MAKASSAR, BKM — Wali Kota Makassar Mohammad Ramdhan Pomanto mengemukakan, pertumbuhan ekonomi menjadi tolok ukur kinerja pemerintah daerah. Ia menyebutkan, ekonomi Makassar mengalami pertumbuhan yang cukup signifikan di tahun 2023 ini.
Jika tahun 2022 lalu Makassar mengalami pertumbuhan ekonomi sebesar 5,4 persen, maka tahun ini Danny optimistis lebih tinggi lagi, bisa menembus hingga 6 persen.
“Alhamdulillah, tahun kemarin 2022 yang menjadi cerminan 2023, kita mengalami pertumbuhan ekonomi 5,4 persen. Itu artinya kita lebih tinggi dari nasional yang 5,1 persen. Saya yakin persis di 2023 yang akan dilaunching biasanya Februari, kita akan menembus angka 6 persen,” kata Danny Pomanto saat memberikan sambutan pada Refleksi Akhir Tahun Pemkot Makassar 2023 di Hotel Four Point by Sheraton, Rabu (27/12).
Pascacovid, pertumbuhan ekonomi Makassar memang mulai melaju. Saat pandemi Covid-19 berada di angka -1,27 persen pada 2020 lalu. Namun di bawah kepemimpinan Danny dengan program dan kebijakan yang diambil, Pemkot Makassar mampu reborn dan ekonomi Kota Makassar 2021 tumbuh di angka 4,47 persen.
Selain pertumbuhan ekonomi, lanjut Danny Pomanto, kinerja pemerintah daerah yang diukur secara nasional yaitu inflasi. “Alhamdulillah, dalam sejarah Kota Makassar baru kali ini kita mengalami inflasi di bulan kemarin sama dengan nasional 2,86 persen,” ujarnya.
Meski begitu, pemerintah kota terus berupaya agar inflasi Makassar berada di angka wajar atau stabil yaitu 2-4 persen. Sebab inflasi rendah pun tidak bagus untuk suatu daerah. “Kita harus mempertahankan ini. Idealnya sebuah kota adalah 3 persen,” terangnya.
Di momen Refleksi Akhir Tahun Pemkot Makassar, Badan Penelitian dan Pengembangan Daerah (Balitbangda) Makassar resmi bertransformasi menjadi Badan Riset dan Inovasi Daerah (Brida). Langkah ini merupakan tindak lanjut dari amanat Presiden RI melalui Perpres No 78 tahun 2021 tentang Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN).
Atas transformasi tersebut, Wali Kota Danny Pomanto menaruh harapan besar Brida Kota Makassar bisa menjadi pusat sinkronasi berbagai data inovasi. Utamanya sinkronasi dengan seluruh OPD lingkup Kota Makassar.
Danny menilai, Makassar sudah semestinya bermetamorfosis menjadi Brida karena fungsi riset dan data memang penting dalam membentuk dan mengambil kebijakan pemerintah. “Secara birokrasi kita tahu bahwa tahun ke tiga menjadi puncak karya birokrasi dalam menjalankan visi misi kepemimpinan di sebuah daerah. Pencapaian pembentukan Brida menjadi hal penting untuk hari ini agar kota bisa bercermin dari apa yang sebelumnya belum bisa terealisasi,” ujarnya.
Melalui Brida, kata Danny, inovasi yang telah diinisiasi dan dilahirkan oleh kepala daerah bisa dilindungi dan tetap menjadi inovasi pemerintah daerah. “Dari dulu kita selalu menggunakan data dan riset sebelum mengambil kebijakan. Dan hari ini kita sudah beralih ke Brida. Ini menjadi hal yang sangat penting. Seluruh OPD harus menyiapkan dua inovasi tiap tahun, tentunya harus lewat riset dan data agar gagasan yang dilahirkan bisa dirasakan rakyat Makassar,” tegasnya.
Danny pun berharap transformasi ini dapat menjadi tonggak awal dalam membangun ekosistem riset dan inovasi yang kokoh di Pemkot Makassar.
Sementara Deputi BRIN Dr Yopi menjelaskan, pembentukan Brida menjadi momentum yang luar biasa untuk saling bahu membahu. Hal ini mengingat pentingnya riset dalam perencanaan berkelanjutan di lingkup pemerintah.
“Saya lihat kota makassar sangat proaktif mendorong dan membangun serta mempercepat proses pembentukan Brida yang kita saksikan hari ini,” tambahnya.
Ia juga menekankan agar ke depannya komponen Iptek harus dimasukkan dalam setiap perencanaan pembangunan di Kota Makassar.
Di tempat terpisah, Kepala Balitbangda Makassar Andi Bukti Djufrie, mengungkapkan bahwa Peraturan Daerah (Perda) Brida segera disahkan. “Segera disahkan Perdanya. Karena 1 Januari 2024 sudah harus bertransformasi menjadi Brida,” ujarnya.
Kata Andi Bukti, setelah menjadi Brida, semua pejabat di dalamnya akan dikukuhkan ulang karena perubahan struktur. Selain itu, struktur Brida tak ada lagi jabatan kepala bidang. Diganti dengan nomenklatur koordinasi, karena sifatnya mengkoordinasikan riset dan inovasi yang ada di Brida. (rhm)
