Site icon Berita Kota Makassar

Sabrina Ainun Sorraya Abrar, Mahasiswi Berprestasi FISIP Unhas

MAKASSAR,BKM.COM–DUNIA politik kian menarik perhatian kalangan milenial serta generasi Z. Bukan hanya pada saat menjelang perhelatan pesta demokrasi seperti pemilu. Tapi jauh sebelumnya. Sabrina Ainun Sorraya Abrar mengakui hal itu.

SABI, begitu ia akrab disapa. Cewek berambut panjang ini adalah mahasiswi semester tujuh di jurusan Ilmu Politik Fakultas Ilmu Sosial dan Politik (FISIP) Universitas Hasanuddin (Unhas). Sederet prestasi telah ditorehkannya.
Yang terbaru adalah dia terpilih menjadi mahasiswa magang di DPR RI melalui program Kampus Merdeka. Memimpin jalannya sidang di gedung wakil rakyat Senayan menjadi salah satu pengalaman yang tak terlupakan sepanjang hidupnya.

Hadir menjadi tamu siniar untuk kanal Youtube Berita Kota Makassar, Sabi berkisah tentang pengalamannya ketika magang di gedung dewan. Bermula ketika ia mendaftar untuk ikut program Kampus Mederka. Ada sejumlah pilihan yang ditawarkan. Sabi kemudian memilih untuk program magang di DPR RI.

”Program ini fokusnya menjadi asisten tenaga ahli DPR RI untuk ditempatkan di komisi-komisi. Saya pikir tentu nanti kita akan dekat dengan anggota dewa. Menariknya lagi, karena sesuai dengan jurusanku. Ada banyak tempat lain yang ditawarkan, tapi tidak relevan dengan jurusanku. Setelah ada pengumuman saya diyantakan lolos,” ungkap Sabi.

Gembira dan senang tentu dirasakan oleh Sabi. Namun ada juga perasaan sedih dan takut. Sedih karena dirinya harus meninggalkan Kota Makassar untuk sementara. Kota yang sejak awalnya menjadi tempat merajut mimpi. Ada pula sejumlah rencana yang harus diselesaikannya di tahun 2023. Seperti seminar proposal, dan akhir Desember 2023 seminar hasil. Tahun 2004 menjadi targetnya untuk wisuda.

”Tapi Allah berkehendak lain. Saya diberi kesempatan magang di DPR RI. Ini juga menjadi mimpisaya sejak dulu. Rencana Allah ini tidak semua orang bisa dapatkan. Akhirnya saya terima,” terang Sabi.

Sebanyak 25.000 mahasiswa dari seluruh Indonesia ikut mendaftar untuk program ini. Dari jumlah tersebut, 250 orang dinyatakan lolos. Salah satunya adalah Sabi. Seleksi awalnya berupa portofolio berupa screening curriculum vita (CV).

Selain sedih, ketakutan juga sempat menghinggapi Sabi. Ia mesti berangkat ke Jakarta, sementara tidak ada yang dikenalnya di ibu kota negara itu. ”Walau ada teman dari Unhas yang juga lolos, tapi jujur saya tidak kenal dengan mereka. Apalagi mau berangkat ke Jakarta dan saya cewek,” imbuhnya.

Namun semua itu mampu diatasinya seiring dengan proses yang berlangsung. Dari bulan Agustus hingga Desember 2023 ia menjalani magang di DPR RI. Ia tinggal di rumah keluarganya yang ada di Jakarta. Sabi baru kembali usai magang pada 23 Desember lalu.

Sebenarnya, Sabi sempat berpikir untuk tidak ikut dalam program ini. Penyebabnya, ia tidak pernah mendiskusikan hal itu dengan ayahnya. Padahal sebelumnya, apa-apa yang hendak dilakukannya selalu mereka bicarakan berdua.
”Untuk kali ini tidak (didiskusikan). Karena kalau dibicarakan pasti dilarang. Maklum kekhawatiran orang tua, apalagi saya anak perempuan. Pas pengumuman lulus baru didiskusikan. Ayah sempat marah,” terang Sabi.

Pilihannya untuk tidak bicarakan di awal ketika baru mendaftar, karena Sabi masih pesimis bisa lolos. Karena ada banyak orang yang lebih berprestasi dari dirinya dan mendaftar melalui program tersebut. Sebagian menjabat sebagai ketua dan presidium BEM, Sementara Sabi merupakan Ketua Umum Himpunan Mahasiswa Politik (Himapol) FISIP Unhas.

