Site icon Berita Kota Makassar

Dari Candaan, Tiga Mahasiswa Unismuh Raih Prestasi Nasional

MAKASSAR,BKM.COM–MERAIH prestasi tidak mesti bermula dari hal-hal yang serius. Sebuah candaan dari sebuah pertemuan tanpa disengaja pun bisa menghasilkan sesuatu yang membanggakkan. Tiga mahasiswa Universitas Muhammadiyah (Unismuh) Makassar

BARHUR Rahman Hasba adalah mahasiswa Program Studi (Prodi) Pendidikan Fisika. Hilmy Hafidah dari jurusan Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD). Sementara Saddan dari Prodi Arsitektur. Mereka bertiga tergabung dalam sebuah tim, yang baru-baru ini mengikuti sebuah ajang lomba di Bali. Prestasinya pun sangat membanggakan, karena berhasil keluar sebagai juara dua. Event ini diikuti sebanyak 300 tim dari seluruh Indonesia.
Rur –panggilan akrab Bahrur– merupakan ketua tim. Sementara Hilmy dan Saddan sebagai anggota. Mereka menjadi tamu siniar untuk kanal Youtube Berita Kota Makassar.
Sebagai ketua tim, Rur mengisahkan awal mula pertemuan dengan Hilmy dan Saddan. ”Kami berada dalam satu lembaga di kampus. Namanya Lembaga Kreativitas Mahasiswa, Penelitian dan Penalaran atau LKIM Pena. Di lembaga ini dibahas tentang kepenulisan, desain, dan yang lainnya. Dibimbing untuk mengembangkan skill yang ada dalam diri mahasiswa,” ujar Bahrur.
Hilmy berkisah, awalnya mereka hanya bercanda bahwa pada suatu saat nanti akan mengikuti sebuah lomba. Hal itu dilatarbelakangi oleh prestasi senior mereka yang adai di LKIM Pena.
”Kami begitu tertarik, bermimpi dan membayangkan bisa berada di sana. Setelah bergabung, kami akhirnya bertemu. Tepatnya setelah berkegiatan kami bertemu di depan masjid setelah salat. Awalnya cuma bercanda untuk ikut lomba. Bagaimana bisa terbang bersama. Alhamdulillah, dari candaan tersebut kami bisa mewujudkan mimpi kami berangkat untuk berlomba,” ungkap Hilmy.
Rur yang awalnya melontarkan canddan itu. Kemudian ditambah oleh Hilmy. Dari situlah Rur yang punya ide dan penelitian kemudian mengolahnya kembali untuk diikutkan lomba di Bali. Dari seleksi demi seleksi yang dilalu, Rur dan timnya dinyatakan lolos hingga akhirnya berhasil keluar sebagai juara dua. ”Ini pengalaman pertama kami terbang,” ujar ketiganya dengan kompak sambil tertawa.
Tentang latar belakang anggota tim ini, Saddan mengaku suka dunia kepenulisan. Sejak SMA ia sudah menggeluti bidang ini dengan menulis cerpen, puisi dan yang lainnya. Bahkan sempat memenangi beberapa juara di SMA.
”Saya rasa harus mengembangkan bakat yang saya miliki. Melihat promosi yang dilakukan LKIM Pena, saya kemudian tertarik dengan lembaga ini. Tanpa berpikir panjang lagi langsung mendaftarkan diri dan Alhamdulillah bisa sampai ke tahap sekarang,” terang Saddan.
Sementara Hilmy, mengaku awalnya tidak tertarik ke dunia penulisan. Menurutnya, menulis itu sulit. Apalagi jika disertai dengan melakukan penelitian. ”Tetapi setelah saya bergabung di sana (LKIM Pena), kami dididik dan dilatih, langsung tertarik. Ternyata menulis tidak sesulit yang saya bayangkan,” jelasnya.
Sementara Rur, ketika duduk di bangku SMP dan SMA sudah sering ikut-ikut lomba kepenulisan. Di antaranya puisi dan karya tulis esai. Karena ingin mengembangkan potensi dan skill, ia pun kemudian bergabung dengan LKIM Pena. ”Saya lihat di kampus Unismuh, lembaga ini yang teraktif mengikuti kompetisi. Di dalamnya kita diajarkan dan dibimbing tentang kepenulisan,” ujarnya.
Karena alasan itu, ketiganya sepakat merekomendasikan adik-adiknya di Unismuh untuk bergabung di LKIM Pena.
Tentang keikutsertaan pada lomba yang terakhir, menurut Saddan, merupakan inisiatif sendiri. Mereka melihat informasi dari Instagram tentang kegiatan yang diadakan di Bali itu.
”Lucunya, kami mendaftar di gelombang kedua hari terakhir beberapa jam menjelang penutupan. Sempat keteteran. Tapi semua bisa diselesaikan dengan baik karena punya tim yang kompak. Saling membantu untuk meloloskan karya ini,” ungkap Saddan.
Dari pengumuman yang disampaikan panitia, ajang ini diikuti 300 tim. Artinya, ada 600 mahasiswa yang mendaftarkan karyanya. Dari situ kemudian disaring karya terbaik. Rur dan timnya masuk ke tahap 100 besar. Mereka mendapat undangan untuk presentasi di depan juri secara offline di Bali.
Pada cabang lomba esai ini, Rur beserta Hilmy dan Saddan memaparkan tentang pembuatan bioetanol. Menariknya, karena yang mereka lakukan adalah memanfaatkan limbah dari ampas tebu dicampur dengan cairan daun sirih.
”Tujuannya adalah untuk mengurangi limbah yang terbengkalai, khususnya ampas tebu. Bioetanol ini gunanya untuk menambah oktan bahan bakar minyak seperti Pertalite menjadi Permax. Tujuannya untuk mengurangi emisi karbon yang ada di bumi,” jelas Rur yang berasal dari Gowa.
Hilmy yang berasal dari Kabupaten Takalar, mengatakan apa yang dilakukan oleh timnya juga bertujuan untuk meningkatkan perekonomian masyarakat. Salah satu daerah di Sulsel, yaitu Takalar merupakan penghasil tebu dan memiliki pabrik gula. Ampas tebu yang dihasilkan terbuang percuma.
Baik Rur, Hilmy maupun Saddan berharap proyek yang mereka hadirkan ini bisa mendapat perhatian, sehingga dapat bermanfaat bagi masyarakat secara umum. Dengan begitu, ampas tebu yang selama ini tak pernah digunakan, dapat memberikan nilai ekonomi. (*/rus)

Exit mobile version