MAKASSAR, BKM — Hubungan Partai Persatuan Pembangunan (PPP) dengan bakal calon gubernur Sulsel yang juga Kepala Badan Pemelihara Keamanan (Kabaharkam) Polri Komjen Pol Dr H Mohammad Fadil Imran, kian mesra. Hal itu nampak dari pertemuan antara Wakil Ketua Umum DPP PPP Dr HM Amir Uskara bersama Ketua Dewan Pimpinan Wilayah (DPW) PPP Sulsel Imam Fauzan dengan Fadil Imran di kediamannya, Jumat (19/4).
Informasi yang diperoleh koran ini, kunjungan silaturahmi di Jakarta itu dilakukan Amir Uskara dan Imam Fauzan sambil membahas tentang Kabupaten Gowa ke depannya. Perihal kontestasi pemilihan gubernur (Pilgub) Sulsel, PPP terbuka kepada ke seluruh calon, termasuk Fadil Imran.
Imam Fauzan yang dikonfirmasi terkait salah satu isi pertemuan tersebut apakah sempat membicarakan soal Pilgub Sulsel, tidak menampiknya. “Tidak bisa dipungkiri pembahasan tentang dinamika politik di Sulawesi Selatan pasti menjadi perbincangan hangat. Bukan hanya tentang Pilgub dan Pilbup Gowa. Termasuk daerah-daerah lain, bahkan tentang perkembangan Sulsel hari ini,” ujar Imam Fauzan, kemarin.
Meski demikian, Imam menegaskan bahwa sampai hari ini belum ada keputusan tentang calon PPP, baik untuk posisi Cagub maupun Cabup/Cawalkot. Kecuali untuk Gowa, Amir Uskara yang diusung.
Terkait kesiapan Wakil Ketua Umum Dewan Pimpinan Pusat (DPP) PPP itu untuk maju di Pilbup Gowa, Imam yang juga Ketua Fraksi PPP DPRD Sulsel mengaku sudah sangat siap. “Insyaallah Amir Uskara maju di Pilbup Gowa. Partai dan kader 100 persen mendukung,” tegasnya.
Sebelumnya, Amir Uskara sudah berulang kali melakukan pertemuan dengan Fadil Imran yang pernah menjadi Kapolda Metro DKI Jakarta itu. Hasil Pileg 14 Februari lalu, PPP meloloskan delapan kadernya ke DPRD Sulsel dan berhak menempati posisi wakil ketua III. Adapun di Gowa, PPP meloloskan 12 kadernya sehingga berhak menempati posisi ketua DPRD Gowa.
Selain Fadil Imran, nama lain yang mencuat maju di Pilgub Sulsel yakni Andi Sudirman Sulaiman (ASS), Wali Kota Makassar Mohammad Ramdhan Pomanto, Bupati Gowa Adnan Purichta Ichsan, mantan Wali Kota Makassar Ilham Arief Sirajuddin (IAS), Ketua DPD I Golkar Sulsel Taufan Pawe (TP), Ketua DPD Gerindra Sulsel Andi Iwan Darmawan Aras (AIA), Bupati Luwu Utara Indah Putri Indriani, mantan Pangdam XIV Hasanuddin Andi Muhammad Bau Sawa Mappanyukki serta Ketua DPD Demokrat Sulsel Nimatullah Erbe.
Kekuatan Seimbang
Pengamat politik dari Unhas Dr Ali Armunanto mengatakan, Pilgub Sulsel serta Pilkada serentak tidak menonjolkan figur yang sangat dominan seperti Nurdin Abdullah pada tahun 2018. Ali Armunanto menilai bahwa di Pilgub Sulsel kali ini, tokoh-tokoh seperti Rusdi Masse, Danny Pomanto, Adnan Purichta Ichsan, Ilham Arief Sirajuddin, dan Andi Sudirman Sulaiman memiliki kekuatan yang hampir seimbang.
Menurutnya, strategi pemilihan pasangan calon (wakil gubernur) akan menjadi faktor penentu dalam Pilgub. Ali Armunanto menyatakan bahwa Nasdem memiliki keuntungan sebagai partai pemenang Pileg (DPRD Sulsel) 2024, karena tidak perlu berkoalisi untuk mengusung cagub.
Hal inilah yang kemudian membuat Nasdem menjadi incaran banyak calon lainnya. Skenario yang mungkin terjadi adalah Nasdem mengusung kader internalnya atau memilih tokoh lain.
Sementara Golkar dan Gerindra, meskipun hanya memiliki 14 dan 13 kursi dari hasil Pileg, tetap memiliki peluang besar karena hanya membutuhkan koalisi kecil untuk mengusung calonnya sendiri.
Tokoh-tokoh dari Golkar dan Gerindra, seperti Taufan Pawe serta Nurdin Halid dari Golkar, dan Iwan Darmawan Aras dari Gerindra tidak sepopuler dengan tokoh-tokoh lain seperti Danny Pomanto, Adnan, IAS, dan ASS.
”PDIP, meskipun memiliki figur seperti Danny, masih menghadapi tantangan karena hanya memiliki enam kursi hasil Pileg dan membutuhkan tambahan 12 kursi untuk mengusung calon. Hal ini membuatnya sulit untuk mencari koalisi yang cocok,” jelas Ali Armunanto.
Jika PDIP ingin mengusung calon, lanjutnya, kemungkinan harus mencari koalisi dengan PKB, PPP, PKS, atau partai lain yang memiliki posisi yang sebanding. Namun, akan sulit jika PDIP tetap mempertahankan opsi 01 sementara bermitra dengan Nasdem, Golkar, atau Gerindra.
Menurut Ali Armunanto, Nasdem sebagai partai yang paling leluasa dan dapat mengendalikan situasi dengan posisinya sebagai pemenang Pileg, sehingga memiliki keleluasaan untuk mengusung calon sendiri. Selain itu, Nasdem juga memiliki banyak tokoh yang potensial untuk diusung. Jika Nasdem mengincar kursi 02, terdapat nama-nama seperti Syaharuddin Alrif, Fatmawati Rusdi, Andi Rachmatika Dewi, dan Basming Mattayang. (jun/rif)
