MAKASSAR, BKM — Pemerintah Kota Makassar bersiap mengikuti proses verifikasi untuk meraih piala Adipura.Saat ini, tim verifikator sudah berada di Makassar dan akan melakukan penilaian di empat daerah di Sulsel yakni Wajo, Sinjai, Jeneponto, termasuk Makassar.
Tahun ini, Pemkot Makassar bertekad untuk merebut piala Adipura. Berbagai upaya sudah dilakukan, termasuk memenuhi semua indikator penilaian yang dipersyaratkan.
Plt Kepala Dinas Lingkungan Hidup Makassar, Ferdy Mochtar mengatakan, secara keseluruhan, pihaknya bersama sejumlah stakeholder terkait sudah maksimal melakukan kerja-kerja untuk meraih piala bergengsi tersebut.
Ada 16 indikator penting yang menjadi penilaian. Mulai dari pemenuhan indikator terhadap pasar, sekolah, taman, hutan kota, shelter terbuka, kampung iklim, bank sampah unit maupun induk, penataan kawasan permukiman dan pertokoan serta indikator lainnya.
Yang tak kalah pentingnya, kata mantan Sekretaris Dinas Ketahanan Pangan Kota Makassar itu, adalah memenuhi indikator penilaian terhadap Tempat Pembuangan Akhir (TPA) yang berlokasi di Tamangapa, Kecamatan Manggala.
Dia mengatakan, poin penilaian dengan bobot tertinggi ada di TPA. Jika TPA berhasil meraih bobot 71 poin, dipastikan Makassar bisa meraih Piala Adipura.
“Kalau TPA sudah dapat 71 poin, kita sudah dapat Piala Adipura. Di bawahnya itu, hanya plakat atau sertifikat. Kalau sertifikat poinnya 68,” ungkap Ferdy saat diwawancarai, Selasa (30/1).
Agar TPA Tamangapa bisa meraih poin yang tinggi, berbagai upaya telah dilakukan.
Bahkan lelaki lulusan luar negeri tersebut mengaku rela berkantor berhari-hari di sana.
“Kita sudah melakukan penataan. Berbagai upaya dikerjakan. Mulai penataan rumah kompos, saluran drainase, saluran lindih yang mengarah langsung ke kolam filterisasi, sistem kontrol landfill. Pemetaan lokasi pembuangan sampah yang aktif dan tidak aktif, dan masih banyak lagi,” jelas Ferdy.
Lebih jauh dikemukakan, pihaknya juga sudah melakukan penutupan area tempat pembuangan sampah pada zona tidak aktif dengan menggunakan 500 truk tanah.
Selain itu, akses jalan masuk ke lokasi TPA juga sudah diperbaiki sejak tahun lalu. Sebelumnya, untuk masuk ke kawasan tersebut, armada sampah sangat kesulitan sehingga sampah dibuang di sekitar pintu masuk saja.
Akibatnya, gunungan sampah semakin meninggi dan dikhawatirkan bisa longsor setiap saat, apalagi saat musim hujan.
“Tapi Alhamdulillah itu sudah kita benahi. Akses jalan sekitar 100 meter sudah terbuka sehingga armada sampah bisa masuk hingga ke dalam.
Bekerja sama dengan Dinas Pemadam Kebakaran, pihaknya juga rutin menyemprotkan eco enzim ke sampah yang menumpuk di Tamangapa. Tujuannya untuk mengurangi bau busuk yang menyengat.
Hal lain yang juga menjadi perhatian adalah penertiban hewan ternak yang masuk ke kawasan TPA untuk mencari makan.
“Kita sudah bikin pagar. Selain itu kerjasama dengan lurah, camat, dan tokoh masyarakat setempat untuk menginformasikan ke pemilik ternak untuk tidak membawa sapi mereka ke TPA. Alhamdulillah sudah berkurang ternak di TPA. Sebelumnya bisa sampai 1000 ekor sapi per hari. Ini juga menjadi salah satu penilaian penting,” ungkapnya.
Ferdy mengaku perubahan signifikan sudah dilakukan pada TPA Tamangapa.
Bahkan, karena penataanya sudah sangat bagus, masyarakat sudah ada yang ke sana untuk berfoto-foto selfie. (rhm).