Tapi rezeki tak akan ke mana. Ia dinyatakan lolos. Tinggal di rumah keluarga di Jakarta, Sabi pun masih dalam pemantauan ayahnya.
Ada banyak pengalaman yang diungkap Sabi. Salah satunya, ia bisa bertemu dengan anggota DPR RI yang selama ini menjadi idolnya. Dia adalah Dyah Roro Esti Widya Putri. Bagi Sabi, politikus wanita ini merupakan sosok wanita parlemen yang cantik, tangguh, serta pintar. Apalagi Dyah menyelesaikan kuliahnya di luar negeri.

”Terinspirasi karena banyak menyuarakan kebijakan khusus yang terkait perempuan. Begitu ketemu langsung pelukan. Saya bilang, saya fansnya mbak. Kalau teman-teman lain biasanya fansnya artis, kalau saya fansya politisi. Kami sempat bertukar kontak lalu saling balas status,” seru Sabi sambil tertawa.

Pengalaman lainnya adalah proses untuk bisa terpilih menjadi pimpinan sidang. Lobi-lobi politik mesti dilakukannya, yang ketua dan anggotanya merupakan peserta magang. Sabi yang duduk di Komisi Tiga membidangi hukum, HAM dan keamanan akhirnya terpilih untuk diusung bersama seorang peserta lain dari Universitas Padjajaran (Unpad). Cowok ini merupakan alumni Parleman Remaja (Parja) dan sudah punya pengalaman pernah ikut seleksi pimpinan ketika mengikuti program Praja.

”Sementara saya pernah jadi presidium sidang dan pegang palu sidang, tapi di kampus. Saya coba saja. Tidak apa-apa,” terang Sabi.

Masing-masing mengusung dua orang, sehingga ada 18 orang yang terpilih. Mereka selanjutnya menjalani seleksi oleh tim Pokja yang terdiri dari unsur Sekretariat Jenderal (Sekjan) DPR RI, khususnya Biro Persidangan.

Terpilih menjadi pimpinan sidang, Sabi kemudian menjalani rangkaian simulasi persidangan. Yang dibahas diantaranya tentang Rancangan Undang-Undang Perlindungan Data Pribadi dan KUHP.
Ia juga mengungkap apa yang mesti dilakukan ketika menjadi ketua sidang dan situasi ricuh.
”Kalau pimpian sidang di kampus caranya dengan mengetuk palu berkali-kali. Tapi kalau di DPR RI, diarahkan menertibkan forum dengan tidak mengetukkan palu berkali-kali,” jelas Sabi.
Ia juga menjelaskan tentang mic yang biasa mati ketika anggota dewan masih sementara berbicara.
”Jadi, banyak yang salah kaprah kalau yang itu (mic mati). Itu mic masing-masing ada timernya. Tidak ada unsur kesengajaan untuk mematikannya. Kalau anggota dewan yang berbicara durasinya tiga menit. Kalau jubir lima menit,” terangnya.

Selama magang dan menyaksikan rapat-rapat di gedung dewan, Sabi melihat bahwa mereka yang ada di komisi tiga tempatnya magang, asli memiliki kompetensinya masing-masing. Dia pun terinspirasi dari caranya berbicara. Apalagi berbasis data yang dilengkapi dengan naskah akademik.

Ketertarikan Sabi di dunia politik bukan saja ketika dirinya duduk di bangku kuliah. Aktif di organisasi intra kampus, ia bergabung ke himpunan hingga UKM Seni Tari. Masuk Unhas pun ia melalui jalur ketua OSIS. Sabi pernah menjabat sebagai ketua OSIS di SMK 8 Makassar. Termasuk menjadi ketua untuk ekskul dance di sekolahnya ketika itu.

”Saya tertarik politik sejak SMP. Waktu itu setiap ada mobil pejabat lewat dikawal polisi. Saya bilang, enak nih siapa yang lewat. Mobil yang ada di tengah jalan saat macet, langsung minggir. Saya cerita ke ayah. Beliau bilang, itu pejabat nak. Ada bupati, wali kota, juga anggota dewan. Mauka juga seperti itu. Ayahku spontan bilang masukmi politik,” terang Sabi.

Sejak saat itu ia pun rajin menonton berita di televisi. Karena banyak pejabat publik yang selalu muncul. Di benaknya muncul pikiran bahwa bukan hanya artis yang bisa masuk televisi, tapi juga pejabat.

Masuk SMK 8 Makassar karena dekat dengan rumahnya. Ia melalui jalur zonasi. Mengambil jurusan Administrasi Perkantoran.
Karena itu, ketika di bangku kuliah ia aktif berorganisasi. Bertemu dengan orang-orang yang kritis serta senior. Dunia politik kampus pun telah dijalaninya. (*/rus)

Exit mobile version