dimana pupuk yang digunakan adalah pupuk organik, termasuk insektisida dan pestisida yang digunakan juga 100 persen berasal dari bahan-bahan alami tanpa campuran bahan kimia.
“Karena itu, keluhan dari petani yang dengarkan hari ini akan menjadi salah satu program prioritas saya di DPR nanti. Baik dari segi legislasi, budgeting maupun pengawasan,”imbuh Aisyah.
Sehari sebelumnya, Aisyah mengaku miris lantaran melihat rumah warga miskin di Desa Panreng, Kecamatan Baranti Sidrap tak pernah tersentuh bantuan.
Di desa itu, pasangan Leman dan Naini berdiam di rumah tua dengan kayu yang sudah lapuk, dinding terbuat dari anyaman bambu serta atap seng bekas yang kerapkali bocor setiap musim hujan tiba. (rif)

Exit mobile version