MAKASSAR,BKM.COM–UNIVERSITAS Muhammadiyah Sinjai atau Umsi kini telah menjadi sebuah perguruan tinggi swasta yang cukup diminati untuk berkuliah. Pencapaian itu tidak terlepas dari langkah dan upaya yang dilakukan oleh pihak kampus. Seperti apa program yang dilaksanakan dan akan dilakukan ke depan?
REKTOR Umsi Prof Dr Umar Congge hadir menjadi tamu siniar untuk kanal Youtube Berita Kota Makassar. Ia menyebut, saat ini kampus yang dipimpinnya telah mengantongi akreditasi baik. Demikian pula dengan semua prodi yang ada di Umsi.
Disebutkan oleh rektor yang sekitar dua bulan lalu meraih guru besar ini, Umsi menjadi salah satu perguruan tinggi swasta (PTS) yang mendapatkan program Merdeka Belajar Kampus Merdekan (MBKM) dari Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi (Kemendikbud Ristek). Salah satu bagian dari pelaksanaan program tersebut adalah menjalin kerja sama dan kemitraan dengan kalangan industri. Termasuk di antaranya media.
Sebagai tindak lanjut dari program tersebut, Prof Umar Congge didampingi Wakil Rektor I Muhammad Lutfi, S.I.P.,M.A., Dekan FISIP Dr Hermansyah,S.Sos.,M.I.Kom dan Ketua Prodi Administrasi Publik FISIP Muhammad Takdir,S.Sos.,M.Si menandatangani nota kerja sama dengan Harian Berita Kota Makassar (BKM).
Bagi pihak Umsi, BKM merupakan media yang cukup dikenal secara luas. Apalagi dalam MBKM, mahasiswa dianjurkan untuk tidak hanya tahu dan menguasai teori, tapi juga harus memiliki pemahaman terkait banyak hal.
”Media BKM merupakan sebuah wadah untuk menimba ilmu pengetahuan, baik yang ada kaitannya dengan akademik maupun skill. Karena itu, kami menjalin kerja sama ini,” ungkap Prof Umar Congge.
MoU yang ditandatangani dilakukan secara bertingkat. MoU BKM dengan pihak universitas menjadi sebuah wadah untuk memayungi kerja sama yang leih spesifik. Misalnya pada tingkat fakultas dan prodi.
Ada tiga kerja sama yang dijalin, khususnya terkait Tri Dharma Perguruan Tinggi. Masing-masing pendidikan, penelitian, dan pengabdian. Semua itu bisa didapatkan melalui kerja sama dengan semua pihak, termasuk BKM.
Luaran dari kerja sama ini diharapkan bisa memberi manfaat. Di bidang pendidikan misalnya, mahasiswa mendapat pengalaman serta keterampilan ketika melaksanakan magang di industri. Di bidang pengabdian, bisa saja dengan mereka memiliki skill, setelah selesai selanjutnya akan melakukan pengabdian, apakah di masyarakat atau di instansi pemerintah.
”Misalnya skill bisa membuat berita, turun ke desa menjadi staf humas, bisa membuat berita terkait promosi desa. Sehingga pemerintah desa bisa bisa terbantu dengan kehadiran mahasiswa,” tuturnya.
Jalinan kerja sama bukan kali ini saja dilakukan. Tiga tahun berturut-turut program tersebut sudah direalisasikan. Sebab, Umsi merupakan salah satu perguruan tinggi di Sulsel, bahkan di Lembaga Layanan Pendidikan Tinggi (LLDikti) Wilayah IX yang berhasil mendapatkan hibah MBKM dalam tempo tiga tahun berturut-turut. Jika diakumulasikan, angkanya berada di kisaran Rp10 miliar.
Umar Congge mengakui luar biasa manfaat yang diperoleh dari kucuran dana hibah oleh kementerian.
Apalagi tujuan pemanfaatannya untuk membeli fasilitas, peningkatan sarana dan prasarana, sumber daya manusia dosen dan tenaga pendidikan, serta pengembangan kompetensi mahasiswa melalui berbagai kegiatan.
Dari angka Rp10 miliar tersebut, rerata setahun ada dua atau tiga prodi yang mendapatkannya. Satu prodi menerima kurang lebih Rp1 miliar. Penggunaannya sudah diatur sesuai dengan pedoman yang ada, sehingga tidak bisa seenaknya dibelanjakan.
