GOWA, BKM — Tiga perawat Puskesmas Kampili, Kecamatan Pallangga, Kabupaten Gowa mendapat sanksi skorsing. Mereka dinilai telah mencoreng nama baik sarana pelayanan kesehatan ini.
Kejadian berawal pada Minggu (15/10) pukul 18.40 Wita. Ketika itu seorang pasien lakilaki dalam kondisi tak sadar diri dibawa masuk ke ruang IGD Puskesmas Kampili. Diduga pria yang berusia 20-an tahun itu diduga baru saja mengalami kecelakaan tunggal di wilayah setempat, kemudian oleh warga lainnya dibawa ke Puskesmas Kampili untuk mendapatkan bantuan medis.
Sesampainya di Puskesmas, bukannya pelayanan maksimal yang didapatkan. Tiga perawat perempuan yang menanganinya ketika itu terkesan melakukan perundungan terhadap laki-laki tersebut.
Usai melakukan tindakan sesuai SOP (Standar Operasional Pelayanan) dengan memasang selang oksigen, ketiga perawat ini malah mengucapkan beberapa perkataan yang tidak seharusnya kepada pasien yang belum sadarkan diri itu.
Oleh warganet, perkataan mereka dianggap tak pantas dilakukan seorang tenaga kesehatan dalam kapasitasnya sebagai pemberi pelayanan kesehatan. Apalagi kondisi pasien dalam keadaan tak berdaya, bahkan pingsan.
Beberapa ungkapan perundungan yang viral di medsos berdurasi 54 detik itu lahir dari percakapan antara ketiga perawat kepada pasien. Di antaranya; ”Kamu mabut ya.” Disusul kalimat; ”Kamu sudah minum ya.”
”Hei, jangan goyang,” begitu ucapan berikutnya. ”Siapa namata, tidak kulepas ki kalau begini.” Ada pula, ”Apata sakit.”
Kalimat-kalimat itu dilontarkan para perawat secara bergantian disertai tawa yang terkesan mengejek pasien. Meskipun mereka berupaya membantu menyadarkan pasien, namun aksi perawat berstatus sukarela itu dikecam warga yang telah menyaksikan ulah mereka yang diviralkan pihak keluarga pasien di medsos.
Warganet pengguna medsos maupun masyarakat umum yang menyaksikan tayangan video itu melontarkan kecamannya. Mereka menilai tindakan para perawat itu tidak beretika dan menyalahi aturan dalam pelayanan.
Menyikapi hal tersebut, Kepala Puskesmas Kampili Imran yang dilkonfirmasi, Jumat siang (10/11), sangat menyayangkan ulah ketiga perawatnya yang kini viral di medsos. Karena perbuatan ketiga perawat yang masing-masing berinisial Das, Has, dan Nur, mereka mendapat skorsing selama sebulan.
“Kami harap dengan sanksi ini menjadi pelajaran bagi ketiganya dan menjadi perhatian kepada seluruh perawat di Kampili dalam menjalankan tugas pelayanan kesehatan. Saya atas nama PKM Kampili memohon maaf sebesar-besarnya atas kejadian ini. Saya berharap tidak akan terjadi lagi dan ini merupakan pembelajaran besar bagi kita semua,” kata Imran.
Sebagai tindak lanjutnya, kata Imran, pihak Puskesmas bersama Babinsa, Binmas, kepala dusun, kepala Desa Kampili akan memediasi pertemuan antara ketiga perawat dengan pasien. Tujuannya untuk menyelesaikan persoalan ini secara kekeluargaan dan sebagai bentuk hukuman moril kepada perawat bersangkutan.
Imran pun lalu menceritakan kronologi hingga peristiwa ini viral. Dikatakannya, kejadiannya saat Magrib ketika seorang warga laki-laki datang ke Puskesmas membawa seorang remaja pria dalam kondisi tidak sadar usai mengalami kecelakaan lalu lintas di jalan.
Warga yang membawanya tidak tahu kejadian sebenarnya kenapa pasien lakilaki itu bisa pingsan di jalanan. Saat ditanya oleh ketiga perawat yang kebetulan sedang jaga, ia hanya mengira-ngira mungkin si pasien kecelakaan karena mabuk.
“Saat itu petugas bertanya kenapa ini, Pak? Warga itu menjawab ini pasien di jalan pingsan, kecelakaan dan saya bawa ke sini, barangkali mabuk. Kegitu kata warga yang membawanya. Jadi setelah itu,pasien tersebut diberikan penanganan medis sesuai standar SOP. Kemudian petugas lainnya mempersiapkan mobil untuk rujukan ke rumah sakit karena pasien tidak sadar-sadar juga. Pada saat mau dirujuk petugas kebingungan dan mencari pihak keluarga pasien dan mereka (petugas) tidak tahu siapa yang mau dihubungi,” terang Imran.
Sehingga, lanjut Imran, salah seorang perawat tersebut berinisiatif mencari nomor kontak keluarga lewat gawai milik korban. “Diambillah HP korban, lalu perawat membuka untuk mencari nomor kontak keluarga korban. Namun, saat HP korban menyala yang muncul adalah untuk kamera. Sehingga dia (perawat) berinisiatif mungkin bagus direkam baru dikirim ke kontak yang ada,” jelas Imran.
Setelah selesai, perawat tersebut hendak mengirim ke kontak, ternyata HP itu terkunci. Pada saat itu petugas juga masih kebingungan. Sementara kondisi pasien belum sadar juga.
”Maka mereka (perawat) ini merangsang pasien dengan alkohol menggunakan kapas di hidung pasien. Pada saat itulah perawat tersebut mengeluarkan kata-kata yang bernada perundungan. Ketika dirangsang dengan alkohol, ada reaksi dari pasien. Secara tidak sengaja kaki pasien menyentuh salah satu perawat yang malah dianggap perawat adalah tendangan. Di saat itulah perawat tersebut spontan berkata; woii anjirr. Rupanya kata anjiir itu dikira anjing. Jadi bukan anjing yang dikatakan perawat, tapi anjirr, bahasa gaul zaman milenial,” ungkap Imran.
Dalam kondisi itu HP korban tetap pada posisi merekam yang dipegang seorang perawat. Tak lama setelah itu, keluarga pasien pun tiba dan pasien langsung dirujuk ke RSUD Syekh Yusuf. Selanjutnya dirujuk lagi ke RS Bhayangkara Makassar.
Setelah menjalani perawatan selama kurang lebih 18 hari ia baru sadar, tapi masih belum pulih. ”Pada saat itulah mungkin HP (milik pasien) baru dibuka oleh keluarganya dan kelihatanlah rekaman itu dan akhirnya diviralkan,” terang Imran lagi.
Dikatakan Imran, sebenarnya menurut pengakuan perawat, tidak ada niat untuk melakukan hal tersebut. Tapi ini hanya semata-mata pasien mau dirujuk dan karena tidak ada keluarga sehingga mereka berinisiatif merekam dan hendak dikirim ke kontak yang ada di pasien. Cuma tak sadar kalimat para perawat tidak terkontrol. (sar)
