Site icon Berita Kota Makassar

Baru 13 Persen Sekolah Inklusif Miliki Pendidik Terlatih

MAKASSAR, BKM — Menteri Sosial RI Tri Rismaharini resmi membuka Forum Tingkat Tinggi Asean High Level Forum (AHLF) on Enabling Disability-Inclusive Development and Partnership beyond 2025 yang berlangsung di Hotel Four Points by Sheraton, Kota Makassar, Selasa (10/10). Dalam pelaksanaan event bertaraf internasional itu, Menteri Sosial (Mensos) Tri Rismaharini meminta kepada semua pihak untuk mengambil peran dalam menjamin kebutuhan dan hak-hak para disabilitas yang saat ini sudah menunjukkan kemajuan yang sangat signifikan dalam 10 tahun terakhir.
“Selama sepuluh tahun terakhir, kita telah menyaksikan kemajuan signifikan dalam mendorong inklusi penyandang disabilitas. Kemajuan ini terlihat melalui integrasi hak-hak penyandang disabilitas ke dalam tujuan pembangunan berkelanjutan dandokumen internasional lainnya,” kata Risma.
Ia menjelaskan, khusus di Indonesia, inklusi disabilitas diintegrasikan ke dalam Rencana Aksi Nasional Penyandang Disabilitas yang mengatur pelaksanaan pemenuhan hak-hak penyandang disabilitas di berbagai sektor seperti kesehatan, ketenagakerjaan, pendidikan, hak-hak sipil, kesetaraan dihadapan hukum, dan hak kesejahteraan sosial.

“Terlepas dari berbagai pencapaian tersebut, kita masih dihadapkan pada beberapa tantangan dalam menghapuskan stigma dan diskriminasi terhadap penyandang disabilitas. Termasuk menghilangkan berbagai hambatan yang mereka hadapi, memfasilitasi partisipasi mereka di berbagai bidang, dan menerapkan pendekatan berbasis siklus kehidupan dalam pemenuhan hak-hak penyandang disabilitas,” ujarnya.
Risma menyebutkan, Pemerintah Indonesia melalui Undang-Undang Nomor 8 Tahun 2016 tentang Penyandang Disabilitas merupakan wujud komitmen sejati untuk menjamin penghormatan, perlindungan, dan pemenuhan hak sekitar 22,97 juta warga penyandang disabilitas di seluruh sektor pembangunan.
“Undang-undang ini menggarisbawahi pentingnya partisipasi yang berarti dari seluruh pemangku kepentingan terkait, non diskriminasi dan aksesibilitas, sebagaimana diamanatkan oleh Konvensi Hak-Hak Penyandang Disabilitas (CRPD),” ungkapnya.
Implementasi undang-undang tersebut dapat dilihat melalui berkembangnya berbagai program dan kegiatan yang mendukung penyandang disabilitas. Misalnya di bidang pendidikan, Indonesia telah menerapkan sistem pendidikan inklusif sehingga anak berkebutuhan khusus mempunyai hak yang sama untuk bersekolah di sekolah reguler.

“Jumlah sekolah inklusif di Indonesia meningkat secara signifikan, yaitu dari 3.610 pada tahun 2015 menjadi 28.778 pada tahun 2020 (Bank Dunia, 2021). Namun demikian, masih terdapat tantangan besar, termasuk fakta bahwa kurang dari 13 persen sekolah inklusif memiliki pendidik yang terlatih dalam pendidikan inklusif,” jelasnya.
“Selain kualitas pendidik, tantangan lainnya mencakup fasilitas dan akses terhadap alat bantu, kesiapan sekolah inklusif untuk memberikan pembelajaran kemandirian/kewirausahaan, peran keluarga dan dukungan berbagai pemangku kepentingan,” tambah Mensos.
Kegiatan AHLF on Enabling Disability-Inclusive Development and Partnership beyond 2025 berlangsung di Makassar pada 10-12 Oktober 2023. Para peserta forum ini terdiri atas menteri dan pejabat senior ASEAN yang bertanggung jawab atas kesejahteraan sosial dan pembangunan di badan sektoral terkait, entitas terafiliasi Asean dan mitra.

Kota Makassar dipilih menjadi tuan rumah ajang ini, menurut Risma, karena ingin menampilkan yang berbeda di kota ini. “Sebetulnya, justru kita harus memilih lokasi yang memang kita butuh untuk mengangkat itu. Karena itu sebetulnya ide awal adalah ini Indonesia. Jadi tidak hanya Jakarta atau Surabaya, tapi Indonesia. Kedua, yang kami ingin kenalkan adalah, banyak wisata yang indah di Indonesia,” terangnya.
Ia mengatakan, Makassar kota yang sangat unik karena punya peninggalan sejarah yang perlu diperkenalkan. “Karena ini sangat menarik, itu terkait dengan peradaban. Banyak yang sebetulnya pengen tahu, tapi tidak pernah diekspos ke publik tentang kekayaan peradaban di Sulsel. Karena itu saya punya ide bagaimana mengangkat ini supaya peradaban di Sulsel luar biasa ini bisa terekspos ke dunia luar. Benteng Fort Rotterdam adalah salah satu cagar budaya di Kota Makassar dan bahkan menjadi salah satu ikon wisata sejarah di Makassar, Taman Prasejarah Leang-leang adalah salah satu destinasi wisata yang populer di Kabupaten Maros,” jelasnya.
Menurutnya, kesiapan tuan rumah untuk kegiatan disabilitas seperti ini tentu tidaklah mudah karena sejumlah fasilitas harus disesuaikan. “Tapi memang tidak mudah. Kita harus membuat. Kita , harusnya memberi fasilitas, terutama pada saudara kita yang disabilitas. Untuk kita siapkan dan bangun. Saat kita yang bangun harus orang disabilitas,” pungkasnya.  (jun)

Exit mobile version