”Misalnya dipakai laptop, komputer, atau sarana dan prasarana laboratorium. Begitu juga untuk pelatihan dosen dalam penulisan jurnal atau tentang kepangkatan dosen. Bagi mahasiswa dilakukan pengembangan skill. Dana ini harus pertanggungjawabkan di akhir tahun dan akan diperiksa oleh Inspektorat,” ungkap Umar Congge.
Menurut Prof Umar Congge, era 5.0 menuntut peningkatan kompetensi mahasiswa serta kemampuan untuk bersaing di dunia luar. Kementerian pun melihat bahwa untuk meningkatkan kompetensi dan kemampuan mahasiswa tidak hanya bisa menguasai teori. Oleh karena itu mereka perlu dibekali ilmu di luar dari ilmunya sendiri. Karena bila hanya ilmunya saja, nanti terbatas.
”Misalnya, seorang sarjana administrasi dia juga harus memiliki kompetensi bagaimana menjadi wartawan, redaktur, penulis dan sebagainya. Atau sarjana agama bisa memiliki kemampuan teknik. Jadi mahasiswa tidak hanya diarahkan memiliki skill yang sifatnya monoton, tapi general. Sehingga MBKM mendorong mahasiswa agar mereka memiliki kompetensi di luar jurusan. Sehingga ketika turun di lapangan tidak kaget saat berhadapan dengan dunia kerja yang berbeda dengan disiplin ilmunya. Dia akan menyesuaikan diri karena sudah ada dasar-dasar yang diberikan kepada mereka saat kuliah,” ungkap Prof Umar Congge.
Dengan pola yang diterapkan seperti itu, lanjut Umar Congge, saat ini bisa dilihat sangat banyak orang, misalnya sarjana pertanian bisa bekaja di media, sarjana administrasi Sospol bisa jadi ustaz, sarjana agama bisa menjadi desainer, dan sebagainya. Mahasiswa tidak hanya mono disiplin ilmu agar mampu bersaing di dunia luas.
Manfaat dari pola seperti ini sangat luar biasa. Sebagai PTS, khususnya Muhammadiyah, Umar Congge berterima kasih kepada pemerintah kerena diberi kepercayaan mengelola anggaran dana hibah yang cukup besar dan tidak muncul masalah. Karena memang barang yang dibeli atau kegiatan yang dilaksanakan sangat dibutuhkan dalam rangka mengembangkan perguruan tinggi, khususnya dalam rangka meningkatkan pembelajaran. Sehingga dengan kulaitas pembelajaran yang bauik dapat mencapai alumni yang bisa bersaing. Umsi pun telah banyak menelorkan alumni, yang masa tunggu bekerjanya tidak terlalu lama.
Umar Congge menyebut salah satu program yang dilaksanakan melalui hibah MBKM adalah membuat studio Podcast. Alasannya, karena pembelajaran tidak mesti di dalam ruangan. Bisa juga melakukan pembelajaran dan perekaman melalui Podcast, kemudian menyuruh mahasiswa untuk menonton. Studi tersebut juga menjadi tempat latihan bagi mahasiswa. Mereka bisa belajar berbicara di depan forum, kamera, atau media. Ini menjadi sebuah kompetensi khusus.
Di bagian lain wawancara, Umar Congge ditanya tentang raihan guru besar yang diperolehnya. Menurutnya, apa yang didapatkannya ini betul-betul sesuai dengan prosuder dan mekanisme. ”Guru besar kami bukan pemberian, tapi melalui kegiatan akademik. Kuliah S2 dan S3. Melalui jenjang asisten ahli, lektor, lektor kepala, lalu guru besar,” terangnya.
Bila bicara tentang cita-cita, Umar Congge mengaku dirinya orang yang tidak pernah bercita-cita. Karena biasanya, kata dia, orang yang punya cita-cita karena memilkiki kemampuan finansial atau ekonomi.
”Saya tidak memberi target pada diri sendiri. Karena kalau saya melakukan itu, ketika target itu tidak tercapai maka saya akan stres. Jadi saya mengalir saja. Kalau sekolah, sekolah saja. Karena orang tua bilang ijazah itu sangat penting. Lebih penting ijazah dari pada uang. Ijazah tidak bisa dipinjam. Kalau uang, kalau mau ke luar negeri bisa pinjam uang. Sementara ijazah, butuh waktu dua atau tahun tahun, bahkan empat tahun baru bisa didapat,” tandasnya. (*/rus)

