MAKASSAR, BKM–Komisioner Badan Pengawas Pemilihan Umum (Bawaslu) RI Lolly Suhenti membuka atau melaunching kegiatan Madrasah Anti Hoaks di Aula PSBB MAN 2 Makassar Kamis (21/12).
Kegiatan yang digelar Bawaslu Sulsel bekerjasama dengan MAN 2 Makassar dan Mafindo dihadiri komisioner Bawaslu Sulsel Saiful JIhad serta Kepala Madrasah MAN 2 Makassar Hj Darmawati.
Lolly mengajak seluruh pihak untuk berkomitmen menangkal hoaks. Termasuk mengajak siswa MAN 2 Makassar berhati-hati pada informasi yang menyesatkan. “Begitu terima info perlu dicek dulu apakah ada sumber yang bisa diverifikasi atau tidak. Informasi ini baik atau tidak,” ujarnya.
Lolly menyebut siswa madrasah sebagai kaum intelektual organik yang harus hadir di masyarakat dan terlibat untuk menyelesaikan masalah di masyarakat. Termasuk terlibat aktif dalam memberantas hoaks. “Siswa madrasah bukan hanya sekadar pelajar. Tapi tanggung jawab banyak melekat pada kita,” ujarnya.
Tak hanya itu, namun Lolly juga mengingatkan pada siswa MAN 2 Makassar jika saat ini sudah memasuki masa Pemilu 2024. Tantangan yang dihadapi sangat besar khususnya dalam memberantas hoaks. Karena derasnya arus informasi kepemiluan di media sosial.
Lolly mengajak untuk selalu bersikap kritis terhadap informasi dan menyalurkan suara dengan memilih pemimpin yang tepat. “Pemimpin yang akan datang akan dipilih sebentar lagi. Harus memilih pemimpin yang benar supaya tidak menyesali di kemudian hari. Pastikan hak suara Anda tersalurkan,” ujarnya.
Pada kegiatan ini, pemaparan materi diberikan sepenuhnya pada Mafindo Makassar. Ada tiga fasilitator yang terlibat dalam memberikan materi mengenai Pengindraan Hoaks untuk Pemilu. Pada kesempatan ini, Koordinator Mafindo Makassar Andi Fauziah Astrid menjelaskan mengenai cara pencegahan hoaks atau prebunking.
“Pemilu seringkali dirusak oleh informasi termanipulasi atau hoaks. Selain cek fakta, pengindraan hoaks atau prebunking, bisa dilakukan. Tujuannya untuk memberikan strategi membangun ketahanan terhadap hoaks.
Lebih lanjut Astrid menjelaskan jika hoaks terjadi bukan karena kebetulan. Tapi kekurangan atau ketidaksepahaman dalam informasi yang tersedia tentang suatu topik atau isu tertentu. “Selain itu terjadi kekosongan pengetahuan atau pemahaman besar antara apa yang sudah diketahui dan apa yang sebenarnya perlu diketahui,” tandasnya.
Lolly dari Divisi Pencegahan, Partisipasi Masyarakat dan Hubungan Masyarakat Bawaslu RI ini menambahkan, tantangan bagi Bawaslu sekarang adalah membuat para pemuda yang mendominasi pemilih di Pemilu 2024 bisa menggunakan hak pilihnya.
“Salah satu yang dilakukan Bawaslu, selain sosialisasi ini adalah memberikan edukasi melalui berbagai akun media sosial Bawaslu maupun melalui program populer lainnya yang diturunkan,” kata Lolly di depan para pemuda Sulsel.
“Tujuannya itu tadi, bagaimana mereka terhubung dulu, punya minat dulu, lalu bergerak untuk informasi lain yang lebih banyak. Kedua, situasi hari ini memang, angka 52 persen itu harus menjadi sesuatu,” tambahnya.
Mantan anggota Bawaslu Jawa Barat ini mengatakan, pemuda juga perlu paham aturan yang ada di KPU dan Bawaslu. Apalagi, anak muda sekarang dekat dengan informasi.
Sebagai informasi, DPT Sulsel sebanyak 6.670.582. Berdasarkan jenis kelamin, pemilih di Sulsel pada DPT Pemilu 2024 terdiri dari 3.425.956 perempuan. Sedangkan jumlah pemilih laki-laki lebih sedikit, yaitu 3.244.626. Pemilih tersebar di 24 kabupaten/kota, 313 kecamatan, 3.059 desa/kelurahan, dan 26.357 tempat pemungutan suara (TPS). Pada DPT terdapat 21.414 pemilih baru, dan 88.376 perbaikan data pemilih. KPU Sulsel menetapkan sebanyak 37.658 pemilih tidak memenuhi syarat, dan terdapat 194.077 pemilih potensial non KTP-el.
Menurut klasifikasi usia, kelompok milenial (kelahiran 1981-1996) mendominasi DPT Sulsel, dengan jumlah 2.049.357. Jumlah itu 30,72 persen dari total daftar pemilih.
Berikutnya, pemilih Gen X (1965-1980) sebanyak 1.939.314 atau 29,07 persen. Pemilih Gen Z (1997-2012) sebanyak 1.383.715 atau 20,74 persen, baby boomer (1946-1964) sebanyak 1.122.739 atau 16,83 persen, dan pre boomer (sebelum 1945) sebanyak 175.457 atau 2,63 persen.
Kepala Madrasah MAN 2 Makassar Hj Darmawati juga mengajak pada seluruh insan MAN 2 Makassar baik guru maupun peserta didiknya untuk menjadi pionir anti hoaks.
“Kalau istilahnya itu saring dulu baru sharing. Sebelum percaya terhadap suatu informasi lihat dulu apakah informasi itu sudah betul. Karena di era teknologi informasi ini semua bisa diedit bahkan suara pun bisa dimanipulasi,” ujarnya.
Anggota Bawaslu Sulsel Saiful Jihad menyampaikan terimakasihnya kepada MAN 2 Makassar dan Mafindo membuat Madrasah Anti Hoaks. (jun/rif)

