MAROS, BKM — Kawasan wisata Dolli Bunga Eja kini banyak dikunjungi wisatawan lokal (Wislok) dari berbagai daerah di Sulsel. Kawasan yang berupa sebuah kolam permandian seluas 21×25 meter menjadi daya tarik bagi Wislok untuk mendatangi tempat wisata di Desa Tukamasea, Kecamatan Bantumurung, Maros.
Apalagi dikelilingi gugusan pegunungan karst dan hamparan persawahan hijau yang memanjakan hati dan mata setiap pengunjung yang datang ke tempat ini.
Kolam wisata karst dibangun pada tahun 2019 oleh Pemerintah Desa Tukamasea dan dikelola Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) melibatkan masyarakat sekitar yang tergabung dalam Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis).
”Kolam wisata Bunga Eja dibangun pada tahun 2019 dengan menggunakan anggaran dana desa, dikelola BUMDes melibatkan masyarakat yang tergabung dalam Pokdarwis,” jelas Kepala Desa Tukamasea, Makmur saat dihubungi wartawan, Kamis (28/9).
Menurut Makmur, sejak tiga tahun lalu wisata karst ini mulai dibuka penggunaannya dan diberi nama Wisata Dolli Bunga Eja. Pemberian nama Dolli berarti tinggi. Sementara Bunga Eja diartikan sebagai bunga berwarna merah yang banyak tumbuh di sekitaran tempat wisata ini.
”Baru jalan dua tahun wisata ini mulai dilaunching penggunaannya dan dinamakan wisata Dolli Bunga Eja. Karena sumber airnya dari mata air Dolli yang berada di kaki gunung Dolli yang memiliki mata air,” cerita Makmur.
Ditambahkan Makmur, sebelum wisata ini menjadi Destinasi Wisata Populer, area wisata ini hanya sebuah rawa-rawa lokasi pengambilan air untuk pengairan irigasi masyarakat. Namun setelah melihat adanya potensi peluang pemerintah desa setempat lalu membangun kolam wisata. ”Tempat wisata ini awalnya berasal dari tempat pengambilan air untuk pengairan permanen sejak 1997. Dari tahun itu sampai 2019, tidak terpakai menjadi tempat rawa-rawa,” kata Makmur.
Melihat ada jalan untuk pengembangan wisata, maka tahun 2019 dianggaran dengan sumber dana desa untuk dimanfaatkan membangun kolam wisata sesuai peruntukan dana desa yang sudah dianggarakan.
”Alhamdulillah, kerja sama yang baik dengan masyarakat desa hingga rencana kami terkabulkan dan kini sudah menjadi wisata kebanggaan warga Maros,” ujar Makmur.
Untuk menjadikan wisata ini menjadi sumber Pendapatan Asli Daerah (PAD) ditingkat desa, kawasan wisata ‘Dolli’ dikomersilkan untuk masyarakat umum. Alhamdulillah, respon masyarakat sangat bagus.
Pengunjung dari berbagai daerah di Maros mulai berdatangan. Bahkan banyak juga dari luar Maros sengaja berkunjung bersama keluarga di wisata Dolli ini.
”Panorama alam wisata ini telah memanjakan para pengujung hingga banyak yang datang berkali-kali untuk berekreasi,” sebut Makmur.
Untuk biaya masuk ke tempat wisata permandian Dolli, pengunjung cukup merogoh kocek sebesar Rp10 ribu per kepala. Sementara untuk tiket anak hanya Rp5 ribu. Khusus dihari Senin sampai dengan Jumat, pengelola memberi diskon 30 persen kepada pengunjung. Kawasan wisata ini ramai pada saat weekend, minggu, dan hari raya libur nasional, engunjung bisa mencapai 500 orang per hari. Mereka datang dari berbagai daerah.
Sejak dibuka sampai sekarang, kawasan wisata Dolli Bunga Eja telah memberikan kontribusi terhadap PAD sebesar Rp60 juta.
Sementara itu Fachrul, salah seorang pengunjung asal Kota Makassar, mengatakan, dirinya sangat tertarik dengan keindahan yang disuguhkan pada tempat wisata kolam Dolli Bunga Eja.
”Yang menarik dari tempat wisata ini kolamnya dikelilingi gugusan karst. Kita bisa juga melihat hamparan sawah, suasananya adem, air kolamnya segar langsung dari mata air pegunungan Dolli. Yang jelas, tempat ini keren banget,” kata Fachrul. (ari/c)
