Site icon Berita Kota Makassar

Mensos Ungkap ”Kesaktian” Tongkat Cerdas Bagi Tuna Netra

MAKASSAR, BKM — Kementerian Sosial (Kemensos) terus memberi perhatian dan memenuhi kebutuhan penyandang disabilitas di Indonesia. Walau lahir dengan keterbatasan fisik dan mental, mereka harus diberikan hak yang sama layaknya manusia normal.

Produk tongkat cerdas menjadi salah satu langkah solutif yang diinisiasi Kemensos bagi difabel netra atau orang yang mengalami hambatan dalam penglihatan.

Menteri Sosial (Mensos) Tri Rismaharini pun mengungkap beragam ”kesaktian” tongkat cerdas yang sengaja dibuat untuk memenuhi kebutuhan difabel netra.

“Saat diminta bicara di Jenewa, saya menyampaikan salah satu produk dari Kemensos adalah smart tongkat cerdas. Tongkat ini saya dedikasikan untuk saudara-saudara kita yang tuna netra,” kata Risma ketika member sambutan pada World Sight Day atau Hari Penglihatan Sedunia di Hotel Claro, Sabtu (28/10).

Sejak awal menjabat sebagai Mensos, Risma menyampaikan kepada bawahannya bahwa alokasi anggaran harus diprioritaskan pada disabilitas. Salah satunya pada produk tongkat cerdas untuk tuna netra.

“Saat saya menjadi Mensos, terus terang yang tidak tersentuh adalah bagaimana penanganan disabilitas. Saya mencoba konsentrasi di situ. Saya sampaikan kepada seluruh direktur dan seluruh pejabat di Kemensos. Kita tidak ada membangun gedung. Kita ubah uang untuk memberikan fasilitas untuk saudara-saudara kita yang disabilitas. Ternyata cukup mahal peralatan untuk disabilitas. Karena itu saya ngomong, kita harus bisa buat sendiri supaya harga murah. Kita harus buat ini untuk saudara-saudara kita yang disabilitas, dan Alhamdulillah berhasil,” terang Risma.
Mantan Wali Kota Surabaya ini kemudian mengisahkan, sebelum adanya tongkat sakti, seorang tuna netra meninggal akibat dampak banjir karena tidak mengetahui bencana alam tersebut. Begitu pula peristiwa kebakaran yang biasa dihadapi tuna netra.

“Pernah ketika saya menjadi Wali Kota Surabaya, ada seorang tuna netra didiberi tahu adan bencana banjir. Dia tidak bisa keluar dari rumahnya dan dia ngga tahu berenang, akhirnya dia tenggelam dan meninggal. Kejadian yang kedua saat terjadi kebakaran. Seorang tuna netra tidak mengetahui cara untuk menyelamatkan diri sehingga meninggal karena terbakar,” ungkap Risma.

Karena itu, kehadiran tongkat cerdas sangat membantu dan memudahkan tuna netra untuk menjalankan aktivitasnya. Termasuk sebagai alat antisipasi kejadian yang membahayakan.

“Dengan tongkat ini bisa mendeteksi kalau di depannya ada sesuatu. Tongkat ini menginformasikan bahwa di depan ada objek. Kalau ada api maka dia harus bisa memberi tahu dengan sirine atau getar. Kalau ada air maka juga harus bisa memberikan sinyal bergetar dan berbunyi,” jelas Risma.
Ia menambahkan, saat ini alat tersebut sudah terus berkembang dengan pemanfaatan teknologi. Di tingkat vertikal, Kemensos masif melakukan inovasi. “Dalam perjalanannya, tongkat ini ternyata teman-teman di balai-balai bisa meningkatkan sekarang ini bisa bersuara. Jadi, kalau di depannya ada mobil dia akan berbicara jarak dua meter ada objek. Jarak sekitar ada api, bahkan asap yang beracun dia bisa memberi sinyal,” bebernya.

Upaya pencegahan atas musibah yang dialami tuna netra dan disabilitas pada umumnya ini terus dilakukan. Ini jadi perhatian untuk mewujudkan kesamaan hak di Indonesia.

“Kenapa ini saya sampaikan, karena saya tidak ingin saudara-saudara kami yang tuna netra terkena musibah hanya karena mereka ada keterbatasan,” tandasnya.

Sementara Ketua Pengurus Pusat Perhimpunan Dokter Spesialis Mata Indonesia (PP-Perdami PP Perdami) Prof Budu, mengatakan upaya penanganan terhadap mereka yang gangguan pada penglihatan akan terus dilakukan.

“Untuk kebutaan 2,6 persen itu terus kita lakukan penanganan bagaimana kita screening. Mencari orang-orang yang gangguan penglihatan terus kita atasi,” ujarnya. (jun)

Exit mobile version