BULUKUMBA, BKM — Bupati Bulukumba Andi Muchtar Ali Yusuf dan Wabup Andi Edy Manaf bersama Sekkab dan jajaran OPD bersafari ramadan di Kecamatan Kajang. Hadir Ketua PN Bulukumba, Ernawaty dan anggota DPRD Bulukumba Musa Lirpa, Selasa (19/3).
Safari Ramadan di Kecamatan Kajang dilaksanakan di lokasi Pelabuhan Lembang Keke yang baru saja selesai pembangunannya tahun 2023 yang lalu. Usai melaksanakan tarwih di Mushalla pelabuhan, acara dilanjutkan dengan sesi dialog bersama dengan camat, para kepala desa dan tokoh masyarakat Kajang.
Dalam pengantarnya Sekkab Ali Saleng menyebutkan sesi dialog tersebut sebagai bentuk keterbukaan bapak bupati kepada masyarakat dalam mengawal pembangunan, salah satunya dengan mendapatkan masukan dari masyarakat untuk perbaikan ke depan sehingga manfaatnya lebih besar.
Pelabuhan Lembang Keke adalah lokasi yang terbaik karena letak geografisnya yang terlindungi meski musim barat. Begitu pula dari sisi kedalamannya sangat bagus karena tidak mengalami pendangkalan.
“Pelabuhan ini harus dimaksimalkan pemanfaatannya. Banyak kegiatan usaha ekonomi lainnya yang bisa dilakukan di sini untuk mendukung aktifitas pelabuhan,” ungkap Ali Saleng
Meski pelabuhannya sudah jadi, namun masih ada pekerjaan pendukung yang harus diselesaikan yaitu jalur menuju pelabuhan yang panjangnya sekitar 300 meter dengan lebar 15 meter. Andi Utta menceritakan kondisi di awal pemerintahannya yang saat itu masih harus berkutat menangani pandemi Covid-19. Makanya banyak anggaran saat itu mengalami refocusing.
“Meski anggaran terbatas tapi saya berupaya terus memaksimalkan apa yang bisa dikerjakan sehingga dalam tiga tahun ini beberapa capaian pembangunan bisa kita wujudkan,” ungkapnya.
Untuk usaha sektor perikanan dan UMKM, Andi Utta mengajak warga untuk mengakses Kredit Usaha Rakyat (KUR) di beberapa bank yang tersedia. Menurutnya bunga KUR saat ini sangat ringan, hanya tiga persen tanpa agunan.
“Dulu KUR bunga 6 persen, sekarang sisa 3 persen demi mendukung pertumbuhan ekonomi masyarakat. Perbandingan dengan kredit umum itu sebesar 12 persen,” kata Andi Utta.
Berdasarkan pengalamannya di sektor kelautan perikanan selama puluhan tahun, Andi Utta mengaku salah satu kendala sektor perikanan di Indonesia tidak berkembang karena akses permodalan.
“Nelayan kita selama ini susah mendapat akses modal usaha karena persyaratan bank harus ada agunan. Nah ini biasanya yang susah dipenuhi nelayan kita. Makanya saya terus minta agar akses modal untuk nelayan dipermudah,” jelasnya. (rls)

